Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Waspadai Dampak Konsumsi Gula Berlebih, Risiko Hipertensi, Diabetes, hingga Kanker Ginjal Mengintai

Shinta Ayu Rahma Wardani • Senin, 13 Juli 2026 | 18:12 WIB
Kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman manis serta pangan olahan secara berlebihan meningkatkan risiko hipertensi, diabetes, obesitas, kerusakan ginjal kronis hingga kanker ginjal. (Pexels/meheng de)
Kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman manis serta pangan olahan secara berlebihan meningkatkan risiko hipertensi, diabetes, obesitas, kerusakan ginjal kronis hingga kanker ginjal. (Pexels/meheng de)

RADARBANYUWANGI.ID - Tren konsumsi makanan dan minuman manis yang semakin marak di tengah masyarakat memunculkan kekhawatiran terhadap dampaknya bagi kesehatan jangka panjang. Kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi gula dan pangan olahan secara terus-menerus dinilai dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis, termasuk gangguan fungsi ginjal hingga kanker ginjal.

Berbagai jenis makanan cepat saji seperti mie instan, nugget, sosis, serta minuman dengan kandungan gula tinggi menjadi bagian dari pola konsumsi masyarakat modern. Jika dikonsumsi dalam jangka panjang tanpa diimbangi pola makan sehat, kebiasaan tersebut berpotensi memicu hipertensi, diabetes melitus, dan obesitas.

Ketiga kondisi tersebut merupakan faktor risiko utama yang dapat mempercepat penurunan fungsi ginjal. Kerusakan ginjal yang berlangsung secara kronis tidak hanya mengganggu kualitas hidup, tetapi juga dapat meningkatkan risiko munculnya kanker ginjal.

Penyakit kronis sendiri umumnya tidak muncul akibat satu jenis makanan yang dikonsumsi sesekali. Sebaliknya, penyakit berkembang dari kebiasaan yang dilakukan secara berulang dalam kehidupan sehari-hari.

Dokter Karina Pathaya menegaskan bahwa masyarakat perlu memahami pentingnya pola konsumsi harian, bukan hanya menghindari satu jenis makanan tertentu.

"Tapi sebenarnya, masalah kesehatan sering tidak datang dari satu makanan. Masalahnya adalah kebiasaan kecil yang kita lakukan setiap hari, termasuk dari apa yang kita pakai untuk memasak di rumah," ungkap dr. Karina Pathaya dalam unggahannya.

Ia mengingatkan bahwa makanan dan minuman manis kini telah menjadi bagian dari menu harian banyak keluarga. Padahal, anak-anak mulai membentuk preferensi rasa sejak usia dini melalui makanan yang disajikan di rumah. Kebiasaan tersebut dapat terbawa hingga dewasa apabila tidak diarahkan sejak awal.

Karena itu, orang tua diimbau lebih cermat saat memilih bahan pangan maupun bumbu masakan. Membaca label komposisi produk menjadi langkah sederhana namun penting untuk mengurangi konsumsi gula, garam, maupun bahan tambahan pangan secara berlebihan.

Selain itu, penggunaan bumbu dengan komposisi yang lebih sederhana juga dianjurkan. Bumbu alami tanpa bahan pengawet, tanpa tambahan MSG, serta tanpa pewarna buatan dapat menjadi pilihan untuk membantu menjaga kualitas makanan yang dikonsumsi keluarga.

Upaya membangun pola makan sehat tidak harus dilakukan secara drastis. Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten, mulai dari dapur rumah, dinilai dapat menjadi langkah awal dalam menurunkan risiko penyakit kronis sekaligus menjaga kesehatan ginjal seluruh anggota keluarga dalam jangka panjang.

Editor : Lugas Rumpakaadi
makanan manis