RADARBANYUWANGI.ID - Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyuwangi menggelar talk show Gerakan Posyandu Aktif di pendapa Sabha Swagata Blambangan Rabu (19/11). Tokoh ahli gizi nasional, Dr. dr Tan Shot Yen, M.Hum dihadirkan sebagai narasumber talk show dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) Tahun 2025 tersebut.
Sesuai tema HKN 2025 “Mewujudkan Generasi Sehat Masa Depan Hebat”, sebanyak 217 kader posyandu beserta kepala Puskesmas se-Kabupaten Banyuwangi, Tim Pembina Posyandu Kabupaten, ketua Tim Pembina Posyandu Kecamatan, perwakilan organisasi profesi kesehatan, perwakilan perguruan tinggi kesehatan berkumpul bersama untuk mendapatkan materi mengenai tengkes (stunting), pemenuhan gizi bagi masyarakat, dan obesitas yang kerap terjadi di masyarakat.
Kegiatan ini juga diikuti secara virtual oleh ketua tim pembina posyandu desa/kelurahan, kader posyandu, tenaga kesehatan di Puskesmas, rumah sakit , klinik, dan fasilitas kesehatan (faskes) lainnya, serta mahasiswa perguruan tinggi kesehatan.
Wakil Bupati (Wabup) Mujiono hadir langsung dalam kegiatan ini. Wabup memberikan motivasi kepada para kader Posyandu. Ia menekankan bahwa posyandu adalah fondasi penting untuk mencetak generasi hebat. “Hari ini (kemarin) kita berkumpul dalam Gerakan Posyandu Aktif, sebuah gerakan untuk menguatkan Posyandu sebagai garda terdepan kesehatan masyarakat Banyuwangi karena posisinya yang berada paling dekat dengan ibu, bayi, balita, remaja, sampai lansia di setiap desa dan kelurahan,” ujarnya.
Wabup Mujiono menambahkan, gerakan ini bukan sekadar penataan ulang Posyandu, tetapi sebuah upaya strategis untuk mewujudkan “Generasi Hebat, Masa Depan Hebat” sebagaimana tema HKN ke-61 Tahun 2025. “Generasi hebat tidak lahir begitu saja. Mereka hadir dari keluarga yang sehat, ibu yang kuat, balita yang tumbuh optimal, remaja yang teredukasi, lingkungan yang bersih, dan masyarakat yang peduli. Posyandu adalah fondasi tempat semua itu dimulai,” tegasnya.
Posyandu bukan hanya menimbang balita dan imunisasi saja, imbuh Mujiono, tetapi juga membantu urusan sosial, pendidikan, perumahan, pekerjaan umum, hingga perlindungan masyarakat. "Namun saya minta Posyandu tetap fokus pada hal-hal mendasar seperti menurunkan stunting, mencegah kematian ibu dan bayi, memperbaiki gizi keluarga, dan mengendalikan penyakit tidak menular yang kini semakin banyak terjadi,” pintanya.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyuwangi Amir Hidayat menyampaikan bahwa talk show kali ini sengaja menghadirkan Dr. dr Tan Shot Yen, M.Hum selaku pemateri yang ahli di bidang gizi dan kerap memberikan masukan kepada Kementerian Kesehatan hingga ke Badan Gizi Nasional (BGN). “Kami hadirkan dokter Tan, seorang tokoh ahli gizi nasional yang harapannya bisa memberikan peningkatan kapasitas terutama bagaimana peningkatan gizi bagi balita serta bagi ibu hamil dan menyusui,” ujarnya.
Kader-kader Posyandu yang hadir mendapat pencerahan langsung oleh Dr. Tan serta saran-saran untuk peningkatan gizi, peningkatan kesehatan ibu dan anak, dan menggerakkan Posyandu menjadi semakin aktif. “Kita harapkan kader posyandu yang saat ini lebih dari 2.300 orang bisa lebih aktif dalam memberikan support di masyarakat dan garda terdepan dalam pelayanan kepada masyarakat terutama dalam hal peningkatan gizi serta kesehatan ibu dan anak,” imbuhnya.
Amir menyebutkan bahwa kegiatan ini juga termasuk salah satu upaya preventif dalam menghadapi tantangan penyakit metabolik yang meningkat, terutama di usia muda. Hal ini diketahui dari hasil pemeriksaan kesehatan gratis yang telah dilaksanakan di masyarakat. “Langkah ini menjadi upaya preventif dan promotif di Posyandu yang didukung oleh para kader untuk mencegah penyakit metabolik seperti jantung, stroke, diabetes, obesitas, dan yang lainnya. Harapannya bisa dicegah dengan upaya yang lebih efisien, yang lebih murah," imbuhnya.
Selama talk show berlangsung peserta terlihat antusias mengikuti dan bertanya kepada Dr. Tan. Menurut dokter yang merupakan seorang pakar gizi dan aktif memberikan edukasi di media sosial tersebut, edukasi ini penting diberikan kepada kader Posyandu sebagai bekal kompetensi. “Kompetensi awal yang tentu harus mereka miliki adalah kemampuan untuk menimba literasi tentang bagaimana mencegah stunting. Bukan mengobati, tapi mencegah stunting, mencegah anak-anak untuk tidak wasting, mencegah orang untuk tidak sampai jatuh ke dalam kasus malnutrisi,” ungkapnya.
Dokter Tan juga menyampaikan bahwa fokus materi yang diberikan pada talk show kali ini adalah untuk memberi pemahaman terhadap stunting hingga memberikan pembekalan dalam menghadapi permasalahan seputar kesehatan ibu dan anak di masyarakat. “Mereka jadi semakin tahu stunting itu sebetulnya apa, bagaimana cara pencegahannya, bagaimana membuat mereka juga menjadi motivator laktasi, bagaimana mereka juga bisa memperkenalkan makanan pendamping ASI yang benar serta cara menyusui yang benar,” pungkasnya. (cw5/sgt)
Editor : Sigit Hariyadi