RADARBANYUWANGI.ID - Belakangan ini, media sosial diramaikan dengan narasi yang menyebut konsumsi makanan pedas seperti seblak, mi instan pedas, bakso aci, hingga cireng dapat memicu munculnya kista ovarium pada perempuan. Informasi tersebut kemudian menimbulkan kekhawatiran, terutama di kalangan perempuan yang gemar mengonsumsi makanan bercita rasa pedas.
Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Makanan pedas bukan penyebab langsung terbentuknya kista ovarium. Yang perlu menjadi perhatian adalah pola makan yang tidak sehat dan dilakukan secara terus-menerus.
Dokter umum NK Health, dr. Lutfi Karimah, menjelaskan bahwa konsumsi seblak maupun makanan pedas lainnya tidak dapat langsung dikategorikan sebagai penyebab utama kista ovarium.
Menurutnya, risiko justru meningkat apabila seseorang memiliki pola makan yang tidak seimbang, seperti terlalu banyak mengonsumsi makanan tinggi gula, rendah serat, dan kurang memenuhi kebutuhan gizi harian. Kondisi tersebut dapat memengaruhi keseimbangan hormon, termasuk hormon reproduksi wanita.
"Ketidakseimbangan hormon ini dapat meningkatkan risiko terjadinya kista ovarium," ujarnya.
Lutfi menambahkan, makanan seperti seblak, mi pedas, cireng, maupun jajanan pedas lainnya masih dapat dikonsumsi selama tidak berlebihan dan tetap diimbangi dengan asupan bergizi.
Ia menegaskan, tidak ada bukti bahwa satu jenis makanan tertentu secara langsung menyebabkan kista ovarium. Namun, kebiasaan mengonsumsi makanan kurang sehat tanpa kontrol dalam jangka panjang dapat berdampak pada kondisi kesehatan secara keseluruhan, termasuk kesehatan reproduksi.
Perhatian khusus perlu diberikan kepada perempuan yang memiliki riwayat Polycystic Ovary Syndrome (PCOS). Pada kelompok ini, konsumsi makanan tinggi kalori, gula, dan rendah gizi secara berlebihan dapat memperburuk kondisi hormonal sehingga berpotensi meningkatkan gangguan pada ovarium.
Karena itu, menjaga pola makan sehat menjadi langkah penting untuk menekan berbagai risiko penyakit. Asupan gizi seimbang, memperbanyak konsumsi buah dan sayur, rutin berolahraga, serta menjaga berat badan ideal merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan reproduksi.
Lutfi juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi kesehatan yang beredar di media sosial tanpa memastikan sumbernya. Jika mengalami keluhan yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi, perempuan disarankan segera berkonsultasi dengan tenaga medis agar memperoleh diagnosis dan penanganan yang tepat.
"Kita perlu menjaga pola makan yang sehat dan seimbang, serta berkonsultasi pada dokter jika ada keluhan terkait kesehatan reproduksi wanita," pungkasnya.
Editor : Lugas Rumpakaadi