Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

1.976 Kasus TBC Terungkap di Banyuwangi! Dinkes Gencar Tracing demi Pengobatan Gratis

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Kamis, 25 September 2025 | 11:45 WIB
Kepala Dinkes Banyuwangi Amir Hidayat.
Kepala Dinkes Banyuwangi Amir Hidayat.

RADARBANYUWANGI.ID - Penyakit Tuberkulosis (TBC) tengah menjadi salah satu atensi nasional, termasuk di Banyuwangi.

Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat, hingga September tahun ini terjadi 1.976 kasus TBC terkonfirmasi di Bumi Blambangan. Selain itu, suspek atau yang diduga kuat terpapar TBC mencapai 18.637 orang.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Banyuwangi Amir Hidayat mengatakan, lonjakan angka ini bukan semata karena peningkatan penularan, melainkan juga hasil dari intensifnya pelacakan atau surveillance yang dilakukan.

“Strategi kita sama seperti Covid-19 dulu, yakni temukan, obati sampai sembuh. Jadi setiap ada pasien positif, kita tracing kontak eratnya dan periksa dahaknya,” kata dia.

Amir menjelaskan, penemuan kasus yang membeludak justru menjadi langkah positif karena pasien bisa segera mendapatkan pengobatan sejak dini. Program pengobatan TBC berlangsung minimal enam bulan tanpa boleh terputus.

“Kalau putus di tengah jalan, pasien bisa mengalami resistensi obat. Itu lebih berbahaya karena membutuhkan obat lebih banyak dan waktu pengobatan lebih panjang,” tegasnya.

Amir menyebut, saat ini tingkat kesembuhan pasien TBC di Banyuwangi mencapai 83,7 persen. Sisanya terkendala pasien pindah domisili atau berhenti berobat.

Untuk mencegah putus pengobatan, pihaknya mendorong agar keluarga turut menjadi pengawas minum obat (PMO).

Kasus TBC pada anak juga menjadi perhatian. Tercatat ada 264 anak terkonfirmasi positif. “Biasanya penularan di anak terjadi dari anggota keluarga. Karena itu penting sekali pengobatan dikawal tuntas dan lingkungan rumah dibuat sehat,” katanya.

Selain itu, Amir menambahkan bahwa faktor lingkungan juga menjadi salah satu penyebab risiko penularan.

Rumah dengan sirkulasi udara buruk dan minim cahaya matahari pagi lebih rentan menyebarkan kuman TBC.

Untuk itu, Dinkes mendorong perbaikan sanitasi rumah, termasuk pemasangan genting kaca agar sinar UV bisa masuk.

Selain pengobatan, dukungan nutrisi juga krusial. Pasien TBC yang menjalani pengobatan memerlukan asupan gizi cukup agar obat bekerja efektif.

“Kami berkoordinasi lintas sektor, termasuk untuk membantu keluarga penderita. Misalnya dengan program tambahan susu selama enam bulan pengobatan supaya nutrisi tetap terjaga dan memaksimalkan efektivitas obat,” tambahnya.

Amir menegaskan bahwa pengobatan TBC di Banyuwangi sepenuhnya gratis melalui puskesmas dan rumah sakit pemerintah. Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak memberi stigma negatif pada penderita TBC.

“Ini penyakit menular tapi bisa disembuhkan. Dukungan keluarga dan lingkungan sangat penting agar pasien patuh berobat hingga sembuh,” tandasnya.

Lima kecamatan dengan kasus tertinggi TBC di Banyuwangi yakni Kecamatan Banyuwangi, Srono, Muncar, Kalipuro, dan Sempu.

Sedangkan dari segi usia, kasus terbanyak ada pada kelompok dewasa (39,6 persen), disusul balita (23,4 persen), dan lansia (12,9 persen). (cw5-Dalila Adinda/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#tbc #banyuwangi