Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

RSUD Genteng Rinitis Alergi pada Anak Kian Meningkat, Debu Tungau Jadi Pemicu Utama

Titin Wulandari • Selasa, 12 Mei 2026 | 08:49 WIB
PEMERIKSAAN: Dokter Spesialis THTBKL memeriksa pasien anak di RSUD Genteng.(RSUD Genteng untuk Raba)
PEMERIKSAAN: Dokter Spesialis THTBKL memeriksa pasien anak di RSUD Genteng.(RSUD Genteng untuk Raba)

Radarbanyuwangi.id - Rinitis alergi (RA) menjadi salah satu penyakit alergi yang semakin banyak dialami masyarakat, khususnya anak-anak. Penyakit ini ditandai dengan gejala bersin berulang, hidung tersumbat, hidung gatal, serta keluarnya ingus encer dan jernih. Dalam beberapa kasus, penderita juga mengalami mata merah, gatal, dan berair.

Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorokan Bedah Kepala Leher dr Idama Asido Rohana Simanjuntak Sp THTBKL menjelaskan, selama ini rinitis alergi dianggap hanya menyerang saluran pernapasan bagian hidung. Namun, perkembangan ilmu kedokteran menunjukkan bahwa penyakit ini merupakan bagian dari respons alergi sistemik yang berkaitan erat dengan penyakit atopik lain seperti asma dan dermatitis atopik.

Menurut dr Idama, rinitis alergi terjadi akibat reaksi berlebihan sistem kekebalan tubuh terhadap zat pemicu alergi atau alergen, seperti debu, tungau, serbuk sari, hingga bulu hewan. Reaksi alergi tersebut berlangsung dalam dua tahap, yakni fase awal dan fase lanjut. “Pada fase awal, gejala biasanya muncul dalam waktu 5 hingga 15 menit setelah penderita terpapar alergen. Tubuh melepaskan histamin yang memicu bersin, rasa gatal, dan produksi lendir berlebih,” ujarnya.

Baca Juga: RSUD Genteng Komitmen Beri Layanan Profesional dan Berorientasi Keselamatan Pasien

Selain histamin, zat lain seperti leukotrien dan prostaglandin juga menyebabkan pembuluh darah di hidung melebar sehingga timbul hidung tersumbat. Beberapa jam kemudian, tubuh memasuki fase lanjut dengan melepaskan zat peradangan lain yang menarik sel-sel radang ke jaringan hidung sehingga lapisan hidung membengkak dan sumbatan menjadi lebih berat.

Dokter Idama menambahkan, pada sebagian penderita, hidung menjadi sangat sensitif akibat penumpukan sel eosinofil dan kerusakan lapisan mukosa hidung. Akibatnya, paparan ringan seperti asap rokok atau udara dingin dapat langsung memicu bersin dan hidung berair.

Faktor keturunan juga disebut berperan dalam munculnya rinitis alergi. Penelitian menunjukkan kemungkinan anak kembar identik sama-sama mengalami rinitis alergi mencapai 45 hingga 60 persen, sedangkan pada kembar tidak identik sekitar 25 persen. (*/sgt)

Editor : Titin Wulandari
#alergi pada anak #penyakit alergi #rsud genteng