RADARBANYUWANGI.ID – Lonjakan penyakit metabolik seperti hipertensi, stroke, hingga gagal ginjal mulai menjadi ancaman serius di Banyuwangi. Bahkan, kasus kini tak lagi didominasi usia lanjut, tetapi merambah kelompok usia muda. Menghadapi situasi ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyuwangi memilih langkah agresif: menggandeng semua elemen masyarakat untuk bergerak bersama menekan risiko penyakit.
Penguatan kolaborasi lintas sektor tersebut dikemas dalam kegiatan dukungan mitra potensial yang digelar di Aula dr Rasad Oesman, Kantor Dinkes Banyuwangi, Rabu (6/5). Sejumlah pihak dilibatkan, mulai dari PKK, organisasi keagamaan, organisasi perempuan, perguruan tinggi, hingga media.
Kepala Dinkes Banyuwangi, Amir Hidayat, menegaskan bahwa tantangan kesehatan pada 2026 semakin kompleks, sementara kemampuan anggaran daerah terbatas. Karena itu, strategi kolaboratif menjadi kunci utama.
“Kami mengusung semangat ‘Banyuwangi Tanggap Bareng’. Semua pihak harus bergerak bersama, karena masalah kesehatan tidak bisa ditangani pemerintah saja,” ujarnya.
Hipertensi Jadi Pintu Masuk Penyakit Mematikan
Salah satu sorotan utama adalah meningkatnya kasus penyakit metabolik. Berdasarkan hasil cek kesehatan gratis tahun 2025, sekitar 20 persen warga Banyuwangi terdeteksi mengalami hipertensi.
Kondisi ini menjadi alarm serius. Pasalnya, hipertensi dikenal sebagai pintu masuk berbagai penyakit kronis seperti jantung, stroke, hingga gagal ginjal.
“Kalau tidak kita kendalikan sekarang, ini bisa menjadi ledakan kasus di masa depan,” tegas Amir.
Yang lebih mengkhawatirkan, tren penyakit tersebut mulai muncul pada usia produktif. Pola hidup tidak sehat menjadi faktor dominan, mulai dari konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak, hingga minimnya aktivitas fisik.
Dorong Pola Hidup Sehat Lewat Germas
Sebagai langkah pencegahan, Dinkes mendorong penguatan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas). Masyarakat diimbau untuk mulai mengubah gaya hidup dengan menjaga pola makan dan rutin berolahraga.
Aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu atau 30 menit per hari menjadi standar yang dianjurkan untuk menekan risiko penyakit metabolik.
“Ini sederhana, tapi dampaknya besar jika dilakukan secara konsisten,” jelasnya.
Anemia Remaja Picu Risiko Kematian Ibu dan Bayi
Selain penyakit metabolik, Dinkes juga menyoroti tingginya angka anemia pada remaja putri yang mencapai 25,4 persen. Kondisi ini berpotensi memicu siklus masalah kesehatan yang lebih serius.
Remaja yang mengalami anemia berisiko menjadi ibu hamil dengan kondisi kesehatan rendah, yang pada akhirnya dapat meningkatkan angka kematian ibu dan bayi.
Meski terjadi penurunan kasus kematian ibu dan bayi dari 28 kasus pada 2024 menjadi 19 kasus di 2025, angka tersebut masih dinilai tinggi.
“Kalau tidak kita intervensi dari sekarang, siklus ini akan terus berulang,” ujar Amir.
Kasus Campak Naik, Imunisasi Jadi Sorotan
Di sisi lain, penyakit menular juga kembali mengintai. Kasus campak tercatat meningkat menjadi 10 kasus tahun ini, dari hanya dua kasus pada tahun sebelumnya.
Rendahnya cakupan imunisasi menjadi salah satu penyebab utama. Saat ini, sekitar 51 persen anak di Banyuwangi belum mendapatkan imunisasi campak.
Untuk mengatasi hal tersebut, Pemkab Banyuwangi mulai mendorong kebijakan sertifikat imunisasi sebagai syarat masuk PAUD dan SD.
Langkah ini ditargetkan mampu meningkatkan cakupan imunisasi hingga 90 persen, angka minimal untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity).
“Kalau herd immunity tercapai, penularan penyakit bisa ditekan. Ini yang terus kami sosialisasikan,” pungkasnya.
Kolaborasi Jadi Kunci
Dengan beragam tantangan kesehatan yang dihadapi, Dinkes menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga partisipasi aktif masyarakat.
Melalui kolaborasi lintas sektor, Banyuwangi diharapkan mampu menekan laju penyakit, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, sekaligus menciptakan sistem kesehatan yang lebih tangguh di masa depan. (fre/sgt)
Editor : Ali Sodiqin