Tekanan Keluarga hingga Digitalisasi Picu Gangguan Mental Remaja di Banyuwangi
RADARBANYUWANGI.ID - Persoalan kesehatan mental remaja kini menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyuwangi mulai memperluas fungsi layanan darurat 119 atau Public Safety Center (PSC) menjadi saluran konsultasi kesehatan jiwa untuk masyarakat, khususnya kalangan remaja yang rentan mengalami tekanan psikologis.
Selama ini PSC 119 lebih dikenal sebagai layanan ambulans dan penanganan kegawatdaruratan medis. Namun, tingginya kasus depresi, kecemasan, hingga kecenderungan bunuh diri di usia muda membuat layanan tersebut disiapkan menjadi hotline konsultasi kesehatan mental.
Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi, Amir Hidayat, mengatakan perluasan layanan itu menjadi bagian dari upaya memperkuat akses bantuan psikologis bagi masyarakat.
“PSC 119 ini tidak hanya untuk ambulans atau kecelakaan. Sekarang sedang kami perluas untuk layanan konsultasi dan hotline kesehatan jiwa,” ujarnya.
Menurut Amir, persoalan kesehatan mental remaja kini menjadi tantangan baru yang tidak bisa dianggap sepele. Ada sejumlah faktor yang memicu tekanan mental pada usia muda, mulai dari persoalan keluarga, tekanan akademik, hingga pengaruh lingkungan dan digitalisasi.
“Faktor utamanya ada tiga, yaitu keluarga, tekanan akademik, dan lingkungan termasuk pengaruh digitalisasi,” katanya.
Dari hasil evaluasi berbagai kasus yang terjadi, faktor keluarga disebut menjadi pemicu paling dominan. Banyak remaja mengalami tekanan psikologis akibat kondisi keluarga yang tidak harmonis, kurangnya komunikasi, hingga minimnya pendampingan emosional di rumah.
Karena itu, keberadaan hotline kesehatan jiwa melalui PSC 119 diharapkan bisa menjadi ruang aman bagi masyarakat, terutama remaja, untuk mencari bantuan ketika mengalami depresi, kecemasan, atau tekanan mental berkepanjangan.
“Dengan layanan ini masyarakat bisa punya tempat untuk berkonsultasi saat mengalami tekanan mental,” imbuhnya.
Meski demikian, Dinkes Banyuwangi masih menghadapi keterbatasan sumber daya manusia di bidang kesehatan jiwa. Saat ini, Banyuwangi baru memiliki satu dokter spesialis kejiwaan untuk melayani seluruh wilayah kabupaten.
Padahal, secara ideal satu dokter spesialis kejiwaan menangani sekitar 300 ribu penduduk. Kondisi tersebut membuat penguatan pencegahan berbasis keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat menjadi langkah penting yang terus didorong pemerintah daerah.
Amir menegaskan, penanganan kesehatan mental tidak bisa hanya bergantung pada tenaga medis. Dibutuhkan kepedulian bersama agar gejala gangguan psikologis pada remaja bisa dikenali lebih awal.
Dia meminta masyarakat lebih peka terhadap perubahan perilaku anak dan remaja, terutama yang mulai menarik diri dari lingkungan sosial, mudah cemas, mengalami perubahan emosi drastis, atau menunjukkan tekanan emosional berkepanjangan.
“Kita ingin penjagaan di level keluarga dan lingkungan diperkuat supaya kecemasan dan depresi bisa dicegah sejak awal,” tandasnya.
Langkah perluasan layanan PSC 119 tersebut menjadi sinyal keseriusan Pemkab Banyuwangi dalam merespons meningkatnya persoalan kesehatan mental di kalangan generasi muda.
Selain memperkuat layanan konsultasi, edukasi kesehatan mental di lingkungan keluarga dan sekolah dinilai menjadi kunci penting untuk mencegah munculnya kasus yang lebih berat. (fre/sgt)
Editor : Ali Sodiqin