RADARBANYUWANGI.ID - Program pembagian Tablet Tambah Darah (TTD) kepada remaja putri di sekolah terus digencarkan pemerintah sebagai upaya menekan angka anemia sekaligus mencegah stunting pada generasi mendatang. Namun, pelaksanaannya di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan.
Tidak sedikit tablet zat besi yang dibagikan di sekolah justru berakhir tersimpan di dalam tas, laci meja belajar, bahkan dibuang. Kondisi tersebut menunjukkan kepatuhan konsumsi TTD di kalangan remaja putri masih perlu ditingkatkan.
Dua faktor utama menjadi penyebab rendahnya konsumsi TTD, yakni minimnya pemahaman mengenai manfaat jangka panjang serta faktor sensorik berupa rasa pahit dan aroma amis yang membuat sebagian remaja merasa mual saat mengonsumsinya.
Berdasarkan data Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, mayoritas remaja putri masih menganggap Tablet Tambah Darah sebagai obat yang hanya perlu diminum ketika tubuh terasa lemas atau sedang sakit. Padahal, TTD merupakan suplemen yang berfungsi mencegah anemia akibat kehilangan darah secara rutin saat menstruasi.
Salah seorang siswi SMK di Banyuwangi, Mayang Dwi Febrianti, 17, mengaku jarang mengonsumsi Tablet Tambah Darah yang dibagikan di sekolah. Selain tidak merasa mengalami gejala anemia, ia juga kurang nyaman dengan aroma dan efek setelah meminumnya.
"Warnanya pekat dan baunya lumayan amis, jadi suka bikin mual kalau diminum. Lagian saya pikir kalau tidak pusing, berarti tidak perlu minum," ujarnya.
Pandangan tersebut masih banyak ditemui di kalangan remaja. Padahal, anemia tidak selalu menimbulkan gejala yang langsung disadari. Jika tidak dicegah sejak dini, kondisi tersebut dapat menurunkan konsentrasi belajar, mengganggu daya tahan tubuh, hingga meningkatkan risiko melahirkan bayi dengan stunting ketika memasuki usia dewasa.
Dalam petunjuk teknis Kementerian Kesehatan RI yang diarahkan oleh Pelaksana Tugas Direktur Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak, dr. Lovely Daisy, MKM, dijelaskan bahwa gejala anemia pada remaja putri umumnya dikenal dengan istilah 5L, yakni lesu, letih, lemah, lelah, dan lalai. Apabila tidak ditangani, anemia dapat berdampak terhadap prestasi belajar sekaligus kesehatan ibu dan anak pada masa mendatang.
Untuk mengurangi keluhan seperti rasa mual maupun aroma yang kurang nyaman, Kementerian Kesehatan menganjurkan Tablet Tambah Darah dikonsumsi setelah makan malam atau sebelum tidur. Cara tersebut dinilai dapat membantu mengurangi efek samping yang dirasakan sebagian remaja.
Selain itu, konsumsi TTD disarankan menggunakan air putih atau jus jeruk yang kaya vitamin C agar penyerapan zat besi berlangsung lebih optimal. Sebaliknya, tablet sebaiknya tidak diminum bersamaan dengan teh, kopi, maupun susu karena minuman tersebut dapat menghambat penyerapan zat besi di dalam tubuh.
Editor : Lugas Rumpakaadi