Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kemenkes Ungkap Risiko Post-Holiday Blues Usai Mudik Lebaran, Ini Gejala dan Cara Mengatasinya

Lugas Rumpakaadi • Jumat, 27 Maret 2026 | 08:40 WIB
Ilustrasi fenomena post-holiday blues usai mudik Lebaran. (Pexels/Rachel Claire)
Ilustrasi fenomena post-holiday blues usai mudik Lebaran. (Pexels/Rachel Claire)

 

RADARBANYUWANGI.ID - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) menegaskan bahwa tradisi mudik Lebaran bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan sebuah ritual sosial yang sarat makna emosional. Namun, di balik euforia kebersamaan, terdapat potensi munculnya dinamika psikologis yang dikenal sebagai post-holiday blues.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menjelaskan bahwa kondisi ini kerap dialami masyarakat setelah libur panjang Lebaran. Gejalanya meliputi perasaan sedih, kelelahan, kecemasan, hingga menurunnya motivasi dan konsentrasi.

“Survei World Travel & Tourism Council (WTTC) tahun 2023 mencatat 41 persen pemudik Indonesia mengalami gejala kecemasan dan depresi ringan hingga sedang,” ujar Imran, Kamis (26/3/2026), dikutip Antara.

Fenomena ini, lanjutnya, dipicu oleh berbagai faktor seperti perjalanan panjang, tekanan finansial selama liburan, serta ekspektasi sosial untuk tampil bahagia dan sukses di hadapan keluarga. Dampaknya tidak hanya dirasakan secara individu, tetapi juga berimbas pada produktivitas kerja dan beban ekonomi akibat absensi maupun penurunan kinerja.

Imran menyoroti bahwa rendahnya tingkat pencarian bantuan kesehatan mental di Indonesia masih menjadi tantangan. Stigma sosial dan keterbatasan akses layanan membuat banyak kasus tidak tertangani secara optimal.

Kemenkes menyarankan sejumlah langkah sederhana untuk mengatasi post-holiday blues. Salah satunya adalah melakukan transisi bertahap sebelum kembali ke rutinitas kerja.

“Setelah libur panjang, sebaiknya ambil satu hingga dua hari untuk menata ulang rutinitas sebelum kembali bekerja penuh,” kata Imran.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga rutinitas kesehatan dasar, seperti tidur cukup, konsumsi makanan seimbang, serta olahraga ringan. Selain itu, menjaga koneksi sosial dengan keluarga atau sahabat melalui komunikasi rutin dinilai efektif mengurangi rasa kehilangan.

Paparan media sosial juga perlu dibatasi agar tidak memicu perbandingan sosial yang berujung pada penurunan suasana hati. Aktivitas di ruang publik seperti taman atau komunitas olahraga dapat membantu mengurangi rasa isolasi.

“Jika gejala berlanjut lebih dari dua minggu atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater,” tegasnya.

Imran menambahkan bahwa post-holiday blues merupakan fenomena global yang juga terjadi di berbagai negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan Kanada, terutama setelah libur Natal dan Tahun Baru.

Di Indonesia, beberapa kelompok dinilai lebih rentan, seperti remaja dan mahasiswa yang berada dalam masa transisi, perantau yang merasakan kesepian setelah kembali ke kota, perempuan dengan tekanan sosial dan peran ganda, serta lansia yang menghadapi risiko kesepian dan penyakit kronis.

Lebaran 2026 sendiri diprediksi menjadi salah satu arus mudik terbesar dalam sejarah, dengan lebih dari 120 juta perjalanan tercatat. Lonjakan mobilitas ini berpotensi memperbesar dampak psikologis pascaliburan.

Post-holiday blues bukanlah kelemahan, melainkan fenomena manusiawi yang bisa diatasi dengan dukungan sosial, kesadaran diri, dan intervensi tepat,” kata Imran.

Ia menekankan bahwa dengan pemahaman yang baik, momen Lebaran tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga peluang untuk membangun ketahanan mental bersama.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#post holiday blues #kemenkes #lebaran #mudik