Rayakan Usia 35 Tahun, dr. Tirta Putuskan Tinggalkan X dan Threads, Ini Alasan di Baliknya

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 14:54 WIB
dr. Tirta memutuskan untuk hiatus dari X dan Threads untuk mengurangi sifat impulsif dan membatasi screen time. (Radar Malioboro)
dr. Tirta memutuskan untuk hiatus dari X dan Threads untuk mengurangi sifat impulsif dan membatasi screen time. (Radar Malioboro)

RADARBANYUWANGI.ID - Popularitas dr. Tirta sebagai dokter sekaligus kreator konten terus meningkat sejak pandemi COVID-19. Gaya penyampaian yang santai, lugas, dan dibalut humor membuat berbagai kontennya di media sosial mendapat perhatian luas dari masyarakat.

Di tengah popularitas tersebut, dr. Tirta justru mengambil keputusan yang cukup mengejutkan. Melalui unggahan di Instagram pada Rabu (29/7/2026), pria asal Solo itu mengumumkan akan menghentikan sementara aktivitasnya di platform X dan Threads.

Keputusan itu diambil sebagai upaya mengurangi sifat impulsif yang menurutnya mulai muncul akibat terlalu sering berinteraksi di media sosial. Ia juga ingin memperoleh ketenangan setelah selama ini dikenal aktif memberikan tanggapan terhadap berbagai isu yang berkembang.

"Mulai kemarin sudah komit mengurangi waktu di media sosial. Mulai dari hiatus bermain X dan Threads, agar mengurangi sifat impulsive dan lebih damai," tulis dr. Tirta dalam unggahannya.

Selain faktor emosional, ia mengakui durasi penggunaan media sosial yang tinggi telah menyita banyak waktunya. Kondisi tersebut membuatnya merasa kehilangan kesempatan berkumpul bersama keluarga, anak-anak, dan teman-teman.

Keputusan tersebut sekaligus menjadi hadiah untuk dirinya menjelang ulang tahun ke-35. Ia berharap dapat menikmati lebih banyak waktu bersama orang-orang terdekat serta menjalani hidup dengan lebih tenang.

Meski menghentikan aktivitas di X dan Threads, dr. Tirta menegaskan dirinya tidak sepenuhnya meninggalkan dunia digital. Ia masih akan menggunakan Instagram dan TikTok, tetapi dengan batas maksimal screen time sekitar tiga jam setiap hari. Sementara itu, pengelolaan akun YouTube dan Facebook akan sepenuhnya diserahkan kepada tim administrasi.

Ia bahkan membuka kemungkinan untuk menonaktifkan salah satu akun media sosial lainnya apabila dirasa masih mengganggu keseimbangan hidup. Selama masa hiatus, dr. Tirta berencana lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga, melakukan perjalanan, serta mempertimbangkan untuk kembali melanjutkan pendidikan.

Keputusan dr. Tirta membatasi penggunaan media sosial sejalan dengan berbagai imbauan tenaga kesehatan mengenai pentingnya mengendalikan screen time.

Mengutip informasi dari RS Roemani Muhammadiyah Semarang, screen time merupakan durasi seseorang menatap layar digital, baik melalui telepon genggam, komputer, laptop, maupun televisi. Di era digital, aktivitas bekerja, belajar hingga mencari hiburan membuat paparan layar semakin sulit dihindari.

Namun, penggunaan layar yang berlangsung terlalu lama dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, baik pada mata maupun kondisi fisik secara umum. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengingatkan penggunaan perangkat digital dalam waktu panjang berpotensi meningkatkan risiko digital eye strain, mata kering, hingga miopia atau rabun jauh.

Mata menjadi organ yang paling cepat merasakan dampaknya. Gejala yang sering muncul antara lain mata terasa kering, gatal, berair, penglihatan kabur, hingga sakit kepala akibat kelelahan mata digital. Bila dibiarkan tanpa penanganan, mata kering bahkan dapat berkembang menjadi peradangan hingga kerusakan pada permukaan mata.

Tidak hanya itu, kebiasaan menatap layar dalam posisi membungkuk juga meningkatkan risiko gangguan muskuloskeletal berupa nyeri leher, bahu, dan punggung. Aktivitas yang minim gerak selama menggunakan gadget turut meningkatkan risiko obesitas serta menurunkan konsentrasi dan produktivitas.

Untuk meminimalkan dampak negatif penggunaan layar digital, masyarakat dianjurkan menerapkan sejumlah langkah sederhana dalam aktivitas sehari-hari.

Salah satunya adalah menerapkan aturan 20-20-20, yaitu setiap 20 menit menatap layar, mengalihkan pandangan ke objek sejauh sekitar enam meter selama 20 detik agar mata dapat beristirahat.

Selain itu, posisi layar sebaiknya berada sejajar dengan mata dengan jarak sekitar 50 hingga 70 sentimeter. Pencahayaan ruangan juga perlu diatur agar tidak terlalu terang maupun terlalu redup.

Penggunaan gadget setidaknya satu jam sebelum tidur juga sebaiknya dihindari karena cahaya dari layar dapat mengganggu produksi hormon melatonin yang berperan dalam kualitas tidur.

Konsumsi makanan yang mengandung vitamin A, C, E, dan omega-3, memperbanyak frekuensi berkedip saat bekerja di depan layar, serta menggunakan tetes mata apabila diperlukan juga dapat membantu menjaga kesehatan mata.

Apabila muncul keluhan seperti mata cepat lelah, perih, sering berair, penglihatan kabur, atau sakit kepala setelah menatap layar dalam waktu lama, pemeriksaan ke dokter mata sebaiknya segera dilakukan agar gangguan tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : RS Roemani Muhammadiyah Semarang
dr Tirta