RADARBANYUWANGI.ID – Kabupaten Banyuwangi diproyeksikan menjadi contoh nasional dalam upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Komitmen tersebut mengemuka dalam peringatan Hari Kartini 2026 tingkat Provinsi Jawa Timur yang digelar di Pendapa Sabha Swagatha Blambangan, Minggu (3/5).
Momentum ini ditandai dengan Deklarasi Gerakan Bersama Penurunan AKI dan AKB yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga masyarakat akar rumput.
Kegiatan diawali dengan jalan sehat, edukasi kesehatan, serta aksi minum tablet tambah darah bagi remaja putri sebagai langkah preventif mencegah anemia sejak dini—salah satu faktor risiko utama kematian ibu saat melahirkan.
Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci
Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Timur, serta kader PKK dan Posyandu.
Kehadiran berbagai pihak ini menegaskan bahwa isu kesehatan ibu dan bayi bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan, melainkan agenda strategis nasional yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menegaskan bahwa penurunan AKI dan AKB bukan sekadar mengejar angka statistik, tetapi menyangkut keselamatan generasi masa depan.
“Ini bukan hanya soal target angka, tapi menyelamatkan nyawa ibu dan masa depan keluarga,” ujarnya.
Target Ambisius: Menuju Zero AKI
Meski berbagai program telah dijalankan, Ipuk mengakui masih ada tantangan besar di lapangan. Mulai dari keterbatasan akses layanan kesehatan di wilayah terpencil, rendahnya literasi kesehatan masyarakat, hingga faktor sosial.
Sebagai respons, Pemkab Banyuwangi menetapkan target ambisius menuju zero AKI.
“Kematian ibu berdampak luas terhadap struktur keluarga dan kualitas sumber daya manusia. Karena itu, kita harus menekan hingga nol,” tegasnya.
Sorotan Nasional: AKI Masih Tinggi
Sekretaris Kemen PPPA, Ratna Susianawati, memberikan apresiasi terhadap langkah Banyuwangi yang dinilai progresif.
Secara nasional, AKI masih berada di kisaran 189 per 100 ribu kelahiran hidup. Pemerintah menargetkan angka tersebut turun menjadi 122 per 100 ribu dalam lima tahun ke depan.
Ratna menekankan bahwa semangat Kartini di era modern harus diwujudkan melalui penguatan peran perempuan, khususnya dalam aspek kesehatan dan keluarga.
Pemprov Jatim: Jangan Sekadar Seremoni
Pesan Gubernur Jawa Timur yang disampaikan oleh Imam Hidayat menegaskan bahwa gerakan ini tidak boleh berhenti pada seremoni.
Penurunan AKI dan AKB membutuhkan sinergi antara kebijakan pemerintah dan implementasi nyata di lapangan, termasuk peningkatan kualitas layanan kesehatan serta deteksi dini risiko kehamilan.
Strategi Konkret: Pendampingan Ibu Hamil
Sebagai tindak lanjut deklarasi, Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi, Amir Hidayat, menjelaskan bahwa fokus utama ke depan adalah pendampingan intensif terhadap ibu hamil sejak awal kehamilan.
Pendekatan ini melibatkan kader desa, tenaga kesehatan, serta keluarga sebagai sistem pendukung utama.
Strategi yang diterapkan tidak hanya menyasar aspek medis, tetapi juga faktor non-medis seperti edukasi keluarga dan peningkatan akses layanan di daerah terpencil.
Menuju Model Nasional
Dengan komitmen yang terbangun melalui deklarasi ini, Banyuwangi diharapkan mampu menjadi model nasional dalam penanganan AKI dan AKB.
Integrasi antara data yang akurat, kebijakan berkelanjutan, serta kepedulian sosial menjadi kunci utama dalam memastikan keselamatan ibu dan bayi.
Langkah Banyuwangi ini sekaligus menegaskan bahwa pembangunan kesehatan tidak bisa berjalan sendiri, melainkan membutuhkan gerakan bersama yang konsisten dan berkelanjutan. (fre/sgt)
Editor : Ali Sodiqin