Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kasus DBD Banyuwangi Mulai Naik Saat Pancaroba, Dinkes Wanti-Wanti Ancaman Nyamuk Aedes

Fredy Rizki Manunggal • Jumat, 17 April 2026 | 06:30 WIB
WASPADA: Kabupaten Banyuwangi mengalami peningkatan jumlah kasus DBD tahun 2024 mulai Januari sampai April
WASPADA: Kabupaten Banyuwangi mengalami peningkatan jumlah kasus DBD saat musim pancaroba.

RADARBANYUWANGI.ID – Tren kasus demam berdarah dengue (DBD) di Banyuwangi mulai menunjukkan kenaikan seiring masuknya masa pancaroba. Meski jumlahnya masih relatif kecil, Dinas Kesehatan (Dinkes) mengingatkan potensi lonjakan lebih besar jika masyarakat lengah.

Data terbaru mencatat, lonjakan mulai terlihat sejak Maret 2026. Setelah relatif landai pada awal tahun, kasus DBD tiba-tiba meningkat hingga tiga kali lipat dalam satu bulan.

Kepala Dinkes Banyuwangi, Amir Hidayat, mengungkapkan bahwa pada Januari dan Februari masing-masing hanya tercatat dua kasus. Namun pada Maret, jumlahnya melonjak menjadi enam kasus.

“Mulai Maret ada peningkatan. Januari dan Februari masing-masing dua kasus, lalu Maret menjadi enam kasus,” ujarnya.

Kenaikan ini disebut bukan kebetulan. Kondisi cuaca ekstrem yang berubah-ubah selama pancaroba menjadi faktor utama berkembangnya nyamuk Aedes aegypti, vektor penyebab DBD.

Menurut Amir, kombinasi hujan dan panas justru menciptakan kondisi ideal bagi nyamuk berkembang biak. Air hujan yang tidak meluap akan mengendap di berbagai wadah, menjadi tempat bertelur yang efektif.

“Kalau hujan deras, air biasanya meluap dan tidak jadi sarang. Tapi kalau hujan disertai panas, air menggenang. Itu menjadi tempat berkembang biak yang sangat baik untuk nyamuk,” jelasnya.

Situasi ini dinilai lebih berbahaya karena sering kali tidak disadari masyarakat. Genangan kecil di lingkungan rumah, seperti di bak mandi, talang air, hingga wadah bekas, bisa menjadi titik awal penyebaran DBD.

Meski belum ada laporan kematian akibat DBD hingga saat ini, Dinkes menegaskan kondisi ini tidak boleh dianggap sepele. Pengalaman di tahun-tahun sebelumnya menunjukkan lonjakan kasus bisa terjadi cepat jika pencegahan tidak dilakukan sejak dini.

“Alhamdulillah belum ada yang meninggal. Tapi kewaspadaan harus tetap ditingkatkan,” tegas Amir.

Dinkes pun mengintensifkan langkah antisipasi. Seluruh puskesmas dan petugas surveilans diminta aktif memantau perkembangan kasus di wilayah masing-masing. Selain itu, edukasi kepada masyarakat terus digencarkan.

Fokus utama pencegahan tetap pada pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Warga diminta rutin melakukan langkah sederhana seperti menguras, menutup, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air.

Namun di lapangan, tantangan terbesar justru ada pada kedisiplinan masyarakat. Kebiasaan menunda membersihkan lingkungan sering kali menjadi celah bagi nyamuk berkembang biak tanpa disadari.

Jika tren kenaikan ini tidak segera ditekan, bukan tidak mungkin Banyuwangi akan kembali menghadapi lonjakan kasus DBD seperti yang pernah terjadi sebelumnya.

Pancaroba pun menjadi fase krusial. Antara perubahan cuaca dan kelengahan manusia, nyamuk Aedes aegypti menemukan ruang untuk berkembang—dan ancaman DBD kembali mengintai.(fre/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#DBD Banyuwangi #pancaroba 2026 #aedes aegypti #Dinkes Banyuwangi #kasus demam berdarah