Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Mengenal Bahaya Hipotermia, Kondisi Gawat Darurat yang Kerap Mengintai Pendaki dan Wisatawan Alam

Ali Sodiqin • Senin, 5 Januari 2026 | 07:30 WIB

ILUSTRASI Hipotermia.
ILUSTRASI Hipotermia.

RADARBANYUWANGI.ID - Kasus hipotermia kembali menjadi perhatian publik seiring meningkatnya aktivitas wisata alam, khususnya pendakian gunung dan kegiatan luar ruang saat musim hujan dan cuaca dingin.

Hipotermia merupakan kondisi gawat darurat medis yang terjadi ketika suhu tubuh seseorang turun drastis hingga di bawah 35 derajat Celsius, jauh dari suhu normal tubuh manusia yang berada di kisaran 36,5–37,3 derajat Celsius.

Sebagaimana dilansir dari Alodokter, dalam kondisi hipotermia, fungsi jantung, sistem saraf, serta organ vital lainnya dapat terganggu.

Bila tidak segera mendapatkan penanganan medis, hipotermia berisiko menyebabkan gangguan pernapasan, henti jantung, hingga kematian.

Penurunan suhu tubuh biasanya terjadi akibat paparan udara atau air dingin dalam waktu lama, terlebih bila tidak disertai perlindungan pakaian yang memadai.

Saat tubuh kehilangan panas lebih cepat daripada kemampuan tubuh menghasilkan panas, risiko hipotermia pun meningkat.

Penyebab dan Faktor Risiko

Hipotermia terjadi ketika panas yang dihasilkan tubuh tidak mampu menutupi panas yang hilang. Sejumlah kondisi yang dapat memicu terjadinya hipotermia antara lain:

Meski dapat dialami siapa saja, ada kelompok yang lebih rentan mengalami hipotermia.

Di antaranya bayi, balita, dan lansia, serta orang dengan kondisi kelelahan, gangguan mental seperti demensia, atau memiliki penyakit tertentu seperti hipotiroidisme, diabetes, stroke, Parkinson, dan radang sendi.

Risiko hipotermia juga meningkat pada seseorang yang mengonsumsi alkohol, narkotika, atau obat-obatan tertentu seperti opioid, obat bius, obat penenang, dan clonidine, karena zat-zat tersebut dapat mengganggu kemampuan tubuh mengatur suhu.

Gejala Hipotermia Bertahap

Gejala hipotermia muncul secara bertahap, mulai dari ringan hingga berat, tergantung penurunan suhu tubuh.

Hipotermia ringan (32–35°C):

Hipotermia sedang (28–32°C):

Hipotermia berat (≤28°C):

Pada bayi, hipotermia ditandai dengan kulit dingin kemerahan, tubuh lemas, diam, dan enggan menyusu atau makan.

Wajib Segera ke Dokter

Hipotermia merupakan kondisi darurat yang membutuhkan penanganan cepat.

Jika menemukan seseorang dengan gejala hipotermia, segera cari pertolongan medis ke fasilitas kesehatan terdekat.

Pertolongan Pertama Hipotermia

Jika korban masih bernapas dan denyut nadi teraba, langkah awal yang dapat dilakukan antara lain:

Hindari penggunaan air panas, bantal pemanas, atau lampu pemanas karena dapat menyebabkan gangguan irama jantung.

Jika korban tidak bernapas atau denyut nadi tidak teraba, segera lakukan resusitasi jantung paru (CPR) dan hubungi tenaga medis.

Di rumah sakit, penderita hipotermia akan mendapatkan penanganan lanjutan berupa pemberian oksigen hangat, cairan infus yang dipanaskan, hingga penghangatan darah menggunakan mesin cuci darah pada kasus berat.

Komplikasi yang Mengancam Jiwa

Hipotermia yang terlambat ditangani dapat memicu komplikasi serius seperti frostbite, chilblains, trench foot, gangrene, hingga berujung pada kematian.

Langkah Pencegahan

Untuk mencegah hipotermia, masyarakat diimbau:

Sementara pada bayi dan anak-anak, pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga suhu ruangan tetap hangat, mengatur penggunaan AC, serta memakaikan pakaian tebal saat cuaca dingin.

Dengan pemahaman yang baik tentang hipotermia, masyarakat diharapkan lebih waspada dan mampu melakukan langkah pencegahan serta pertolongan awal guna meminimalkan risiko kondisi yang mengancam nyawa tersebut. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#hipotermia #penurunan suhu tubuh