Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pemkab Banyuwangi Antisipasi Problem Kesehatan Mental, Edukasi Kesehatan Mental Remaja, Hadirkan Puteri Indonesia 2025

Syaifuddin Mahmud • Sabtu, 22 November 2025 | 23:17 WIB
Bupati Ipuk Fiestiandani menyerahkan cenderamata kepada Putri Indonesia 2025 Firsta Yufi Amarta Putri di Auditorium Universitas Doktor Soekardjo, Sabtu (22/11/2025).
Bupati Ipuk Fiestiandani menyerahkan cenderamata kepada Putri Indonesia 2025 Firsta Yufi Amarta Putri di Auditorium Universitas Doktor Soekardjo, Sabtu (22/11/2025).

RADARBANYUWANGI.ID - Pemkab Banyuwangi menggelar talkshow bertema Remaja Sehati – Sehat Kini dan Nanti, Sabtu (22/11/2025).

Acara ini merupakan bagian dari rangkaian Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-61.

Kegiatan tersebut berlangsung di Auditorium Universitas Doktor Soekardjo (Unidsoe/dulu Stikes Banyuwangi).

Taklshow dihadiri ratusan peserta, mulai dari siswa SMP, SMA, SMK, MA, mahasiswa FIKKIA Unair dan Unidsoe.

Total lebih dari 600 remaja hadir mengikuti kegiatan ini.

Jalannya talkshow berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab, penyampaian pengalaman, hingga ajakan aksi sehat dari para narasumber.

Acara ini menjadi ruang aman sekaligus ruang belajar bagi ratusan remaja Banyuwangi untuk memahami bahwa kesehatan mental, yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

Pemkab Banyuwangi berharap kegiatan ini menjadi awal gerakan yang lebih besar untuk membangun Remaja Banyuwangi yang sehat, percaya diri, dan siap menghadapi masa depan.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani yang hadir dalam acara tersebut mengatakan, kesehatan remaja—baik fisik maupun mental—adalah fondasi masa depan daerah.

Bupati Ipuk berfoto bersama dengan Putri Indonesia dan peserta talkshow.
Bupati Ipuk berfoto bersama dengan Putri Indonesia dan peserta talkshow.

Menurut Bupati, masa remaja merupakan periode penuh perubahan cepat, tubuh bertumbuh, hormon meningkat, pikiran berkembang, dan emosi lebih sensitif.

“Semua ini wajar, tetapi harus didampingi. Remaja jangan dibiarkan menghadapi tekanan sendirian,” ujarnya.

Bupati juga mengingatkan bahwa tantangan kesehatan mental kini terjadi di seluruh dunia.

WHO mencatat 1 dari 7 remaja mengalami gangguan mental, sedangkan UNICEF menyebut sepertiga remaja Indonesia menghadapi stres, kecemasan, atau kesedihan berkepanjangan, namun hanya sedikit yang mencari pertolongan.

“Ini bukan masalah kecil. Ini adalah alarm bagi kita semua,” kata Bupati Ipuk.

Di Banyuwangi, data kesehatan fisik remaja juga memerlukan perhatian serius.

Sebanyak 34 persen remaja putri mengalami anemia, hasil pemeriksaan 167.981 siswa menunjukkan masalah gizi ganda (kurang gizi dan obesitas), serta gejala tekanan darah tinggi dan gula darah tinggi yang mulai muncul di usia SMP dan SMA.

“Perilaku merokok juga meningkat pada usia muda. Kita harus bersama-sama menjaga agar sekolah tetap menjadi kawasan tanpa rokok dan vape,” tegasnya.

Bupati mengajak seluruh remaja untuk saling memperhatikan dan membentuk Agen Remaja Sehat, yaitu teman sebaya yang dapat menjadi tempat bercerita, pendamping, dan pengingat untuk hidup sehat.

“Kalian adalah calon pemimpin masa depan Banyuwangi. Jaga kesehatan fisik, jaga kesehatan mental. Mulai dari minum tablet tambah darah, makan bergizi, kurangi layar HP, hindari rokok dan vape, dan bergerak aktif setiap hari,” pesan Bupati.

Kepala Dinkes Banyuwangi Amir Hidayat menjelaskan problem atau masalah kesehatan mental kini menjadi perhatian serius.

