Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Teropong Jiwa Puskesmas Gitik, Inovasi Pulihkan ODGJ hingga Berdaya dan Bebas Pasung

Syaifuddin Mahmud • Kamis, 29 Januari 2026 | 05:00 WIB

Koordinator Inovasi Teropong Jiwa Eko Budi Cahyono mendampingi kliennya yang diberdayakan membuat kue di wilayah kerja Puskesmas Gitik.
Koordinator Inovasi Teropong Jiwa Eko Budi Cahyono mendampingi kliennya yang diberdayakan membuat kue di wilayah kerja Puskesmas Gitik.

RADARBANYUWANGI.ID - Beragam inovasi pelayanan kesehatan terus lahir dari Puskesmas Gitik, Banyuwangi.

Di antara berbagai terobosan tersebut, Inovasi Teropong Jiwa (Terapi Okupasi dan Pemberdayaan Orang dengan Gangguan Jiwa) menjadi program yang paling menonjol dan berdampak luas bagi masyarakat.

Inovasi yang digagas sejak 2017 ini membuktikan bahwa orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) bukan untuk dikucilkan, melainkan dapat dipulihkan, diberdayakan, dan kembali produktif melalui pendampingan yang tepat.

Hingga kini, puluhan ODGJ di wilayah kerja Puskesmas Gitik berhasil pulih dan menjalani kehidupan sosial secara lebih mandiri.

Sebelum Teropong Jiwa hadir, persoalan kesehatan jiwa di wilayah kerja Puskesmas Gitik tergolong memprihatinkan.

Tercatat ada tujuh kasus pemasungan, angka kekambuhan mencapai 37 kasus, serta tiga kasus perceraian yang dipicu kondisi gangguan jiwa. Namun perlahan, kondisi tersebut berubah drastis.

“Setelah inovasi Teropong Jiwa berjalan, kasus pasung menjadi nihil, kekambuhan turun menjadi nol, begitu pula perceraian ODGJ yang sebelumnya tercatat tiga kasus kini tidak ada lagi,” ungkap Kepala Puskesmas Gitik drg Ai Nurul Hidayah, didampingi Koordinator Kesehatan Jiwa Masyarakat Puskesmas Gitik, Eko Budi Cahyono.

Tak hanya itu, aspek produktivitas juga menunjukkan hasil signifikan. Dari 54 ODGJ yang sebelumnya tidak bekerja, kini 27 orang telah memiliki pekerjaan setelah menjalani terapi.

Rujukan kasus gangguan jiwa yang sebelumnya mencapai 13 kasus pun kini menjadi nol.

“Value dari inovasi ini adalah ODGJ bisa berdaya, perceraian dapat dicegah, kota menjadi lebih tertata tanpa ODGJ terlantar, dan kepedulian masyarakat dapat dibangun,” jelas drg Ai Nurul Hidayah.

Untuk mewujudkan Teropong Jiwa, Puskesmas Gitik membentuk Pusat Pelatihan Keterampilan (Poli Kesat) sebagai wadah pembinaan dan pengembangan kemampuan ODGJ.

Di tempat ini, para pasien mendapatkan terapi okupasi berupa pelatihan keterampilan, mulai dari kesenian hingga aktivitas kerja produktif.

ODGJ yang telah stabil dan rutin mengonsumsi obat diberikan kesempatan menjalani aktivitas kerja nyata.

Mereka dilatih membuat kue kering, kerajinan tangan, hingga jasa pijat, bekerja sama dengan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar wilayah Gitik.

Model pemberdayaan ini dinilai efektif meningkatkan rasa percaya diri pasien sekaligus menekan risiko kekambuhan.

Selain itu, pendekatan tersebut juga perlahan mengikis stigma negatif terhadap ODGJ di tengah masyarakat.

“Pasien juga mendapatkan penghasilan dari aktivitas produktif. Ini sangat berpengaruh pada motivasi mereka untuk kembali bergaul dan diterima di lingkungan sosial,” ujar Eko Budi Cahyono.

Lebih jauh, Eko menyebut program ini telah mengubah sudut pandang masyarakat terhadap ODGJ.

Jika sebelumnya dipandang sebagai beban dan kerap dikucilkan, kini mereka justru dilihat sebagai individu yang mampu berkarya dan berkontribusi.

Berkat dampak positif yang dirasakan, Inovasi Teropong Jiwa kini telah direplikasi di seluruh Puskesmas di Banyuwangi, menjadikannya salah satu program unggulan layanan kesehatan jiwa berbasis komunitas di daerah.

Kerja keras tim Puskesmas Gitik juga berbuah manis melalui sederet penghargaan bergengsi. Teropong Jiwa masuk Top 25 Inovasi Terbaik dalam ajang Covablic Award dari sekitar 750 inovasi se-Indonesia.

Selain itu, inovasi ini meraih Top 99 Sinovik dalam lomba inovasi nasional yang diselenggarakan Kementerian PAN-RB.

Tak berhenti di situ, Teropong Jiwa juga dinobatkan sebagai pemenang lomba inovasi penanggulangan ODGJ terbaik oleh Kementerian Kesehatan dalam rangka Hari Kesehatan Nasional, serta meraih penghargaan sebagai inovasi terbaik Koordinator Program Kesehatan Jiwa dari Dinas Kesehatan Banyuwangi.

Dengan capaian tersebut, Puskesmas Gitik menegaskan bahwa pelayanan kesehatan jiwa yang humanis, berkelanjutan, dan berbasis pemberdayaan mampu menghadirkan perubahan nyata, tidak hanya bagi ODGJ, tetapi juga bagi wajah sosial masyarakat Banyuwangi secara keseluruhan. (aif)

Editor : Ali Sodiqin
#puskesmas gitik #Sunrise Of Java Award #teropong jiwa #bebas pasung #ODGJ