RADARBANYUWANGI.ID - Bermain di genangan air saat musim hujan menjadi pengalaman yang akrab bagi banyak orang sejak kecil.
Namun di balik genangan yang tampak biasa, terdapat ancaman penyakit yang tidak boleh dianggap remeh.
Salah satunya adalah leptospirosis atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai penyakit kencing tikus.
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira yang hidup di lingkungan lembap dan tercemar, terutama pada genangan air yang telah terkontaminasi urine hewan terinfeksi.
Selain tikus, bakteri tersebut juga dapat dibawa oleh anjing, babi, sapi, hingga kuda.
Kasus leptospirosis masih menjadi perhatian di Indonesia.
Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Dinas Kesehatan mencatat sebanyak 453 kasus leptospirosis sepanjang Januari hingga November 2025.
Dari jumlah tersebut, 38 pasien dilaporkan meninggal dunia akibat infeksi tersebut.
Leptospirosis dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia.
Risiko lebih tinggi dialami masyarakat yang sering beraktivitas di lingkungan becek, rawan banjir, saluran drainase, maupun lokasi yang banyak ditemukan tikus.
Penularan terjadi ketika bakteri masuk ke dalam tubuh melalui luka pada kulit, selaput lendir seperti mata, hidung, dan mulut, bahkan melalui kulit yang masih utuh setelah kontak cukup lama dengan air yang tercemar.
Selain itu, benda-benda yang telah terkontaminasi urine tikus juga berpotensi menjadi media penularan.
Pada tahap awal, gejala leptospirosis sering menyerupai penyakit flu sehingga kerap diabaikan.
Penderita umumnya mengalami demam tinggi, sakit kepala, diare, mual, nyeri otot terutama pada betis dan punggung bagian bawah, serta muncul bintik-bintik merah pada kulit yang tidak memudar ketika ditekan.
Karena gejalanya tidak khas, banyak penderita terlambat mendapatkan penanganan medis.
Padahal, infeksi yang tidak segera ditangani dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius dan mengancam keselamatan jiwa.
Dokter sekaligus edukator kesehatan, Intan Rachmita, mengingatkan pentingnya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai bahaya leptospirosis.
Melalui konten edukasinya di media sosial, ia menekankan bahwa upaya pencegahan paling efektif adalah menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak dengan tikus maupun cairan tubuhnya.
"Bagaimana caranya kita menghindari tikus, termasuk juga kontak dengan air liur dan urine-nya adalah dengan menjaga kebersihan," ujarnya.
Masyarakat juga diimbau menggunakan alat pelindung diri seperti sepatu bot dan sarung tangan saat membersihkan area yang becek, berlumpur, atau terdampak banjir.
Langkah sederhana tersebut dapat mengurangi risiko paparan bakteri penyebab leptospirosis.
Selain menjaga kebersihan lingkungan, warga yang mengalami demam dan gejala lain setelah beraktivitas di lokasi yang diduga tercemar sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Deteksi dini dan penanganan yang cepat menjadi kunci untuk mencegah komplikasi serta menekan risiko kematian akibat penyakit kencing tikus.
Editor : Lugas Rumpakaadi