Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

RSUD Genteng Kasus Demensia Meningkat, Masyarakat Diminta Waspada Penyakit Pikun

Titin Wulandari • Selasa, 31 Maret 2026 | 08:49 WIB
SKRINING: Pasien Menjalani Tes Singkat-Pemeriksaan Kondisi Mental (Mini-Mental State Examination/MMSE) di RSUD Genteng.( RSUD GENTENG UNTUK RABA)
SKRINING: Pasien Menjalani Tes Singkat-Pemeriksaan Kondisi Mental (Mini-Mental State Examination/MMSE) di RSUD Genteng.( RSUD GENTENG UNTUK RABA)

 

RadarBanyuwangi.id - Peningkatan angka harapan hidup penduduk Indonesia membawa konsekuensi pada semakin kompleksnya masalah kesehatan, terutama penyakit degeneratif. Salah satu yang kini menjadi perhatian di bidang neurologi adalah demensia atau yang kerap dikenal sebagai pikun.

Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS), angka harapan hidup masyarakat Indonesia mencapai 73,6 tahun pada 2022. Kondisi ini menunjukkan keberhasilan pembangunan kesehatan, namun di sisi lain turut meningkatkan risiko munculnya penyakit terkait usia lanjut, termasuk demensia.

Secara global, jumlah penderita demensia saat ini mencapai sekitar 55 juta orang dengan penambahan 10 juta kasus baru setiap tahunnya. Penyakit ini disebabkan oleh berbagai gangguan dan cedera yang memengaruhi fungsi otak. Bentuk yang paling umum adalah Demensia Alzheimer, yang mencakup sekitar 60 hingga 70 persen dari seluruh kasus.

Baca Juga: RSUD Genteng Tingkatkan Layanan Bedah Mulut, Penanganan Luka Rongga Mulut Dilakukan Profesional di Kamar Operasi

Demensia bahkan tercatat sebagai penyebab kematian ketujuh di dunia sekaligus menjadi salah satu penyebab utama kecacatan dan ketergantungan pada kelompok lanjut usia.

Dokter spesialis saraf dari RSUD Genteng dr Anisa Khoiriyah SpN menjelaskan, demensia merupakan istilah untuk gangguan yang memengaruhi daya ingat, kemampuan berpikir, serta aktivitas sehari-hari.Demensia biasanya diawali dengan perubahan suasana hati, emosi, perilaku, atau motivasi, sebelum akhirnya terjadi penurunan fungsi kognitif,” ujarnya.

Ia menambahkan, terdapat sejumlah faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami demensia, di antaranya usia di atas 65 tahun, faktor genetik, tekanan darah tinggi, diabetes, obesitas, kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol, depresi, riwayat cedera kepala, serta kurangnya aktivitas fisik.

Adapun gejala yang sering muncul meliputi penurunan daya ingat, kesulitan berkomunikasi, sering merasa bingung, kesulitan menyelesaikan tugas kompleks, hingga perubahan kepribadian. Pada kondisi tertentu, pasien juga dapat mengalami kecemasan, gelisah, bahkan halusinasi.

Baca Juga: Perawatan Saluran Akar di RSUD Genteng Banyuwangi, Solusi Atasi Nyeri Gigi Tanpa Cabut Gigi

Meski belum dapat disembuhkan sepenuhnya, penanganan demensia bertujuan untuk memperlambat perkembangan penyakit. Dukungan keluarga menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas hidup pasien. “Yang terpenting adalah menjaga pasien tetap aktif secara fisik, mengonsumsi makanan sehat, berhenti merokok, serta tetap bersosialisasi dengan keluarga dan teman,” jelasnya.

Masyarakat juga diimbau untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan, khususnya poli saraf apabila mulai merasakan gejala yang mengarah pada demensia. Deteksi dini dinilai sangat penting untuk memperlambat progresivitas penyakit dan meningkatkan kualitas hidup penderita. (sgt)

Editor : Titin Wulandari
#dokter spesialis #penyakit #rsud genteng #demensia