Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kasus HIV Baru di Banyuwangi Turun Tiga Tahun Terakhir, Dinkes Genjot Edukasi Remaja dan Pencegahan ABCDE

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Sabtu, 13 Desember 2025 | 13:00 WIB

Ilustrasi HIV/AIDS.
Ilustrasi HIV/AIDS.

RADARBANYUWANGI.ID - Jumlah kasus HIV baru di Banyuwangi terus menurun dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.

Tahun ini Dinas Kesehatan mencatat ada 380 laporan kasus HIV baru. Angka tersebut jauh menurun dibandingkan data sejak tahun 2022.

Pada tahun 2022 tercatat 534 kasus HIV, 222 AIDS, dan 54 kematian. Tahun 2023 mencapai puncak dengan 544 kasus HIV dan 184 AIDS, namun angka kematian menurun menjadi 14 kasus.

Tahun 2024 tercatat 463 kasus HIV, 43 AIDS, dan 56 kematian. Meski demikian, Pemkab Banyuwangi melalui Dinas Kesehatan berupaya keras untuk bisa menekan angka tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi Amir Hidayat mengatakan, peningkatan kasus ini tidak bisa dianggap sepele.

Meski angkanya terus menurun, pihaknya berharap bisa menargetkan penurunan kasus secara signifikan. Apalagi, Banyuwangi ditargetkan bisa mencapai zero new HIV dan zero death pada tahun 2030.

“Saat ini kami tidak hanya fokus pada penanganan, tetapi juga pencegahan, terutama pada generasi muda yang berpotensi menjadi sasaran di kasus ini,” tegasnya.

Salah satunya dengan melakukan edukasi secara masif kepada kelompok pelajar. Untuk menekan penularan HIV, Dinkes terus mendorong pemahaman prinsip pencegahan ABCDE yang diberikan pada pelajar.

Abstinence berarti menunda hubungan seksual, Be faithful (setia pada pasangan), Condoms (menggunakan kondom bila berisiko), Drugs ( menjauhi narkoba), dan E berarti edukasi berkelanjutan.

"Dengan pendekatan ini diharapkan para remaja dapat membentuk perilaku sehat sejak dini sehingga bisa mencegah tertular virus HIV," kata Amir.

Selain memberikan penyuluhan, Dinkes juga juga melakukan pencegahan dengan memberikan alat kontrasepsi sebagai opsi terakhir kepada kelompok kunci seperti Orang Dengan HIV (ODHIV), Wanita Pekerja Seks (WPS), dan Lelaki Seks Lelaki (LSL).

”Sebagai opsi terakhir dalam pencegahan penularan, kami memberikan alat kontrasepsi kepada kelompok kunci seperti ODHIV, WPS, dan LSL,’’ tandas Amir.

Stigma Sosial Masih Mencengkeram di Masyarakat

Ketua DPD Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Banyuwangi Subroto mengatakan, persoalan terbesar dalam penanganan HIV di Banyuwangi bukan semata pada medis, melainkan pada stigma sosial yang masih mencengkeram kuat di masyarakat.

Menurutnya, stigma ini membuat banyak pasien atau kelompok berisiko tak berani memeriksakan diri, sehingga kasus HIV di lapangan terus berkembang layaknya fenomena gunung es.

“Hasil kajian menunjukkan stigma adalah yang terberat. Tidak mudah dilawan. Banyak yang akhirnya tidak berani periksa, sehingga fenomena gunung es semakin luas,” ujarnya.

Selain itu, banyak penderita HIV yang mendadak berhenti mengkonsumsi obat Antiretroviral (ARV) setelah merasa kondisinya membaik. Padahal obat tersebut harus dikonsumsi terus menerus.

Kondisi itulah yang akhirnya membuat angka kematian akibat HIV/AIDS masih terjadi terus menerus.

PPNI bersama dengan Pemkab Banyuwangi melalui beberapa kegiatan terus bergerak masif melalui konseling, penyuluhan, dan pendampingan.

Pasalnya, proses pengobatan HIV tidaklah mudah dan membutuhkan kedisiplinan jangka panjang.

Subroto juga mengingatkan bahwa Banyuwangi berada pada peringkat keempat daerah dengan kasus HIV yang tertinggi di Jawa Timur. Karena itu, dia menekankan pentingnya edukasi sejak dini, khususnya pada remaja.

“Setidaknya, kalau remaja kita cegah, maka pencegahan bisa dimulai dari hulu. Edukasi dini adalah kunci,” tegasnya. (fre/mg1/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#dinkes #Edukasi Remaja #banyuwangi #AIDS #HIV