Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Isu Super Flu Merebak, Dinkes Banyuwangi Tegaskan Bukan Virus Baru dan Tak Mematikan

Fredy Rizki Manunggal • Senin, 12 Januari 2026 | 04:30 WIB

ILUSTRASI. Balita menjadi salah satu kelompok umur yang paling rentan terkena superflu.
ILUSTRASI. Balita menjadi salah satu kelompok umur yang paling rentan terkena superflu.

RADARBANYUWANGI.ID – Merebaknya isu Super Flu belakangan ini mendapat perhatian serius dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyuwangi.

Masyarakat diimbau tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat sebagai langkah pencegahan utama.

Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi Amir Hidayat menegaskan, Super Flu bukanlah virus baru dan tidak bersifat mematikan.

Penyakit tersebut merupakan hasil evolusi dari virus influenza yang selama ini sudah dikenal, yakni influenza A(H3N2) Subclade K.

“Super Flu ini bukan virus baru. Ini bagian dari evolusi virus influenza A(H3N2) yang sudah lama ada. Evolusinya disebut Subclade K dan tidak mematikan,” ujar Amir, kemarin.

62 Kasus Tercatat Secara Nasional

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, hingga akhir Desember 2025 tercatat 62 kasus influenza A(H3N2) Subclade K di Indonesia.

Kasus tersebut tersebar di delapan provinsi, dengan jumlah terbanyak ditemukan di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.

Menurut Amir, kemunculan Subclade K sebenarnya sejalan dengan dinamika virus influenza yang memang terus bermutasi. Namun, hingga saat ini belum ditemukan indikasi keganasan atau tingkat fatalitas yang tinggi.

“Ini bukan penyakit baru dan tidak perlu menimbulkan kepanikan berlebihan,” tegasnya.

Tren Global Mulai Menurun

Amir menjelaskan, sebelumnya peningkatan kasus Super Flu juga sempat terjadi secara global.

Beberapa negara di Asia seperti China, Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan Thailand pernah melaporkan lonjakan kasus.

“Namun berdasarkan laporan yang kami terima, sejak November hingga Desember 2025 tren kasus di negara-negara tersebut sudah mulai menurun,” jelasnya.

Hal ini menjadi indikator bahwa penyebaran virus masih dapat dikendalikan dengan langkah pencegahan yang tepat.

Banyuwangi Belum Terdeteksi Kasus

Untuk wilayah Indonesia, Amir menyebut kondisi secara umum masih terkendali. Temuan kasus yang ada merupakan hasil tracing dan pemantauan di daerah tertentu.

“Untuk Jawa Timur, pengambilan sampel dilakukan di Malang dan ditemukan hasil positif. Sementara Banyuwangi tidak termasuk titik pemantauan, sehingga sampai saat ini tidak ada kasus yang terdeteksi di sini,” terangnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa ketiadaan kasus bukan alasan untuk lengah.

Fasilitas Kesehatan Diminta Siaga

Dinkes Banyuwangi telah menginstruksikan seluruh fasilitas layanan kesehatan untuk meningkatkan kesiapsiagaan.

Edukasi kepada masyarakat juga terus dilakukan agar tidak salah kaprah dalam menyikapi isu Super Flu.

Amir menekankan pentingnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti mencuci tangan secara rutin, menjaga daya tahan tubuh, serta menerapkan etika batuk dan bersin.

“Kami juga mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker saat flu atau batuk, tidak mengonsumsi antibiotik tanpa anjuran dokter, dan bagi kelompok rentan dapat mempertimbangkan vaksinasi influenza,” tandasnya.

Sekolah Diminta Beri Toleransi

Selain masyarakat umum, Dinkes Banyuwangi juga meminta pihak sekolah agar lebih bijak menyikapi siswa yang mengalami gejala flu dan batuk.

“Sekolah diimbau memberi toleransi agar siswa yang sakit bisa belajar dari rumah sementara waktu. Ini penting untuk mencegah penularan,” pungkas Amir.

Dinkes Banyuwangi berharap dengan edukasi yang tepat dan kewaspadaan bersama, isu Super Flu tidak menimbulkan keresahan, sekaligus tetap menjaga kesehatan masyarakat secara menyeluruh. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#virus #kesehatan #pola hidup bersih #Super Flu