RADARBANYUWANGI.ID - Kanker serviks atau kanker mulut rahim masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada perempuan di dunia, termasuk di Indonesia.
Minimnya kesadaran deteksi dini membuat banyak kasus baru terdiagnosis saat memasuki stadium lanjut.
Kondisi ini terungkap dalam kegiatan Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) yang digelar di ruang tunggu rawat jalan RS Al Huda Banyuwangi, Rabu (18/2).
Edukasi tersebut menjadi bagian dari komitmen rumah sakit dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat, khususnya terkait bahaya kanker serviks.
Disebabkan Virus HPV, Gejala Sering Diabaikan
Bidan senior RSAH, Denik Suci Murniasari, SKeb, menjelaskan bahwa kanker serviks terjadi pada bagian mulut rahim atau serviks, yakni bagian bawah rahim yang membuka ke arah liang vagina.
“Penyakit ini disebabkan oleh virus HPV (Human Papilloma). Wanita yang terinfeksi virus HPV pada usia belasan tahun, baru diketahui mengidap kanker pada usia 20 hingga 30 tahun kemudian setelah infeksi berkembang dan menyebar,” jelasnya.
Menurutnya, infeksi HPV risiko tinggi menjadi faktor utama munculnya kanker serviks. Sayangnya, proses perkembangan penyakit ini berlangsung perlahan dan sering kali tanpa gejala signifikan di tahap awal.
Kenali Gejala Sejak Dini
Denik memaparkan sejumlah gejala kanker serviks yang perlu diwaspadai, antara lain:
- Keputihan tidak normal menyerupai air berwarna pink atau cokelat
- Nyeri saat berhubungan intim, terkadang disertai perdarahan
- Nyeri panggul atau tulang belakang
- Pembengkakan pada kaki
- Buang air kecil terasa sakit dan berdarah
- Perdarahan di luar siklus menstruasi
- Menstruasi dengan volume darah berlebihan
- Nafsu makan menurun dan mudah lelah
“Sebagian orang sering menyepelekan gejala tersebut dan menganggapnya sebagai keluhan biasa seperti saat menstruasi. Hal inilah yang menyebabkan angka kematian tinggi karena pasien baru mengetahui menderita kanker serviks saat sudah stadium lanjut,” bebernya.
Pap Smear dan Tes HPV DNA Jadi Kunci Deteksi Dini
Deteksi dini menjadi langkah paling efektif mencegah kanker serviks berkembang menjadi lebih parah. Denik menegaskan, pemeriksaan pap smear sangat dianjurkan bagi perempuan.
“Langkah deteksi dini terhadap kanker serviks ini adalah pemeriksaan pap smear dan bila diperlukan dilanjutkan tes HPV DNA untuk mendeteksi serta menegakkan diagnosis keberadaan virus HPV risiko tinggi,” katanya.
Pap smear direkomendasikan minimal satu tahun sekali bagi wanita berusia di atas 25 tahun, sudah menikah, atau telah memiliki anak.
Pemeriksaan ini bertujuan mendeteksi perubahan sel di leher rahim sebelum berkembang menjadi kanker.
Dengan deteksi dini, terapi lanjutan bisa segera dilakukan sehingga sel kanker tidak berkembang lebih luas.
Vaksin HPV Tersedia di RS Al Huda Banyuwangi
Selain pap smear, langkah pencegahan lain yang sangat dianjurkan adalah vaksinasi HPV.
Vaksin ini efektif mencegah infeksi virus HPV penyebab kanker serviks, terutama bila diberikan sejak usia remaja.
“Selain pap smear, langkah deteksi dini lain yang bisa dilakukan yaitu vaksin kanker serviks yang bisa diberikan kepada remaja wanita. Vaksin ini juga sudah tersedia di RSAH,” jelas Denik.
Ketersediaan layanan vaksin HPV dan pap smear di RS Al Huda Banyuwangi menjadi bagian dari upaya komprehensif rumah sakit dalam menekan angka kasus kanker serviks di wilayah Banyuwangi dan sekitarnya.
Komitmen Edukasi dan Pelayanan Kesehatan Perempuan
Melalui kegiatan PKRS dan layanan klinis yang tersedia, RS Al Huda Banyuwangi terus mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya pemeriksaan rutin kesehatan reproduksi.
Deteksi dini bukan hanya menyelamatkan nyawa, tetapi juga menjaga kualitas hidup perempuan dalam jangka panjang.
Dengan pemeriksaan rutin dan vaksinasi yang tepat, risiko kanker serviks dapat ditekan secara signifikan.
Masyarakat yang membutuhkan informasi dan pelayanan pap smear maupun vaksin HPV dapat datang langsung ke Klinik Rawat Jalan RS Al Huda Banyuwangi di Jalan Raya Gambiran Nomor 225 atau menghubungi nomor 0815-1587-7699.
Langkah sederhana seperti pemeriksaan rutin dan vaksinasi bisa menjadi kunci utama melindungi perempuan dari ancaman kanker serviks. (*)
Editor : Ali Sodiqin