Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Nyeri Dada Kerap Disangka Sakit Lambung, RSUD Genteng Ingatkan Waspada Gejala Penyakit Jantung

Ali Sodiqin • Selasa, 3 Februari 2026 | 08:48 WIB

YANKES: Dr Hidayanto Perdana SpJP mendampingi pasien di RSUD Genteng.
YANKES: Dr Hidayanto Perdana SpJP mendampingi pasien di RSUD Genteng.

RADARBANYUWANGI.ID - RSUD Genteng mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap keluhan nyeri dada yang kerap disalahartikan sebagai sakit lambung.

Pasalnya, gejala gangguan lambung dan penyakit jantung sering kali mirip, namun memiliki tingkat risiko yang sangat berbeda.

Penyakit jantung, jika terlambat ditangani, dapat berujung pada kondisi gawat darurat hingga kematian.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah RSUD Genteng, dr Hidayanto Perdana SpJP, menjelaskan bahwa kemiripan gejala tersebut bukan tanpa sebab.

Letak organ jantung dan lambung yang berdekatan serta memiliki jalur persarafan yang saling berhubungan membuat keluhan yang dirasakan pasien kerap sulit dibedakan.

“Nyeri dada, sesak napas, keringat dingin, mual, hingga muntah bisa muncul baik pada gangguan jantung maupun lambung. Namun, penanganannya sangat berbeda dan tidak boleh disamakan,” ujar dr Hidayanto.

Kenali Ciri Nyeri Dada Akibat Penyakit Jantung

Menurut dr Hidayanto, penyakit jantung yang paling sering ditemui adalah penyakit jantung koroner, yang disebabkan oleh penyempitan pembuluh darah koroner.

Gejala utama yang perlu diwaspadai adalah nyeri dada yang terasa seperti ditekan atau tertimpa benda berat.

“Nyeri dada akibat jantung biasanya tidak bisa ditunjuk dengan satu jari. Rasa nyerinya dapat menjalar ke lengan kiri, leher, rahang, atau punggung,” jelasnya.

Keluhan tersebut umumnya disertai gejala lain seperti sesak napas, keringat dingin, pusing, mual, bahkan hingga pingsan.

Nyeri dada akibat jantung sering muncul saat beraktivitas atau mengalami stres, dan tidak membaik meski sudah mengonsumsi obat lambung.

Perbedaan dengan Nyeri Lambung

Sementara itu, gangguan lambung seperti gastritis dan gastroesophageal reflux disease (GERD) biasanya menimbulkan nyeri di ulu hati, perut terasa kembung, sering bersendawa, serta rasa perih atau terbakar di dada.

“Nyeri lambung umumnya berkaitan dengan pola makan dan sering kali membaik setelah pasien beristirahat atau mengonsumsi obat lambung,” kata dr Hidayanto.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa masyarakat tetap perlu berhati-hati. Apabila nyeri dada tidak kunjung membaik, muncul saat aktivitas, atau disertai sesak napas dan keringat dingin, pemeriksaan medis tidak boleh ditunda.

Jangan Tunda ke Rumah Sakit

“Jika nyeri dada muncul saat aktivitas atau stres dan tidak membaik dengan obat lambung, masyarakat sebaiknya segera memeriksakan diri ke rumah sakit,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa keterlambatan penanganan penyakit jantung dapat berakibat fatal. Penanganan cepat dan tepat menjadi kunci utama untuk menyelamatkan nyawa pasien.

Kelompok Berisiko Tinggi

RSUD Genteng mencatat bahwa lansia, penderita diabetes, hipertensi, serta perokok memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit jantung.

Kelompok ini diimbau untuk lebih peka terhadap gejala awal dan rutin melakukan pemeriksaan kesehatan.

Sebagai upaya pencegahan, RSUD Genteng terus menggencarkan edukasi kesehatan kepada masyarakat, khususnya terkait penyakit tidak menular seperti penyakit jantung.

Rumah sakit juga mendorong penerapan pola hidup sehat, mulai dari menjaga pola makan, rutin berolahraga, berhenti merokok, hingga melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gejala penyakit jantung, diharapkan kasus keterlambatan penanganan dapat ditekan, sehingga angka kesakitan dan kematian akibat penyakit jantung dapat diminimalkan. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#nyeri dada #rsud genteng #penyakit jantung