RADARBANYUWANGI.ID – Bulan Ramadan menjadi momen yang dinanti umat Islam untuk menjalankan ibadah puasa sekaligus memperkuat keimanan.
Suasana sahur dan berbuka bersama keluarga, salat tarawih, hingga berbagai aktivitas ibadah lainnya menjadi bagian dari kebersamaan yang penuh makna.
Namun, bagi penderita hipertensi dan asam lambung, puasa tidak bisa dijalani tanpa persiapan.
Pengelolaan pola makan, konsumsi obat, serta pemantauan kondisi tubuh menjadi kunci agar ibadah tetap lancar tanpa memicu kekambuhan penyakit.
Dokter umum RSI Fatimah Banyuwangi, dr Yusin Aulia, menegaskan bahwa penderita hipertensi tetap diperbolehkan berpuasa selama kondisi tekanan darah terkontrol dengan baik.
“Penderita hipertensi tetap boleh berpuasa selama tekanan darah terkontrol dan obat dikonsumsi sesuai anjuran dokter. Selain itu, penting menjaga pola makan, membatasi asupan garam, serta mencukupi kebutuhan cairan saat berbuka dan sahur,” ujarnya melalui podcast edukasi kesehatan.
Tekanan Darah Harus Stabil
Hipertensi yang tidak terkontrol berisiko memicu komplikasi serius, seperti stroke maupun gangguan jantung.
Karena itu, pasien dianjurkan untuk rutin memantau tekanan darah, terutama pada awal Ramadan saat tubuh masih beradaptasi dengan perubahan pola makan dan jam istirahat.
Selain menghindari makanan tinggi garam, pasien hipertensi juga disarankan membatasi makanan olahan dan memperbanyak konsumsi buah serta sayur.
Pola makan seimbang saat sahur membantu menjaga energi dan kestabilan tekanan darah sepanjang hari.
Penderita Asam Lambung Perlu Atur Pola Makan
Selain hipertensi, penderita asam lambung atau GERD juga perlu memperhatikan kebiasaan makan selama Ramadan.
Perubahan jadwal makan yang cukup drastis dapat memicu peningkatan produksi asam lambung jika tidak diatur dengan baik.
“Sahur tetap penting dan sebaiknya tidak langsung berbaring setelah makan, karena dapat memicu peningkatan asam lambung,” tambah dr Yusin.
Ia juga menyarankan untuk menghindari makanan pedas, berlemak, serta minuman berkafein saat sahur dan berbuka.
Makan dalam porsi kecil namun cukup, serta mengunyah makanan secara perlahan, dapat membantu mencegah keluhan nyeri ulu hati dan rasa terbakar di dada.
Konsultasi Sebelum Ramadan
Bagi pasien dengan riwayat penyakit kronis, konsultasi sebelum menjalankan puasa sangat dianjurkan.
Penyesuaian dosis dan jadwal konsumsi obat sering kali diperlukan agar terapi tetap efektif selama Ramadan.
“Konsultasi bertujuan untuk memastikan kondisi kesehatan tetap stabil serta mendapatkan penyesuaian terapi yang sesuai,” tandasnya.
RSI Fatimah Banyuwangi menyediakan layanan konsultasi melalui Poli Penyakit Dalam yang ditangani oleh dokter spesialis berpengalaman.
Layanan tersebut antara lain:
-
dr Arwin Achijar, SpPD, setiap Senin hingga Sabtu pukul 09.00–11.00 WIB
-
dr Hery Subiakto, SpPD, setiap Selasa hingga Kamis pukul 15.00–17.00 WIB
-
dr Adi Mulyono, SpPD, setiap Senin hingga Jumat pukul 18.00–20.00 WIB
Informasi lebih lanjut serta pendaftaran dapat dilakukan melalui customer service di nomor 082143400321.
Edukasi Kesehatan Berkelanjutan
Melalui layanan konsultasi dan edukasi kesehatan, RSI Fatimah Banyuwangi berkomitmen membantu masyarakat menjalankan ibadah puasa secara aman dan nyaman, khususnya bagi penderita hipertensi, asam lambung, dan penyakit dalam lainnya.
Dengan pengelolaan yang tepat, puasa tidak hanya menjadi ibadah spiritual, tetapi juga dapat memberikan manfaat kesehatan seperti membantu mengontrol berat badan dan memperbaiki pola makan.
Kuncinya, disiplin menjalankan anjuran medis dan tidak ragu berkonsultasi apabila muncul keluhan selama berpuasa. Dengan begitu, Ramadan dapat dijalani dengan tenang, sehat, dan penuh keberkahan. (*)
Editor : Ali Sodiqin