Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Banyuwangi Percepat Transformasi Kesehatan, Telekonsultasi Jadi Andalan Baru

M Ksatria Raya • Rabu, 24 Juni 2026 | 03:00 WIB
Bupati Ipuk Fiestiandani menyampaikan sambutan dan pengarahan pada rakor Penguatan Akselerasi Transformasi Kesehatan di Cafe Hedon Estate, Selasa (23/6). (Dinkes Banyuwangi)
Bupati Ipuk Fiestiandani menyampaikan sambutan dan pengarahan pada rakor Penguatan Akselerasi Transformasi Kesehatan di Cafe Hedon Estate, Selasa (23/6). (Dinkes Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Transformasi layanan kesehatan di Banyuwangi kian digenjot. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi menargetkan pelayanan kesehatan yang lebih cepat, merata, dan berkelanjutan melalui penguatan kolaborasi lintas fasilitas layanan kesehatan serta inovasi digital. Langkah strategis ini dibahas dalam Rapat Koordinasi Kesehatan di Cafe Hedon Estate, Selasa (23/6), yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan sektor kesehatan.

Rakor yang dipimpin Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani itu menjadi ruang konsolidasi penting di tengah tantangan kesehatan yang semakin kompleks. Mulai dari dampak pascapandemi, meningkatnya penyakit tidak menular, hingga ancaman penyakit akibat perubahan iklim, seluruhnya menuntut respons cepat dan terintegrasi.

Bupati Ipuk Fiestiandani menegaskan bahwa peningkatan derajat kesehatan masyarakat tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan kerja bersama seluruh ekosistem kesehatan, mulai dari rumah sakit hingga fasilitas layanan primer.

“Semua permasalahan tidak bisa diselesaikan sendiri. Kita harus menggalang kolaborasi menghadapi berbagai tantangan sehingga mampu meningkatkan taraf kesehatan masyarakat Banyuwangi,” ujarnya.

Telekonsultasi Kesehatan Jadi Lompatan Baru

Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi, Amir Hidayat, memaparkan inovasi baru berupa layanan telekonsultasi kesehatan berbasis aplikasi. Program ini dirancang untuk memperluas akses layanan kesehatan, terutama bagi warga di wilayah terpencil.

“Aplikasi ini akan menjadi sarana edukasi dan konsultasi kesehatan bagi masyarakat. Rencananya diluncurkan 18 Juli mendatang bersamaan dengan BEC oleh Menteri Kesehatan,” kata Amir.

Inovasi ini menjadi bagian dari strategi digitalisasi layanan kesehatan daerah yang diharapkan mampu mempercepat deteksi dini penyakit sekaligus meningkatkan literasi kesehatan masyarakat.

Angka Kematian Ibu Menurun, Tantangan Baru Muncul

Di sisi lain, Banyuwangi mencatat capaian positif. Angka kematian ibu turun dari 28 kasus pada 2024 menjadi 19 kasus pada 2025. Total kematian ibu dan bayi juga menurun dari 171 menjadi 167 kasus.

Meski demikian, tantangan baru muncul dari meningkatnya penyakit metabolik seperti jantung dan stroke. Sekitar 20 persen warga Banyuwangi disebut mengalami hipertensi, yang sering tidak terdeteksi sejak awal.

“Ada kesenjangan pengetahuan masyarakat terhadap penyakit metabolik. Padahal sangat berbahaya jika tidak dikenali sejak dini,” ujar Amir.

Sinergi Jadi Kunci Layanan Kesehatan Modern

Sekretaris Kabupaten Banyuwangi, Suyanto Waspo Tondo Wicaksono, menekankan pentingnya adaptasi regulasi dan teknologi dalam pelayanan kesehatan.

“Teknologi terus berkembang sehingga regulasi juga harus ikut berubah. Kita harus adaptif agar pelayanan semakin baik,” katanya.

Ia menegaskan, penguatan sistem kesehatan hanya dapat dicapai melalui sinergi menyeluruh antara rumah sakit, puskesmas, dan klinik.

Transformasi kesehatan Banyuwangi kini bergerak ke arah lebih digital, kolaboratif, dan berbasis pencegahan. Bagi daerah dengan wilayah luas dan tantangan geografis beragam, langkah ini menjadi fondasi penting menuju layanan kesehatan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. (ray/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#telekonsultasi Banyuwangi #layanan digital kesehatan #rakor kesehatan #angka kematian ibu #Transformasi Kesehatan