RADARBANYUWANGI.ID – Sekolah tidak lagi hanya dituntut mencetak siswa berprestasi secara akademik. Di tengah meningkatnya kasus anemia pada remaja putri, rendahnya kepatuhan konsumsi tablet tambah darah, ancaman perkawinan usia anak, hingga persoalan kesehatan mental pelajar, satuan pendidikan kini didorong menjadi garda terdepan perlindungan kesehatan generasi muda.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Tim Pembina Usaha Kesehatan Sekolah/Madrasah (UKS/M) Kabupaten Banyuwangi yang digelar di Ruang Minakjinggo Kantor Pemkab Banyuwangi, Selasa (10/6). Forum lintas sektor itu menjadi momentum penguatan peran UKS/M agar tidak lagi dipandang sebagai program pendamping, melainkan bagian penting dari sistem perlindungan kesehatan peserta didik.
Rakor dihadiri berbagai unsur strategis, mulai Dinas Kesehatan (Dinkes), Dinas Pendidikan (Dispendik), Kantor Kementerian Agama (Kemenag), pemerintah desa, perguruan tinggi, kepala puskesmas, hingga tim pembina UKS/M kecamatan se-Banyuwangi.
Sekretaris Kabupaten Banyuwangi Suyanto Waspo Tondo Wicaksono menegaskan bahwa penguatan UKS/M merupakan investasi jangka panjang dalam membangun kualitas sumber daya manusia.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan daerah tidak hanya ditentukan oleh capaian pendidikan formal, tetapi juga kondisi kesehatan fisik, mental, dan karakter generasi muda yang sedang dipersiapkan sebagai pemimpin masa depan.
“Keberhasilan pembangunan daerah sangat ditentukan oleh kualitas generasi mudanya. Karena itu, sekolah harus menjadi ruang yang mampu membangun budaya hidup sehat sejak dini,” ujarnya.
Suyanto menilai keberhasilan transformasi UKS/M tidak dapat dilakukan oleh sekolah semata. Dibutuhkan sinergi kuat antara sektor pendidikan, kesehatan, pemerintah daerah, keluarga, hingga masyarakat untuk menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan aman.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi yang juga menjabat Pelaksana Tugas Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Amir Hidayat, menyoroti perlunya perubahan paradigma dalam pelaksanaan UKS/M.
Menurut Amir, selama ini sebagian program UKS masih identik dengan kegiatan seremonial yang hanya aktif pada momen tertentu. Padahal, sekolah memiliki posisi strategis sebagai tempat deteksi dini berbagai persoalan kesehatan yang dialami remaja.
Mulai dari anemia, masalah gizi, kesehatan reproduksi, gangguan kesehatan mental, hingga risiko perkawinan usia anak dapat dikenali lebih cepat melalui sistem UKS/M yang berjalan optimal.
“UKS/M harus bertransformasi menjadi sistem perlindungan kesehatan yang proaktif, terintegrasi, dan berkelanjutan. Sekolah harus mampu mengenali persoalan kesehatan sejak awal agar penanganannya lebih cepat dan tepat,” katanya.
Amir menjelaskan, penguatan UKS/M juga akan mendukung sejumlah program prioritas pemerintah. Salah satunya percepatan pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi peserta didik serta peningkatan kepatuhan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) untuk mencegah anemia pada remaja putri.
Dalam sesi monitoring dan evaluasi, perwakilan Dispendik Banyuwangi, Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Banyuwangi, dan Kantor Kementerian Agama memaparkan perkembangan implementasi UKS/M di sekolah maupun madrasah.
Berbagai kendala yang masih ditemui di lapangan turut dibahas sebagai bahan penyusunan strategi perbaikan ke depan.
Salah satu fokus utama pembahasan adalah penguatan implementasi Trias UKS yang meliputi pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan, dan pembinaan lingkungan sekolah sehat. Ketiga aspek tersebut dinilai harus berjalan beriringan agar budaya hidup sehat benar-benar menjadi bagian dari keseharian peserta didik.
Forum juga menekankan pentingnya penguatan Gerakan Sekolah Sehat melalui program Sekolah Asuh Sehati atau Sehat Kini dan Nanti (SAS). Program ini diharapkan mampu membangun kebiasaan hidup sehat sejak usia sekolah sekaligus memperkuat ketahanan fisik dan mental peserta didik.
Narasumber dari Biro Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Tomas AD Saifudin, menambahkan bahwa keberhasilan program sekolah sehat sangat bergantung pada kekuatan kelembagaan Tim Pembina UKS/M.
Karena itu, menurutnya, revitalisasi organisasi UKS/M perlu dilakukan secara menyeluruh mulai tingkat kabupaten, kecamatan, hingga satuan pendidikan.
“Koordinasi lintas sektor yang kuat, program kerja yang terukur, serta evaluasi berkelanjutan menjadi kunci agar UKS/M mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas kesehatan peserta didik,” ujarnya.
Melalui penguatan UKS/M, Pemkab Banyuwangi berharap sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi pusat pembentukan generasi sehat, tangguh, dan berkarakter.
Di tengah tantangan meningkatnya persoalan kesehatan remaja dan perubahan sosial yang semakin kompleks, sekolah diharapkan mampu menjadi ruang aman yang tidak hanya mendidik, tetapi juga melindungi masa depan anak-anak Banyuwangi sejak dini. (sgt)
Editor : Ali Sodiqin