RADARBANYUWANGI.ID – Di balik jas putih dan jabatan bergengsi sebagai Direktur Rumah Sakit Muhammadiyah Tuban periode 2026–2030, tersimpan kisah perjuangan panjang seorang perempuan yang tumbuh dari keterbatasan ekonomi dan tempaan hidup sejak kecil. Dialah dr Ratna Ernawati, alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR) yang kini dipercaya memimpin salah satu rumah sakit besar di Jawa Timur.
Perjalanan Ratna menuju posisi strategis tersebut tidak dibangun dalam semalam. Ia pernah menjalani masa kecil dengan membantu ibunya berjualan es lilin dan gorengan demi menopang kebutuhan keluarga.
Rutinitas itu sudah dijalaninya sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga menengah pertama. Sepulang sekolah, Ratna kecil terbiasa membantu membuat sirup, menyiapkan dagangan, hingga mengantarkan termos es ke warung-warung sekitar rumah.
Namun di tengah keterbatasan ekonomi, ia tidak pernah kehilangan keyakinan bahwa pendidikan dapat mengubah hidup seseorang.
“Saya percaya bahwa keadaan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Pendidikan adalah jalan untuk mengubah kehidupan,” ujarnya.
Perjuangan dari Jualan Es hingga Menembus Fakultas Kedokteran UNAIR
Masuk ke Fakultas Kedokteran UNAIR menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidup Ratna. Kampus dengan lingkungan akademik yang kompetitif membentuk karakter dirinya menjadi lebih disiplin dan tangguh menghadapi tekanan.
Namun kehidupan sebagai mahasiswa kedokteran tidak berjalan mudah. Di tengah biaya pendidikan yang tinggi, Ratna terus berjuang mencari cara agar tetap bisa bertahan kuliah tanpa membebani orang tua.
Ia aktif mencari beasiswa dan hidup sangat hemat demi menyelesaikan pendidikan.
Ratna mengaku pernah menjalani puasa bukan semata ibadah, tetapi juga untuk menghemat uang saku harian. Ia bahkan harus meminjam diktat milik teman karena belum mampu membeli buku sendiri.
Kondisi itu justru membentuk mental baja dalam dirinya. Keterbatasan ekonomi tidak membuatnya menyerah, melainkan menjadi bahan bakar untuk terus maju.
Baginya, dunia kedokteran bukan sekadar soal kecerdasan akademik, tetapi juga soal empati dan kemampuan memahami manusia.
“Saya belajar bahwa menjadi dokter bukan hanya tentang kemampuan menyembuhkan penyakit, tetapi juga tentang kemampuan mendengarkan, memahami, dan menghadirkan harapan bagi pasien,” tuturnya.
Menjadi Dokter dengan Empati dan Integritas
Sebagai dokter spesialis kebidanan dan kandungan (obstetri dan ginekologi), Ratna dikenal aktif memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Ia tidak hanya fokus pada kemampuan medis, tetapi juga membangun pendekatan humanis kepada pasien.
Pengalaman hidup yang keras sejak kecil membuatnya memahami bagaimana rasa takut, cemas, dan harapan seseorang ketika datang mencari pengobatan.
Karena itu, dalam praktik profesinya, Ratna selalu menempatkan empati sebagai bagian penting pelayanan kesehatan.
Menurutnya, profesi dokter tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan klinis. Integritas, ketulusan, dan kemampuan mendengar pasien menjadi fondasi utama dalam membangun kepercayaan.
Karakter tersebut pula yang kemudian mengantarkannya dipercaya memimpin Rumah Sakit Muhammadiyah Tuban untuk periode 2026–2030.
Perjalanan Panjang Menuju Kursi Direktur Rumah Sakit
Ratna menegaskan jabatan direktur rumah sakit bukan pencapaian instan. Semua dimulai dari langkah kecil, bekerja sungguh-sungguh, serta terus belajar dari pengalaman selama menjalani profesi kedokteran.
Ia percaya kepemimpinan bukan sekadar posisi struktural, melainkan kemampuan untuk melayani dan membawa perubahan positif bagi lingkungan sekitar.
Menurutnya, kepercayaan tidak dibangun melalui pencitraan sesaat, tetapi melalui proses panjang, integritas, dan kemampuan bekerja bersama banyak pihak.
Karena itu, ia ingin menghadirkan kepemimpinan yang lebih humanis di lingkungan rumah sakit, baik bagi tenaga kesehatan maupun pasien.
Ratna juga menilai pelayanan kesehatan harus dibangun dengan semangat kolaborasi dan kepedulian sosial agar benar-benar memberi manfaat luas bagi masyarakat.
Pesan untuk Mahasiswa dan Generasi Muda
Di akhir pernyataannya, Ratna menyampaikan pesan khusus kepada mahasiswa Universitas Airlangga dan generasi muda agar tidak menyerah pada keterbatasan hidup.
Menurutnya, kesulitan ekonomi bukan alasan untuk berhenti mengejar pendidikan dan cita-cita.
Ia mengajak anak muda terus belajar, memperbaiki diri, serta menjaga harapan meski menghadapi tekanan hidup yang berat.
“Jangan takut berjalan pelan, yang penting jangan berhenti. Teruslah belajar, terus memperbaiki diri, dan jangan kehilangan harapan ketika keadaan terasa berat,” pesannya.
Kisah Inspiratif yang Menjadi Harapan Banyak Orang
Perjalanan hidup dr Ratna Ernawati menjadi potret nyata bahwa kerja keras, pendidikan, dan ketekunan mampu mengubah jalan hidup seseorang.
Dari membantu ibunya menjual es lilin hingga memimpin rumah sakit, kisahnya menjadi inspirasi bagi banyak anak muda yang tengah berjuang dalam keterbatasan.
Di tengah tantangan dunia kesehatan yang semakin kompleks, hadirnya sosok pemimpin dengan pengalaman hidup kuat dan empati tinggi dinilai menjadi harapan baru bagi pelayanan kesehatan yang lebih manusiawi dan berintegritas. (*)
Editor : Ali Sodiqin