RADAR BANYUWANGI – Layanan kemoterapi di RSUD Blambangan mulai menjadi andalan pasien kanker di Banyuwangi. Sejak resmi dibuka pada 25 Mei 2026, rumah sakit milik Pemkab Banyuwangi itu telah menangani 35 pasien kemoterapi. Mayoritas merupakan penderita baru yang kini bisa menjalani terapi di daerah sendiri tanpa harus rutin dirujuk ke rumah sakit di luar Banyuwangi.
Koordinator Pelayanan Medis RSUD Blambangan dr. Ayyub Erdiyanto menjelaskan, seluruh pasien yang telah memanfaatkan layanan tersebut merupakan warga Banyuwangi. Sebanyak 34 pasien merupakan peserta BPJS Kesehatan, sedangkan satu pasien mendapat pembiayaan melalui SPM.
Mayoritas pasien yang menjalani kemoterapi merupakan penderita kanker payudara. Selain pasien baru, terdapat pula pasien lama yang sebelumnya menjalani terapi di luar daerah dan kini telah dirujuk kembali untuk melanjutkan pengobatan di RSUD Blambangan.
"Kehadiran layanan kemoterapi memberikan kemudahan bagi masyarakat karena tidak lagi harus menjalani terapi secara rutin ke luar daerah," ujar Ayyub.
Menurut dia, keberadaan layanan tersebut tidak hanya memangkas waktu perjalanan pasien, tetapi juga mengurangi beban biaya transportasi dan akomodasi yang selama ini harus ditanggung pasien beserta keluarganya.
RSUD Blambangan menyediakan layanan kemoterapi one day care atau rawat jalan dengan kapasitas delapan tempat tidur. Dalam sehari, fasilitas tersebut mampu melayani hingga 16 pasien yang dibagi dalam dua sesi, yakni pagi dan siang.
Sementara itu, pasien yang membutuhkan observasi atau penanganan lanjutan dapat menjalani perawatan melalui layanan rawat inap sesuai rekomendasi dokter penanggung jawab pasien (DPJP) di masing-masing bidang onkologi.
Untuk mendukung layanan kanker, RSUD Blambangan telah memiliki sejumlah dokter spesialis dan subspesialis, mulai dari subspesialis bedah onkologi, subspesialis onkologi toraks, dokter spesialis penyakit dalam berkualifikasi Internis Fellow Onkologi (IFO), hingga dokter spesialis paru dengan fellowship terapi sistemik onkologi toraks.
Meski demikian, rumah sakit masih terus mengembangkan layanan kanker agar semakin lengkap. Salah satu yang sedang diusulkan ialah penyediaan layanan pemeriksaan Imunohistokimia (IHK).
Pemeriksaan tersebut berperan penting dalam membantu dokter menentukan diagnosis kanker secara lebih spesifik, mengidentifikasi asal kanker yang telah bermetastasis, menilai peluang keberhasilan terapi target maupun terapi hormon, hingga memperkirakan prognosis pasien.
Selain itu, RSUD Blambangan juga mengusulkan penambahan dokter subspesialis onkologi lain, termasuk subspesialis onkologi ginekologi. Langkah itu diharapkan membuat penanganan berbagai jenis kanker di Banyuwangi semakin komprehensif sehingga kebutuhan rujukan ke luar daerah dapat terus ditekan.
"Kami berharap masyarakat Banyuwangi dapat memperoleh pelayanan kanker yang lebih lengkap, cepat, dan mudah dijangkau di daerahnya sendiri," tegas Ayyub.
Terpisah, Kepala Bagian SDM Umum dan Komunikasi BPJS Kesehatan Haidar Zulmi Farensi mengatakan pihaknya masih melakukan pendataan jumlah peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang telah memanfaatkan layanan kemoterapi di RSUD Blambangan.
Namun, ia memastikan peserta JKN yang menderita kanker dapat memperoleh layanan kemoterapi di RSUD Blambangan sesuai dengan indikasi medis dan alur pelayanan yang berlaku.
BPJS Kesehatan juga mendorong RSUD Blambangan untuk terus meningkatkan kapasitas pelayanan melalui penambahan tenaga dokter subspesialis agar semakin banyak pasien kanker dapat ditangani di Banyuwangi.
"Untuk saat ini pasien yang bisa dilayani disesuaikan dengan kompetensi yang tersedia di RSUD Blambangan. Kami mendorong rumah sakit untuk terus menambah tenaga dokter subspesialis," tandas Farensi. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin