Bupati Ipuk Sambut 82 Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Surabaya, Siap Bantu Tangani Sanitasi dan Air Bersih di Banyuwangi

Sigit Hariyadi • Dipublikasikan Rabu, 8 April 2026 | 04:00 WIB
Bupati Ipuk Fiestiandani menerima cinderamata dari Direktur Poltekkes Kemenkes Surabaya Luthfi Rusyadi pada rangkaian prosesi serah terima mahasiswa peserta PKK di pendapa Sabha Swagata Blambangan Senin (6/4). (Dini for Radar Banyuwangi)
Bupati Ipuk Fiestiandani menerima cinderamata dari Direktur Poltekkes Kemenkes Surabaya Luthfi Rusyadi pada rangkaian prosesi serah terima mahasiswa peserta PKK di pendapa Sabha Swagata Blambangan Senin (6/4). (Dini for Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyambut kedatangan 82 mahasiswa Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes) Surabaya yang akan menjalani Praktik Kerja Komunitas (PKK) di sejumlah wilayah Banyuwangi.

Mahasiswa semester enam Program Studi Sanitasi Diploma Tiga Jurusan Kesehatan Lingkungan tersebut diterima langsung di Pendapa Sabha Swagata Blambangan, Senin (6/4).

Kegiatan ini menjadi bagian dari sinergi antara dunia pendidikan dan pemerintah daerah dalam membantu penanganan persoalan kesehatan masyarakat, khususnya di bidang sanitasi, air bersih, dan lingkungan sehat.


Terjun 20 Hari di Tengah Masyarakat

Sebanyak 82 mahasiswa akan diterjunkan selama 20 hari, mulai 6 hingga 25 April 2026, untuk melakukan identifikasi masalah sekaligus membantu penanganan persoalan kesehatan lingkungan di masyarakat.

Direktur Poltekkes Kemenkes Surabaya Luthfi Rusyadi hadir langsung bersama jajaran untuk menyerahkan para mahasiswa peserta PKK kepada Pemkab Banyuwangi.

Para mahasiswa nantinya akan berinteraksi langsung dengan masyarakat di lapangan untuk memetakan persoalan lingkungan, akses sanitasi, hingga ketersediaan air bersih.

Bupati Ipuk menyampaikan apresiasi atas dipilihnya Banyuwangi sebagai lokasi kegiatan praktik lapangan tersebut.

“Terima kasih kepada Poltekkes Kemenkes yang sudah berkenan melakukan kegiatan PKK di sini. Kami berharap kehadiran mahasiswa ini dapat berkontribusi dalam membantu mengatasi sebagian dari berbagai persoalan kesehatan di Banyuwangi,” ujar Ipuk.


Tantangan Sanitasi Masih Besar

Ipuk menegaskan bahwa persoalan sanitasi dan akses air bersih masih menjadi tantangan serius yang harus dihadapi bersama.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), masih terdapat 6,78 persen rumah tangga yang belum memiliki akses air minum layak.

Sementara itu, akses sanitasi yang tergolong aman baru mencapai 10,30 persen.

Bahkan secara umum di Jawa Timur, angka rumah tangga dengan akses sanitasi layak disebut masih belum mencapai 90 persen.

Kondisi ini menunjukkan bahwa peran tenaga kesehatan lingkungan dan sanitasi masih sangat dibutuhkan.

“Ini menjadi tantangan bersama. Kami berharap mahasiswa dapat membantu meningkatkan capaian sanitasi, air bersih, dan kesehatan lingkungan terutama di Banyuwangi,” tegas Ipuk.


Mahasiswa Diminta Asah Kepekaan Sosial

Dalam arahannya, Ipuk juga mengingatkan para mahasiswa bahwa praktik lapangan memiliki tantangan berbeda dibanding pembelajaran teori di kampus.

Menurutnya, kegiatan PKK menjadi momentum penting bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan analisis, kepekaan sosial, dan keterampilan mencari solusi nyata di masyarakat.

“Praktik lapangan berbeda dengan teori yang didapat saat kuliah. Ini kesempatan untuk mengasah kepekaan sekaligus kemampuan merumuskan solusi yang tepat,” katanya.

Ia menilai kompetensi mahasiswa Prodi Sanitasi sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat, terutama di wilayah yang masih membutuhkan peningkatan layanan kesehatan lingkungan.


Tiga Puskesmas Jadi Lokasi PKK

Sementara itu, Direktur Poltekkes Kemenkes Surabaya Luthfi Rusyadi menjelaskan bahwa kegiatan PKK tahun ini dipusatkan di dua kecamatan dengan tiga puskesmas sebagai wilayah kerja.

Lokasi tersebut meliputi:

Dua lokasi pertama berada di Kecamatan Srono, sementara satu lainnya berada di Kecamatan Muncar.

Wilayah-wilayah tersebut dipilih berdasarkan kebutuhan dan potensi persoalan sanitasi serta kesehatan lingkungan yang bisa menjadi bahan praktik mahasiswa.


Tahun Depan Ditambah 170 Mahasiswa

Luthfi mengungkapkan, kerja sama dengan Banyuwangi berpotensi diperluas pada tahun depan.

Jika tahun ini baru melibatkan 82 mahasiswa D3, maka pada tahun depan jumlah peserta diproyeksikan meningkat signifikan.

“Insya Allah tahun depan akan kita tambah dengan sarjana terapan sekitar 170 mahasiswa dan kemungkinan diperluas ke beberapa kecamatan,” ujarnya.

Dengan perluasan ini, manfaat program diharapkan semakin besar bagi masyarakat Banyuwangi.


Peluang Buka Program Studi di Banyuwangi

Tidak hanya itu, Poltekkes Kemenkes Surabaya juga membuka peluang pengembangan pendidikan kesehatan di Banyuwangi.

Menurut Luthfi, pihaknya melihat potensi besar untuk membuka program studi di Banyuwangi, sehingga masyarakat di ujung timur Pulau Jawa tidak harus jauh-jauh kuliah ke Surabaya.

“Kami melihat potensi untuk membuka prodi di Banyuwangi agar masyarakat yang berminat kuliah di kampus kami tidak harus jauh-jauh ke Surabaya,” pungkasnya.

Langkah ini dinilai bisa memperluas akses pendidikan tinggi bidang kesehatan bagi putra-putri daerah. (sgt)

Editor : Ali Sodiqin
Poltekkes Surabaya sanitasi Banyuwangi air bersih Banyuwangi praktik kerja komunitas Ipuk Fiestiandani