Bahaya Minuman Manis, Konsumsi Berlebihan Tingkatkan Risiko Diabetes hingga Penyakit Jantung

Desila Aini Hidayah • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 15:17 WIB
Konsumsi minuman manis secara berlebihan dapat meningkatkan risiko penyakit. (Pexels/alleksana)
Konsumsi minuman manis secara berlebihan dapat meningkatkan risiko penyakit. (Pexels/alleksana)

RADARBANYUWANGI.ID - Minuman manis telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Es teh, minuman kemasan, soda, kopi susu kekinian, hingga minuman boba kerap dipilih untuk melepas dahaga maupun menemani aktivitas sehari-hari.

Di balik rasanya yang manis dan menyegarkan, kebiasaan mengonsumsi minuman tinggi gula secara berlebihan ternyata menyimpan berbagai risiko bagi kesehatan. Kandungan gula yang tinggi dapat meningkatkan asupan kalori tanpa memberikan rasa kenyang yang bertahan lama.

Akibatnya, seseorang cenderung tetap mengonsumsi makanan dalam jumlah banyak meski telah memperoleh kalori tinggi dari minuman. Kondisi tersebut dapat memicu kenaikan berat badan hingga berujung pada obesitas.

Dokter Irene Cindy Sunur melalui Alodokter menjelaskan bahwa minuman manis merupakan minuman yang mengandung tambahan pemanis, baik berupa gula, sirop, madu, konsentrat buah, maupun pemanis buatan. Contohnya antara lain minuman bersoda, jus buah, minuman kemasan, dan minuman boba.

Selain tinggi kandungan gula, sebagian besar minuman tersebut hanya memiliki sedikit nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Bahkan, jus buah murni dinilai tidak lebih sehat dibandingkan buah utuh karena kandungan seratnya jauh lebih rendah, sedangkan kadar gulanya tetap tinggi.

Konsumsi gula secara berlebihan telah lama dikaitkan dengan peningkatan risiko berbagai penyakit kronis. Penelitian bahkan menunjukkan bahwa konsumsi dua hingga enam gelas minuman manis setiap pekan dapat meningkatkan risiko kematian sebesar enam persen. Sementara itu, konsumsi satu hingga dua gelas setiap hari dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian hingga 14 persen.

Salah satu dampak yang paling umum adalah obesitas. Saat asupan kalori lebih besar dibandingkan kalori yang dibakar tubuh, kelebihan energi akan disimpan sebagai lemak. Dalam jangka panjang, kondisi ini meningkatkan risiko penyakit jantung koroner, stroke, serta beberapa jenis kanker.

Minuman manis juga berkontribusi terhadap meningkatnya risiko diabetes tipe 2. Kandungan gula yang tinggi dapat menyebabkan kadar gula darah terus meningkat apabila dikonsumsi secara berlebihan. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa konsumsi satu hingga dua gelas minuman manis setiap hari dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2 hingga 26 persen.

Tidak hanya itu, kebiasaan mengonsumsi minuman tinggi gula juga dapat memengaruhi kadar kolesterol. Orang yang sering mengonsumsi minuman manis cenderung memiliki kadar kolesterol baik (HDL) lebih rendah dan kolesterol jahat (LDL) lebih tinggi. Kondisi tersebut dapat memicu penyempitan pembuluh darah dan meningkatkan risiko serangan jantung.

Dampak lainnya adalah kerusakan gigi. Kandungan gula dan asam pada minuman manis dapat mempercepat pembentukan plak yang merusak lapisan gigi. Karena itu, konsumsi minuman manis maupun jus buah sebaiknya dilakukan saat waktu makan dan dalam jumlah terbatas.

Sejumlah penelitian juga mengaitkan konsumsi minuman manis secara berlebihan dengan peningkatan risiko beberapa jenis kanker, termasuk kanker payudara. Meski demikian, pola hidup sehat secara menyeluruh tetap menjadi faktor utama dalam menekan risiko penyakit tersebut.

Untuk menjaga kesehatan, masyarakat disarankan membatasi konsumsi minuman manis dan lebih sering memilih air putih sebagai sumber hidrasi utama. Air berkarbonasi tanpa pemanis maupun minuman rendah gula juga dapat menjadi alternatif.

Langkah sederhana seperti mengurangi asupan gula setiap hari dapat memberikan manfaat besar bagi kesehatan dalam jangka panjang. Kebiasaan kecil yang dimulai sekarang berperan penting dalam menurunkan risiko berbagai penyakit kronis di masa mendatang.

Editor : Lugas Rumpakaadi
minuman manis