Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ribuan ODHIV Terdata, Pemkab Banyuwangi Fokus Tekan Penularan dan Lost Follow Up

Sigit Hariyadi • Selasa, 9 Juni 2026 | 06:00 WIB
Suyanto Waspo Tondo Wicaksono, Sekkab Banyuwangi. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Suyanto Waspo Tondo Wicaksono, Sekkab Banyuwangi. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID - Upaya pengendalian HIV/AIDS di Banyuwangi menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Hingga Mei 2026, jumlah Orang Dengan HIV (ODHIV) yang berhasil ditemukan bahkan telah melampaui estimasi kasus yang diperkirakan ada di daerah tersebut. Capaian ini menjadi indikator keberhasilan sistem deteksi dini yang terus diperkuat pemerintah daerah bersama berbagai pemangku kepentingan.

Namun di balik capaian tersebut, Pemkab Banyuwangi masih menghadapi tantangan besar dalam memastikan keberlanjutan pengobatan bagi para penyintas HIV. Karena itu, selain memperkuat penemuan kasus, pemerintah kini menaruh perhatian besar pada kepatuhan terapi antiretroviral (ARV) dan pencegahan penularan baru.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani melalui Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Suyanto Waspotodo Wicaksono menegaskan bahwa penanganan HIV bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan semata, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

Menurut pejabat yang akrab disapa Yayan tersebut, pengendalian HIV merupakan bagian penting dalam pembangunan sumber daya manusia yang sehat, produktif, dan berkualitas.

“Pendekatan yang dilakukan harus mengedepankan edukasi, pencegahan, deteksi dini, pengobatan, serta penghapusan stigma terhadap Orang Dengan HIV (ODHIV),” ujarnya.

Karena itu, sinergi antara pemerintah, fasilitas kesehatan, dunia pendidikan, dunia usaha, organisasi masyarakat, tokoh agama, hingga keluarga dinilai menjadi kunci dalam menekan laju penyebaran HIV sekaligus meningkatkan kualitas hidup ODHIV.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi Amir Hidayat menjelaskan, hingga Mei 2026 jumlah kasus HIV yang pernah ditemukan secara kumulatif mencapai 7.500 kasus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 4.021 ODHIV masih hidup dan telah teridentifikasi dalam sistem layanan kesehatan.

Menurut Amir, angka tersebut menunjukkan keberhasilan sistem skrining dan penemuan kasus yang dijalankan Banyuwangi selama beberapa tahun terakhir. Bahkan jumlah ODHIV yang berhasil ditemukan telah melampaui estimasi ODHIV Banyuwangi yang diperkirakan sebanyak 3.724 orang atau mencapai 108 persen.

“Ini menunjukkan bahwa sistem skrining dan penemuan kasus di Banyuwangi berjalan cukup baik melalui layanan rumah sakit, puskesmas, pemeriksaan ibu hamil, pasien tuberkulosis, layanan IMS, serta penjangkauan kelompok populasi berisiko. Semakin cepat kasus ditemukan, semakin besar peluang untuk segera diberikan terapi dan dicegah penularannya,” jelas Amir.

Keberhasilan menemukan kasus lebih dini dinilai sangat penting karena memungkinkan pasien segera mendapatkan pengobatan ARV. Terapi tersebut terbukti mampu menjaga kualitas hidup ODHIV sekaligus menurunkan risiko penularan kepada orang lain.

Meski demikian, tantangan terbesar saat ini adalah menjaga keberlangsungan pengobatan. Dari 2.910 ODHIV yang pernah memulai terapi ARV, tercatat sebanyak 2.156 orang masih aktif menjalani pengobatan. Sementara 754 orang lainnya belum lagi terpantau atau masuk kategori lost follow up (LFU).

“Kondisi ini menjadi perhatian utama kami. Pengobatan HIV saat ini sangat efektif, tetapi keberhasilannya sangat bergantung pada kepatuhan pasien dalam menjalani terapi secara berkelanjutan,” kata Amir.

Data program juga menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. Dari 782 ODHIV yang telah menjalani pemeriksaan viral load, sebanyak 725 orang atau 92,7 persen berhasil mencapai kondisi viral load tersupresi.

Artinya, jumlah virus dalam tubuh telah berhasil ditekan hingga tingkat yang sangat rendah. Kondisi tersebut memungkinkan ODHIV tetap hidup sehat, produktif, dan secara signifikan mengurangi risiko penularan kepada orang lain.

Dari sisi epidemiologi, hingga Mei 2026 ditemukan 190 kasus HIV baru. Sebagian besar kasus berasal dari kelompok usia produktif yang menjadi tulang punggung aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat.

Berdasarkan kelompok populasi berisiko, proporsi kasus baru tertinggi ditemukan pada kelompok laki-laki seks dengan laki-laki (LSL) sebesar 56,9 persen. Disusul pasangan ODHIV sebesar 25,5 persen dan wanita pekerja seks sebesar 11,8 persen.

Menurut Amir, tingginya angka kasus pada pasangan ODHIV menjadi sinyal penting perlunya penguatan pemeriksaan terhadap pasangan dan keluarga sebagai langkah deteksi dini sekaligus pencegahan penularan lanjutan.

Untuk itu, Pemkab Banyuwangi memastikan layanan pemeriksaan HIV dan terapi ARV tetap tersedia dan dapat diakses masyarakat sesuai ketentuan yang berlaku. Pemerintah juga terus memperkuat kolaborasi dengan rumah sakit, puskesmas, organisasi masyarakat, kelompok pendamping sebaya, serta berbagai pihak lainnya.

Sementara itu, Sekkab Yayan mengajak seluruh masyarakat untuk ikut berperan menciptakan lingkungan yang lebih peduli, inklusif, dan bebas stigma terhadap ODHIV.

Menurutnya, keberhasilan pengendalian HIV tidak hanya ditentukan oleh layanan kesehatan yang baik, tetapi juga oleh dukungan sosial yang memungkinkan ODHIV menjalani pengobatan secara optimal tanpa rasa takut maupun diskriminasi.

Dengan penguatan deteksi dini, peningkatan kepatuhan terapi ARV, serta dukungan masyarakat yang semakin luas, Banyuwangi optimistis mampu mempercepat pencapaian target pengendalian HIV sekaligus meningkatkan kualitas hidup para penyintas di masa mendatang. (sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#HIV Banyuwangi #Terapi ARV #Pencegahan HIV #Dinkes Banyuwangi #ODHIV