Radarbanyuwangi.id - Penguatan kesehatan mental menjadi bagian penting dalam pendampingan pasien penyakit kronis. Di tengah proses pengobatan yang berlangsung dalam jangka panjang, pasien tidak hanya menghadapi tantangan fisik, tetapi juga tekanan psikologis yang dapat memengaruhi kualitas hidup serta keberhasilan terapi.
Pasien dengan penyakit kronis kerap mengalami berbagai kondisi psikologis, mulai stres, kecemasan, hingga depresi. Situasi ini muncul sebagai respons terhadap rasa sakit berkepanjangan, ketidakpastian proses penyembuhan, serta perubahan dalam aktivitas sehari-hari.
Psikolog klinis di RSUD Genteng Ratna Azkia Rakhmandari menjelaskan, aspek mental memiliki peran yang tidak kalah penting dibandingkan penanganan medis.
“Pasien penyakit kronis sering kali menghadapi tekanan emosional yang berat. Jika kondisi mental tidak terkelola dengan baik, hal ini dapat memengaruhi kepatuhan pasien terhadap pengobatan dan memperlambat proses pemulihan,” ujar Ratna.
Menurut dia, pendampingan psikologis diperlukan untuk membantu pasien mengenali dan mengelola emosi yang muncul selama menjalani pengobatan. Pendekatan ini juga bertujuan meningkatkan resiliensi atau ketahanan mental pasien agar mampu beradaptasi dengan kondisi penyakit yang dihadapi.
Ratna menambahkan, dukungan psikologis tidak hanya diberikan kepada pasien, tetapi juga kepada keluarga sebagai bagian dari sistem pendukung utama. Keluarga dinilai memiliki peran strategis dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi proses penyembuhan.
“Edukasi kepada keluarga penting agar mereka memahami kondisi psikologis pasien sehingga dapat memberikan dukungan yang tepat dan tidak justru menambah beban mental,” katanya.
Sebagai upaya menghadirkan layanan kesehatan yang komprehensif, RSUD Genteng menyediakan layanan pendampingan psikologis bagi pasien kronis. Layanan ini dilakukan secara terintegrasi dengan perawatan medis, sehingga pasien mendapatkan penanganan yang menyeluruh, baik secara fisik maupun mental.
Pendampingan tersebut mencakup konseling individu, edukasi psikologis, hingga teknik pengelolaan stres yang disesuaikan dengan kondisi pasien. Dengan pendekatan ini, diharapkan pasien mampu menjalani proses pengobatan dengan lebih tenang dan optimistis.
Ratna menegaskan, kesehatan mental yang terjaga dapat memberikan dampak positif terhadap kualitas hidup pasien. Selain itu, kondisi psikologis yang stabil juga berkontribusi pada peningkatan respons terhadap terapi medis.
“Ketika pasien memiliki kondisi mental yang lebih stabil, mereka cenderung lebih kooperatif dalam menjalani pengobatan. Ini tentu berdampak pada hasil terapi yang lebih optimal,” ujarnya.
Ke depan, layanan kesehatan yang mengintegrasikan aspek fisik dan mental diharapkan semakin diperkuat. Pendekatan holistik dinilai menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas pelayanan serta memberikan hasil terbaik bagi pasien penyakit kronis. (*/sgt)
Editor : Titin Wulandari