RADAR BANYUWANGI — Ketika serangan stroke akibat aneurisma terjadi, waktu bukan sekadar angka di jam. Setiap menit menjadi pertaruhan bagi sel-sel otak yang berisiko mengalami kerusakan permanen. Prinsip time is brain itulah yang mendorong RSUD Blambangan Banyuwangi terus mengembangkan layanan neurointervensi agar pasien tidak selalu harus dirujuk ke luar daerah untuk mendapatkan penanganan.
Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Proctorship Coiling Aneurisma bersama tim pendamping dari RSUD Dr Soetomo Surabaya. Kegiatan ini menjadi bagian dari proses pengembangan layanan stroke sekaligus penguatan kemampuan Tim Blambangan Endovascular and Neurointervention (BENVI).
Dalam kegiatan tersebut, tim RSUD Blambangan mendapatkan pendampingan dan transfer ilmu secara langsung dari tim proktor RSUD Dr Soetomo. Sebanyak dua pasien juga telah menjalani tindakan Coiling Aneurisma Serebri dengan pendampingan langsung dari tim proktor.
Kegiatan ini menjadi langkah penting dalam pengembangan layanan neurointervensi di Banyuwangi. Sebab, selama ini sebagian pasien dengan kondisi yang membutuhkan tindakan neurointervensi masih harus mendapatkan rujukan ke rumah sakit di luar daerah.
Padahal, pada kasus stroke akibat aneurisma, waktu menjadi faktor yang sangat menentukan. Semakin cepat pasien mendapatkan diagnosis dan penanganan yang sesuai, semakin besar pula peluang untuk menekan risiko kerusakan otak yang lebih berat.
Perkuat Kemampuan Tim BENVI
Proctorship Coiling Aneurisma tidak hanya berfokus pada tindakan medis terhadap pasien. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang pembelajaran dan penguatan kompetensi bagi tenaga medis RSUD Blambangan.
Melalui pendampingan tim RSUD Dr Soetomo Surabaya, Tim BENVI mendapatkan kesempatan memperdalam kemampuan dalam layanan endovaskular dan neurointervensi.
Program tersebut merupakan bagian dari pengampuan layanan stroke nasional yang diinisiasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Dalam program tersebut, RSUD Dr Soetomo Surabaya berperan sebagai rumah sakit pengampu layanan stroke di Jawa Timur.
Transfer pengetahuan dan pengalaman melalui kegiatan proctorship diharapkan dapat memperkuat kesiapan RSUD Blambangan dalam mengembangkan layanan neurointervensi secara bertahap.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperluas akses pelayanan stroke bagi masyarakat Banyuwangi dan daerah sekitar.
Dua Pasien Jalani Coiling Aneurisma
Salah satu momen penting dalam kegiatan tersebut adalah pelaksanaan tindakan Coiling Aneurisma Serebri terhadap dua pasien.
Tindakan dilakukan dengan pendampingan langsung dari tim proktor RSUD Dr Soetomo. Pelaksanaan tindakan tersebut menjadi bagian dari proses penguatan kapasitas layanan sekaligus pengalaman klinis bagi tim RSUD Blambangan.
Coiling aneurisma merupakan salah satu tindakan neurointervensi yang dilakukan untuk menangani aneurisma pada pembuluh darah otak. Dengan pendekatan melalui pembuluh darah, tindakan ini menjadi salah satu pilihan dalam penanganan kondisi tertentu sesuai dengan hasil pemeriksaan dan pertimbangan medis pasien.
Keberhasilan pelaksanaan tindakan dengan pendampingan tersebut diharapkan menjadi pijakan awal bagi pengembangan layanan neurointervensi di Banyuwangi.
Harapannya, ke depan semakin banyak masyarakat yang dapat memperoleh akses pelayanan stroke secara lebih dekat. Dengan demikian, pasien yang membutuhkan penanganan neurointervensi tidak harus selalu menjalani proses rujukan ke luar daerah.
RSUD Blambangan Dorong Layanan Semakin Dekat
Plt Direktur RSUD Blambangan, dr Asiyah, mengatakan pihaknya akan terus berupaya mengembangkan pelayanan kesehatan agar masyarakat Banyuwangi dan sekitarnya semakin mudah mendapatkan layanan yang dibutuhkan.
Pengembangan layanan neurointervensi menjadi salah satu bagian dari upaya tersebut. Menurutnya, setiap langkah yang dibangun saat ini diharapkan dapat menghadirkan akses pelayanan kesehatan yang lebih dekat bagi masyarakat pada masa mendatang.
Upaya penguatan layanan juga tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan fasilitas. Peningkatan kompetensi sumber daya manusia medis menjadi bagian penting agar pelayanan dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Dengan adanya penguatan fasilitas dan sumber daya manusia medis, masyarakat diharapkan memiliki lebih banyak pilihan akses layanan kesehatan di daerah sendiri.
Langkah tersebut sejalan dengan komitmen Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani untuk memperkuat pelayanan kesehatan sehingga masyarakat tidak harus selalu dirujuk ke luar daerah ketika membutuhkan layanan medis tertentu.
Proctorship Coiling Aneurisma bersama RSUD Dr Soetomo pun menjadi salah satu tahapan penting dalam perjalanan pengembangan layanan neurointervensi RSUD Blambangan.
Dari dua pasien yang menjalani tindakan hingga transfer ilmu kepada Tim BENVI, ikhtiar tersebut diharapkan menjadi awal dari layanan yang semakin kuat dan mandiri.
Sebab, dalam penanganan stroke, kedekatan akses bukan hanya soal jarak. Ketika prinsip time is brain menjadi pertaruhan, semakin cepat pasien mendapatkan layanan yang tepat, semakin besar pula harapan untuk menyelamatkan fungsi otak dan meningkatkan peluang pemulihan. (*)
Editor : Ali Sodiqin