RADARBANYUWANGI.ID - Setelah dunia perlahan bangkit dari pandemi Covid-19, kini perhatian publik kembali tertuju pada munculnya istilah “superflu”, sebutan awam untuk lonjakan kasus influenza yang belakangan banyak dilaporkan di Amerika Serikat dan sejumlah negara lain.
Fenomena ini memunculkan kekhawatiran baru, meski para ahli menegaskan bahwa superflu bukan istilah medis resmi, melainkan istilah populer untuk menggambarkan infeksi influenza yang dinilai lebih agresif dari flu musiman biasa.
Istilah superflu umumnya merujuk pada virus influenza A H3N2 subclade K, yang dilaporkan menyebar cepat dan memicu gejala lebih berat.
Varian ini menjadi perhatian karena kemunculannya terjadi setelah dunia melewati masa panjang pandemi Covid-19, saat daya tahan masyarakat dan pola penyebaran penyakit pernapasan ikut berubah.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Nastiti Kaswandani Sp.A(K), mengatakan masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap meningkatnya kasus influenza penyebab infeksi saluran pernapasan akut, termasuk varian H3N2 yang kini populer disebut sebagai superflu.
“Perlu dipahami bahwa istilah ‘superflu’ ini bukan istilah medis. Namun, istilah tersebut muncul karena penularannya cepat, terutama di wilayah atau negara dengan iklim dingin,” kata Nastiti dalam diskusi bertajuk “Mengenali dan Mewaspadai Superflu” yang digelar secara daring di Jakarta, Senin.
Menurut Nastiti, penularan influenza H3N2 terjadi melalui droplet atau percikan ludah saat batuk dan bersin, serta kontak langsung dengan cairan pernapasan orang yang terinfeksi.
Karena itu, satu orang yang sakit dapat dengan mudah menularkan virus ke orang lain di sekitarnya.
“Diperkirakan satu orang bisa menularkan ke dua sampai tiga orang di sekitarnya. Bahkan, ada dugaan jumlahnya bisa lebih, meski sampai saat ini belum ada penelitian pasti yang menyebutkan angka pastinya,” ujarnya.
Muncul Usai Pandemi Covid-19
Fenomena meningkatnya kasus influenza ini dinilai berkaitan dengan fase pascapandemi Covid-19. Selama pandemi, mobilitas masyarakat terbatas dan protokol kesehatan diterapkan ketat.
Ketika pembatasan dilonggarkan, berbagai virus pernapasan kembali aktif menyebar, termasuk influenza.
Superflu sendiri merupakan bagian dari virus influenza A H3N2, khususnya varian subclade K, yang diduga menjadi penyumbang meningkatnya kasus flu di musim dingin, terutama pada periode Oktober hingga Januari atau Februari.
Berdasarkan laporan pemantauan, sekitar 200 kasus telah teridentifikasi melalui pemeriksaan genome sequencing di Amerika Serikat dan sejumlah negara di belahan bumi utara yang sedang mengalami musim dingin hingga akhir tahun.
Nastiti menjelaskan bahwa virus H3N2 dikenal memiliki tingkat evolusi yang tinggi, mudah bermutasi, serta memiliki potensi menimbulkan epidemi atau lonjakan kasus secara massal.
“Virus ini bisa menyebabkan banyak pasien jatuh sakit dan bahkan harus dirawat di rumah sakit. Dampaknya bisa memicu peningkatan kebutuhan layanan kesehatan, termasuk obat-obatan dan alat kesehatan, terutama di negara dengan musim dingin panjang,” jelasnya.
Gejala Mirip Flu Biasa, Sulit Dibedakan
Secara klinis, gejala influenza H3N2 tidak jauh berbeda dengan influenza A pada umumnya.
Penderitanya dapat mengalami demam tinggi, menggigil, sakit kepala, nyeri tenggorokan, pilek, hingga rasa tidak enak badan.
“Kalau dilihat dari gejalanya, sebenarnya mirip influenza biasa. Bahkan dokter pun tidak bisa membedakan hanya dari pemeriksaan klinis apakah ini influenza biasa atau varian tertentu,” ungkap Nastiti.
Untuk memastikan diagnosis influenza, diperlukan pemeriksaan rapid test atau swab.
Namun, untuk memastikan apakah virus tersebut merupakan H3N2 subclade K, dibutuhkan pemeriksaan lanjutan berupa genome sequencing di laboratorium dengan fasilitas canggih, seperti yang digunakan saat penanganan Covid-19.
Kelompok Rentan Perlu Waspada
Meski sejauh ini belum terbukti bahwa subclade K lebih mematikan dibanding varian influenza lain, Nastiti mengingatkan bahwa risiko keparahan tetap tinggi pada kelompok rentan.
Kelompok tersebut meliputi:
- balita dan anak kecil,
- lanjut usia,
- penderita penyakit kronis atau komorbid,
- pasien dengan penyakit jantung bawaan maupun kardiovaskular,
- penderita kanker,
- serta pasien yang mengonsumsi obat penekan sistem imun.
Pada kelompok ini, infeksi influenza dapat berkembang menjadi kondisi berat hingga membutuhkan perawatan rumah sakit.
Imunisasi Masih Jadi Kunci
Nastiti menegaskan bahwa hingga saat ini imunisasi influenza tetap menjadi langkah paling efektif untuk menurunkan risiko penularan maupun tingkat keparahan penyakit.
“Dalam berbagai laporan disebutkan bahwa kerentanan meningkat pada orang-orang yang tidak mendapatkan imunisasi influenza. Jadi vaksin influenza tetap terbukti bermanfaat untuk menurunkan risiko,” tegasnya.
Ia menambahkan, meskipun istilah superflu terdengar mengkhawatirkan, masyarakat diimbau tidak panik, namun tetap waspada dan disiplin menjaga kesehatan.
Kebiasaan hidup bersih, etika batuk, memakai masker saat sakit, serta vaksinasi menjadi langkah penting agar lonjakan kasus pasca-Covid tidak kembali membebani sistem kesehatan.
Dengan meningkatnya mobilitas dan interaksi masyarakat, kewaspadaan terhadap penyakit pernapasan menjadi kunci agar fase “pasca pandemi” tidak justru melahirkan gelombang penyakit baru yang lebih luas. (*)
Editor : Ali Sodiqin