Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kolaborasi Unair–Griffith University Perkuat Kesehatan Ibu dan Bayi di Desa Kemiren Banyuwangi

Sigit Hariyadi • Jumat, 20 Februari 2026 | 04:45 WIB
KOLABORASI: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga bersama tim dari Griffith University menggelar pengabdian kepada masyarakat di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah.
KOLABORASI: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga bersama tim dari Griffith University menggelar pengabdian kepada masyarakat di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah.

RADARBANYUWANGI.ID – Kolaborasi internasional kembali menguat di kabupaten ujung timur Pulau Jawa.

Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga bersama tim dari Griffith University Australia menggelar pengabdian kepada masyarakat di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, pada 10–11 Februari lalu.

Mengusung tema penguatan kesehatan ibu dan bayi di komunitas adat, kegiatan tersebut menyasar masyarakat Oseng Banyuwangi dengan pendekatan berbasis budaya dan partisipatif.

Program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi kesehatan sekaligus membangun model intervensi yang selaras dengan kearifan lokal.

Photo
Photo

Komitmen Nyata Perguruan Tinggi

Dekan FKM Unair, Prof Ratna Dwi Wulandari PhD, yang hadir langsung di pendapa desa adat Oseng, menegaskan bahwa kolaborasi ini bukan sekadar kunjungan akademik.

Menurutnya, kerja sama internasional tersebut merupakan wujud nyata komitmen perguruan tinggi dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, khususnya ibu dan anak.

“Kami ingin memastikan bahwa ilmu kesehatan masyarakat tidak berhenti di ruang kelas atau jurnal ilmiah. Ilmu itu harus hadir di tengah masyarakat, terutama untuk ibu dan anak sebagai fondasi generasi masa depan,” ujarnya.

Ratna menambahkan, tantangan kesehatan ibu dan bayi di Indonesia masih membutuhkan pendekatan komprehensif yang tidak hanya medis, tetapi juga sosial dan budaya.

Pendekatan Dialogis Berbasis Budaya Oseng

Senada, Prof Nyoman Anita Damayanti PhD selaku fasilitator kegiatan menjelaskan, pendekatan yang digunakan dalam pengabdian ini menekankan keterlibatan aktif masyarakat serta pemangku kepentingan lokal.

Menurutnya, kesehatan ibu dan bayi tidak dapat dilepaskan dari faktor sosial, budaya, serta kepercayaan yang hidup dan berkembang di komunitas adat.

“Kami melakukan literasi kesehatan sekaligus menggali persepsi masyarakat tentang imunisasi, TB anak, dan praktik kesehatan keluarga. Pendekatannya dialogis, bukan menggurui. Justru dari masyarakat kami belajar banyak tentang konteks lokal yang harus dihormati,” jelasnya.

Pendekatan berbasis budaya ini dinilai efektif dalam membangun kepercayaan masyarakat Oseng Banyuwangi. Interaksi dua arah membuat pesan kesehatan lebih mudah diterima dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Edukasi ASI, Imunisasi, hingga TB Anak

Selama dua hari kegiatan, tim memberikan edukasi komprehensif mengenai pentingnya ASI eksklusif, imunisasi lengkap, serta pengurangan stigma terhadap penyakit tertentu, termasuk tuberkulosis (TB) pada anak.

Selain itu, masyarakat juga mendapatkan pemahaman mengenai mitos dan fakta seputar TB anak, serta pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (Toga) sebagai bagian dari penguatan kesehatan keluarga berbasis rumah tangga.

Tak hanya edukasi, kegiatan juga diisi dengan cek kesehatan gratis (CKG). Pemeriksaan meliputi tekanan darah, gula darah, serta skrining ibu hamil untuk mendeteksi dini faktor risiko komplikasi kehamilan.

Langkah tersebut dinilai strategis sebagai upaya promotif dan preventif, sehingga potensi masalah kesehatan dapat diantisipasi sejak awal.

Selaras Transformasi Layanan Kesehatan Primer

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyuwangi, Amir Hidayat, menyambut baik kolaborasi internasional tersebut. Ia menilai kegiatan ini sejalan dengan arah transformasi layanan kesehatan primer yang menitikberatkan pada upaya promotif dan preventif.

“Deteksi dini adalah kunci. Banyak komplikasi kehamilan maupun penyakit tidak menular sebenarnya bisa dicegah bila faktor risikonya dikenali lebih awal,” ujarnya.

Amir menambahkan, Desa Kemiren berpotensi menjadi model penguatan literasi kesehatan berbasis budaya lokal. Pendekatan yang menghargai kearifan masyarakat Oseng diyakini lebih efektif dalam membangun partisipasi warga.

“Kesehatan bukan hanya soal layanan di puskesmas atau rumah sakit. Kesehatan dimulai dari rumah, dari ibu sebagai penggerak keluarga. Ketika ibu paham tentang ASI, imunisasi, dan pola hidup sehat, maka dampaknya akan meluas ke seluruh anggota keluarga,” tegasnya.

Menuju Model Kesehatan Berbasis Komunitas

Kegiatan ditutup dengan diskusi interaktif antara akademisi, tenaga kesehatan, pemerintah daerah, dan masyarakat. Sebagai simbol komitmen bersama membangun keluarga sehat, dilakukan pula penanaman Tanaman Obat Keluarga (Toga).

Kolaborasi antara akademisi internasional, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan komunitas adat ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam memperkuat kesehatan ibu dan bayi di Banyuwangi.

Ke depan, model pendekatan berbasis budaya seperti yang diterapkan di Desa Kemiren diharapkan dapat direplikasi di wilayah lain. Dengan demikian, peningkatan derajat kesehatan ibu dan anak tidak hanya menjadi program, tetapi gerakan bersama yang tumbuh dari komunitas itu sendiri. (sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#Unair #budaya oseng #dinkes #Griffith University #banyuwangi