Radarbanyuwangi.id - Seluruh karyawan RS Al Huda (RSAH) kembali menguikuti refreshing in house training (IHT) Bantuan Hidup Dasar (BHD) agar selalu siap hadapi kegawatdaruratan di segala kondisi. Kegiatan ini digelar selama dua hari, yaitu pada Rabu (17/6) dan Kamis (18/6).
Ketua Tim IHT BHD RSAH dr Faris Alima Mahdi menyampaikan, BHD merupakan tindakan darurat atau pertolongan pertama terhadap orang yang mengalami henti napas atau henti jantung tanpa menggunakan alat bantu. Ia menjelaskan, kondisi henti napas atau henti jantung bisa dialami siapapun, di manapun, dan kapanpun yang berisiko hingga kematian jika tidak dilakukan tindakan dengan tepat dan cepat
Bila menemukan seseorang kondisi tidak sadar, maka langkah pertama yang dapat dilakukan penolong yaitu pastikan 3A, yaitu aman penolong, aman lingkungan dan aman korban. Selanjutnya, cek respons korban, pastikan benarbenar tidak sadar karena henti jantung atau henti napas, lalu minta bantuan orangorang di sekitar untuk menghubungi bantuan medis.
Selanjutnya bisa dilakukan pijat jantung dengan atau tanpa pemberian napas buatan. Respons cepat dan efektif penolong di sekitarnya akan sangat berarti dalam mempertahankan harapan hidup korban.
Baca Juga: RS Al Huda Peringati Hari Donor Darah Sedunia 2026
IHT BHD dilakukan dalam dua hari dengan masingmasing dua sesi yaitu pagi dan siang. Setiap karyawan maju dan mempraktikkan prosedur BHD dengan baik sesuai arahan dari instruktur.
Sementara itu, Direktur RSAH dr Indiati MMRS mengatakan, di era pelayanan berfokus pada peningkatan mutu dan keselamatan pasien saat ini, setiap rumah sakit wajib menyiapkan layanan asuhan dan pelayanan pasien risiko tinggi. “Pelayanan kasus emergency dan penanganan pelayanan resusitasi di seluruh unit rumah sakit harus ada dan harus selalu siap,” ujarnya. Atas dasar tersebut, RSAH rutin mengelar IHT BHD un tuk seluruh karyawan, baik karyawan medis maupun nonmedis agar selalu siap, terampil, dan mampu melakukan BHD.
Dengan Latihan rutin dan kontinu menjadikan keterampilan dan kepekaan terhadap adanya kegawatan serta komunikasi antar petugas akan semakin terasah. Diharapkan informasi kegawatan bisa tersampaikan dengan cepat, dapat direspons dengan baik dan minim kesalahan interpretasi. “Demi terwujudnya pelayanan prima yang selalu mengedepankan peningkatan mutu dan keselamatan pasien” pungkasnya.(*/sgt)
Editor : Titin Wulandari