RADARBANYUWANGI.ID - Mie instan masih menjadi salah satu makanan praktis yang paling banyak dikonsumsi masyarakat. Namun, di tengah meningkatnya tren hidup sehat, makanan ini kerap mendapat stigma negatif dan dianggap sebagai penyebab berbagai penyakit kronis.
Praktisi kesehatan dr. Tirta Mandira Hudhi menilai anggapan tersebut perlu disikapi secara lebih objektif. Menurutnya, ketakutan berlebihan terhadap mie instan muncul karena masyarakat sering kali memandang sebuah makanan secara ekstrem tanpa memahami fungsi dan cara konsumsi yang tepat.
Dalam sebuah video di kanal YouTube Samuel Christ, dr. Tirta menjelaskan bahwa mie instan memang bukan sumber gizi lengkap. Kandungan utamanya didominasi karbohidrat dari tepung, sementara bumbu instan mengandung natrium yang cukup tinggi.
Ia menegaskan, konsumsi mie instan secara berlebihan dalam jangka panjang memang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama jika dikonsumsi tanpa memperhatikan keseimbangan gizi.
"Kalau kamu makan mie instan terus-terusan selama 10 tahun dengan sehari 10 mie instan, ya tensimu akan naik," ujar dr. Tirta.
Namun, menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada mie instan semata, melainkan pola konsumsi masyarakat yang menganggap makanan tersebut sebagai menu utama tanpa tambahan nutrisi lain.
dr. Tirta mengingatkan bahwa mie instan pada dasarnya diciptakan sebagai pangan praktis untuk kondisi darurat atau kebutuhan bertahan hidup (survival), sehingga tidak dirancang menjadi makanan dengan komposisi gizi lengkap.
Karena itu, ia menyarankan masyarakat melengkapi mie instan dengan sumber protein dan serat agar nilai gizinya meningkat. Penambahan telur, daging, maupun aneka sayuran dinilai mampu membuat menu tersebut lebih seimbang.
"Ternyata dari penelitian, jika mie instan dimakan menggunakan sayur, telur, daging, ya ada gizinya lah," katanya.
Pendekatan tersebut dinilai lebih rasional dibandingkan memberikan label bahwa mie instan merupakan makanan berbahaya atau "racun". Dampak terhadap kesehatan lebih banyak dipengaruhi oleh frekuensi konsumsi, porsi, serta keseimbangan asupan gizi secara keseluruhan.
Editor : Lugas Rumpakaadi