Data menunjukkan peningkatan yang cukup mengkhawatirkan dan sifatnya yang sangat krusial di tengah masyarakat.

Gangguan kesehatan mental pada remaja menjadi isu global.

World Health Organization (WHO) mencatat bahwa sebanyak satu dari tujuh anak berusia 10-19 tahun di dunia mengalami masalah kesehatan mental.

Gangguan kecemasan merupakan gangguan mental yang paling umum di kalangan remaja, diikuti oleh depresi dan ADHD.

Data UNICEF juga menunjukkan satu dari tiga remaja di Indonesia atau sekitar 15,5 juta atau 34,9 persen mengalami masalah kesehatan mental yang didominasi kecemasan dan depresi.

Berdasarkan Survei Kesehatan Mental Remaja Nasional Indonesia (I-NAMHS) tahun 2022.

Selain itu, 1 dari 20 remaja atau sekitar 2,45 juta atau 5,5 persen mengalami gangguan mental dalam 12 bulan terakhir, meskipun mayoritas tidak mencari bantuan profesional.

“Hanya 10 persen remaja di Indonesia yang rutin konsultasi ke psikolog,’’ tegas Amir.

Setelah sambutan Bupati, panggung dilanjutkan oleh Firsta Yufi Amarta Putri, Puteri Indonesia 2025.

Ia tampil sebagai narasumber utama untuk berbagi tentang self confidence, etika digital, body positivity, serta kebiasaan hidup sehat bagi remaja.

Firsta menekankan pentingnya kemampuan remaja untuk mempercayai diri sendiri di tengah derasnya tekanan sosial dan media digital.

Suasana auditorium Unidsoe penuh antusias, terutama saat beberapa remaja diberikan kesempatan bertanya langsung kepada Firsta tentang kecemasan, kepercayaan diri, body shaming, serta cara mengatasi beban akademik.

“Media sosial bisa membuat kita membandingkan diri. Padahal setiap orang punya perjalanan dan keunikan masing-masing,” katanya.

Ia mengajak remaja untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial, menjaga etika digital dalam setiap unggahan, dan tidak membiarkan komentar orang lain merusak kesehatan mental, dan yang lebih penting adalah mencintai diri apa adanya.

“Body positivity bukan berarti pasrah, tetapi menghargai tubuh, merawatnya, dan tidak membiarkan standar kecantikan palsu mengatur kebahagiaan kalian,” tegas Firsta di hadapan ratusan peserta.

Ia juga mengingatkan bahwa pola hidup sehat—makan teratur, tidur cukup, minum air putih, dan rutin bergerak—akan memperkuat baik fisik maupun kesehatan mental anak muda.

Sesi berikutnya dibawakan oleh Cinta Retsa Ferdiana, SPsi, MPsi, psikolog klinis dari Rumah Sakit Yasmin.

Cinta memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana remaja menghadapi kecemasan, tekanan akademik, masalah hubungan sosial, serta berbagai emosi yang sering muncul di usia remaja.

Ia menjelaskan bahwa remaja saat ini berhadapan dengan banyak tekanan.

Di antaranya tuntutan sekolah, persaingan prestasi, ekspektasi keluarga, hingga pengaruh media sosial.

“Wajar kalau merasa cemas, takut gagal, atau bingung menghadapi masa depan. Yang tidak wajar adalah memendam semuanya sendirian,” ujarnya.

Cinta menegaskan hal penting bagi remaja.

Kenali emosi sendiri, jangan takut dengan rasa sedih, marah atau kecewa, dan bangun hubungan sosial yang sehat.

Teman yang positif bisa menjadi pelindung terbesar kesehatan mental, dan carilah bantuan jika merasa tidak baik-baik saja.

Guru BK, orang tua atau psikolog siap mendampingi.

Ia juga memberikan tips praktis menjaga keseimbangan emosi.

Di antaranya berlatih pernapasan. manajemen waktu sekolah, mengurangi paparan layar sebelum tidur, olahraga ringan setiap hari, dan membatasi konsumsi konten negatif di media sosial.

“Tidak apa-apa tidak selalu kuat. Yang penting adalah kalian tahu harus cerita kepada siapa,” tegasnya. (aif)

Editor : Lugas Rumpakaadi
#kesehatan mental #Talkshow #remaja #banyuwangi #Sehati