HUT Ke-75 IBI, 1.100 Bidan Banyuwangi Didorong Jadi Pemimpin Perubahan Layanan Ibu dan Anak

Sigit Hariyadi • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 19:29 WIB
DIWARNAI SIMPOSIUM: Perayaan HUT ke-75 Ikatan Bidan Indonesia yang digelar oleh IBI Banyuwangi bekerja sama dengan Yayasan Project Harapan di Auditorium GBK Unidsoe, Minggu (19/7). (FOTO: IBI)
DIWARNAI SIMPOSIUM: Perayaan HUT ke-75 Ikatan Bidan Indonesia yang digelar oleh IBI Banyuwangi bekerja sama dengan Yayasan Project Harapan di Auditorium GBK Unidsoe, Minggu (19/7). (FOTO: IBI)

RADAR BANYUWANGI – Peran bidan di Banyuwangi kini dituntut lebih dari sekadar memberikan pelayanan persalinan dan kesehatan ibu-anak. Sebanyak 1.100 bidan didorong menjadi pemimpin perubahan yang mampu menggerakkan masyarakat, memperkuat layanan kesehatan primer, hingga mendukung terwujudnya target Triple Zero 2030: nol kematian ibu, nol kematian bayi, dan nol stunting baru.

Pesan tersebut mengemuka dalam Simposium Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Ikatan Bidan Indonesia (IBI) yang digelar Pengurus Cabang IBI Banyuwangi bekerja sama dengan Yayasan Project HOPE di Auditorium Gelanggang Budaya dan Konvensi (GBK) Universitas Dr. Soekardjo (Unidsoe), Sabtu (19/7). Kegiatan berlangsung secara hibrida dan diikuti sekitar 1.100 bidan dari seluruh Banyuwangi.

Mengusung tema "One Million More Midwives", simposium memfokuskan pembahasan pada penguatan kepemimpinan dan profesionalisme bidan dalam menghadirkan pelayanan kesehatan yang berpusat pada perempuan dan anak.

Acara dihadiri Pengurus Daerah IBI Jawa Timur, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyuwangi, pimpinan rumah sakit, organisasi profesi kesehatan, perguruan tinggi, organisasi perempuan seperti TP PKK, GOW, Aisyiyah, Muslimat, serta berbagai pemangku kepentingan di bidang kesehatan.

FOTO BERSAMA: Seluruh peserta dan tamu undangan Simposium dalam Rangka HUT ke-75 IBI yang diselenggarakan oleh IBI Cabang Banyuwangi. (FOTO: IBI)
FOTO BERSAMA: Seluruh peserta dan tamu undangan Simposium dalam Rangka HUT ke-75 IBI yang diselenggarakan oleh IBI Cabang Banyuwangi. (FOTO: IBI)

Mewakili Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi Amir Hidayat menegaskan, pencapaian visi Triple Zero 2030 membutuhkan kontribusi besar para bidan sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat.

Menurutnya, peran bidan saat ini tidak lagi hanya berorientasi pada pelayanan kuratif, tetapi juga harus mengedepankan upaya promotif dan preventif melalui deteksi dini, pendampingan keluarga, serta membangun kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan.

"Bidan tidak lagi hanya berfokus pada pelayanan kuratif, tetapi juga menjadi penggerak pencegahan melalui deteksi dini, pendampingan keluarga, dan pelayanan yang membangun kepercayaan masyarakat," ujarnya.

Ketua Pengurus Daerah IBI Jawa Timur, DR Hj Bidan Siti Maimunah SST MKes MKeb, mengatakan ekspektasi masyarakat terhadap mutu pelayanan kesehatan terus meningkat. Karena itu, bidan dituntut terus meningkatkan kompetensi, mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, dan mampu beradaptasi dengan perubahan sistem pelayanan.

"Namun, yang terpenting adalah tetap memegang teguh sumpah profesi dalam memberikan pelayanan," katanya.

Sementara itu, Ketua IBI Cabang Banyuwangi, Bd Hj Yulianingsih SST MMKes, menegaskan profesi bidan kini memiliki tanggung jawab yang lebih luas dibanding sebelumnya.

Menurutnya, bidan harus mampu menjadi agen perubahan yang tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan, tetapi juga membangun kepercayaan masyarakat, mengedukasi keluarga, serta mendorong lahirnya budaya hidup sehat di lingkungan sekitarnya.

JUARA: Pemenang lomba peringatan HUT ke-75 IBI bersama Ketua IBI Cabang Banyuwangi dan Perwakilan dari Yayasan Project Hope. (FOTO: IBI)
JUARA: Pemenang lomba peringatan HUT ke-75 IBI bersama Ketua IBI Cabang Banyuwangi dan Perwakilan dari Yayasan Project Hope. (FOTO: IBI)

"Bidan tidak cukup hanya menjadi pelaksana pelayanan kesehatan. Bidan juga harus menjadi pemimpin perubahan yang mampu menggerakkan masyarakat, membangun kepercayaan pasien, dan menghadirkan pelayanan yang berkualitas," tegasnya.

Simposium menghadirkan dua narasumber nasional. Mellysa Kowara, MScPH, memaparkan implementasi Respectful Maternal and Newborn Care (RMNC) dalam pelayanan kesehatan primer. Sementara Pengurus Pusat IBI, Hetty Astri MKes, membahas strategi membangun kepercayaan pasien melalui pelayanan yang berpusat pada perempuan.

Melalui forum tersebut, para bidan diharapkan semakin siap menghadapi tantangan pelayanan kesehatan yang terus berkembang sekaligus menjadi ujung tombak peningkatan kualitas kesehatan ibu dan anak di Banyuwangi.

Kegiatan ini turut mendapat dukungan dari Biznet, Moorlife, Avail, Kimberly-Clark Softex, Softex, Sweety, Rise, Depo Internasional Pahala Otomotif, Bank Jatim, dan Erlimpex sebagai bentuk sinergi berbagai pihak dalam memperkuat layanan kesehatan masyarakat. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Kesehatan Ibu bidan Banyuwangi Triple Zero layanan primer IBI Banyuwangi