Riset Terbaru Ungkap Jalur Biologis Obesitas Memicu Alzheimer, Ilmuwan Temukan Target Baru untuk Mencegah Kerusakan Otak Lebih Awal

Khanza Tania Amelia Setiawan • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 19:23 WIB
Riset terbaru mengungkap obesitas dapat memicu Alzheimer. (Pexels/Moe Magners)
Riset terbaru mengungkap obesitas dapat memicu Alzheimer. (Pexels/Moe Magners)

RADARBANYUWANGI.ID - Hubungan antara obesitas dan meningkatnya risiko gangguan fungsi otak telah lama diketahui. Namun, mekanisme biologis yang menjelaskan bagaimana gangguan metabolisme akibat obesitas memicu kerusakan otak masih menjadi pertanyaan di kalangan ilmuwan.

Jawaban atas teka-teki tersebut mulai terungkap melalui riset terbaru yang dipublikasikan portal sains ScienceDaily pada 30 Juli 2026. Tim peneliti dari Houston Methodist berhasil mengidentifikasi jalur biologis yang menghubungkan obesitas dengan percepatan terbentuknya plak protein penyebab penyakit Alzheimer.

Penelitian yang dipimpin Prof. Stephen T. C. Wong bersama Dr. Li Yang dari T.T. and W.F. Chao Center for BRAIN menemukan bahwa obesitas menyebabkan ketidakseimbangan molekul lemak phosphatidylethanolamine (PE).

Dalam kondisi tersebut, molekul lemak PE berlebih dibawa menuju otak melalui vesikel ekstraseluler. Proses ini mengganggu fungsi sel mikroglia, yakni sel imun yang berperan menjaga kesehatan jaringan otak.

Akibat terganggunya sistem pertahanan tersebut, plak protein amyloid-beta lebih mudah menumpuk di jaringan otak. Penumpukan protein inilah yang selama ini dikenal sebagai salah satu penanda utama berkembangnya penyakit Alzheimer.

Prof. Stephen T. C. Wong menjelaskan, temuan tersebut menunjukkan bahwa obesitas tidak hanya berdampak terhadap metabolisme tubuh, tetapi juga mengubah mekanisme komunikasi kimia yang berlangsung hingga ke otak.

"Obesitas dapat mengubah bagaimana sinyal-sinyal kimiawi merambat dan mengalir ke otak. Kabar baiknya adalah hal ini mungkin sesuatu yang bisa kita obati. Daripada memandang risiko Alzheimer akibat obesitas hanya sebagai masalah metabolisme biasa, penelitian ini menunjukkan bahwa kita mungkin dapat menargetkan proses spesifik yang menghubungkan perubahan metabolisme tersebut langsung ke dalam otak," ujar Prof. Stephen T. C. Wong.

Tim peneliti kemudian menguji temuan tersebut melalui eksperimen laboratorium menggunakan model hewan. Hasilnya menunjukkan bahwa ketika ketidakseimbangan molekul lemak PE berhasil dikoreksi, fungsi memori maupun kemampuan kognitif mengalami peningkatan yang signifikan.

Temuan ini memberi harapan baru dalam upaya pencegahan penyakit neurodegeneratif. Alih-alih hanya mengendalikan berat badan, terapi di masa mendatang berpotensi menargetkan langsung molekul lemak PE sebagai penghubung antara gangguan metabolisme dan kerusakan otak.

Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Molecular Neurodegeneration. Para ilmuwan menilai pendekatan ini berpeluang menjadi strategi intervensi dini bagi individu yang memiliki risiko tinggi mengalami Alzheimer, sehingga kerusakan fungsi kognitif dapat dicegah sebelum berkembang menjadi permanen.

Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa temuan tersebut masih berada pada tahap penelitian dasar. Diperlukan uji klinis lebih lanjut pada manusia untuk memastikan efektivitas dan keamanan pendekatan terapi yang menargetkan molekul lemak PE sebelum dapat diterapkan dalam praktik medis.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : ScienceDaily
obesitas