RADARBANYUWANGI.ID - Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Banyuwangi sepanjang 2025 menunjukkan tren kenaikan. Sempat turun di angka 6.194 kasus pada bulan Maret, temuan kasus kembali meningkat menjadi 9.117 kasus pada Agustus.
Hingga bulan September, kasus ISPA di kalangan anak-anak dan dewasa tampaknya masih cukup banyak terjadi. Pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi, perubahan cuaca yang kerap terjadi membuat kasus seperti influensa dan batuk ikut meningkat.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan, jumlah penderita ISPA pada bulan Agustus kemarin menjadi titik tertinggi selama tahun 2025 dengan 9.117 kasus.
Plt. Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi Amir Hidayat mengatakan, ISPA dapat menyerang siapa saja, terutama anak-anak dan lansia. Amir menyebut, kelompok usia dewasa (19–59 tahun) menjadi penyumbang kasus terbesar, yakni 39,6 persen.
Disusul balita (0–<5 tahun) 23,4 persen, anak (5–<10 tahun) 13,4 persen, remaja (10–<19 tahun) 10,7 persen, dan lansia (≥60 tahun) 12,9 persen.
Jika melihat tren kenaikan pada bulan Juli dan Agustus lalu, waktunya bertepatan dengan musim hujan dan masa peralihan cuaca. Termasuk pada bulan Februari dan Mei yang juga pada masa peralihan cuaca.
“Suhu dingin dan kelembapan rendah membuat saluran napas lebih kering dan sensitif terhadap virus, sementara udara panas dan polusi udara memicu iritasi serta memperburuk kondisi pernapasan,’’ kata Amir.
Perubahan cuaca ekstrem saat musim pancaroba juga dapat meningkatkan risiko ISPA, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Risiko komplikasi seperti pneumonia pada balita dan lansia dapat memperparah angka kesakitan maupun kematian bila tidak ditangani dengan baik.
“Kelembapan tinggi, cuaca yang tidak menentu, dan daya tahan tubuh menurun menjadi pemicu peningkatan ISPA,” jelas Amir.
Karena itu Dinkes mendorong masyarakat untuk melakukan langkah preventif dengan menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan sebagai langkah awal perlindungan. Untuk menekan angka kasus, Dinkes Banyuwangi menggencarkan kampanye Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti etika batuk, cuci tangan, menjaga ventilasi rumah, dan tidak merokok di dalam rumah.
Edukasi menjaga daya tahan tubuh juga dilakukan, termasuk mengajak masyarakat mengonsumsi makanan bergizi, beristirahat cukup, dan berolahraga.
Selain itu, deteksi dini terus diperkuat melalui skrining balita dan lansia di Posyandu dan Puskesmas, yang diintegrasikan dengan kegiatan rutin seperti penimbangan balita, imunisasi, dan pemeriksaan lansia.
“Kami juga meningkatkan kapasitas Puskesmas dan Poskesdes untuk tata laksana ISPA ringan agar beban rumah sakit bisa dikurangi, serta memperkuat sistem rujukan untuk kasus berat,” terangnya.
Amir mengimbau masyarakat tetap waspada dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan bila mengalami gejala ISPA, terutama pada kelompok rentan.
juga mengatakan tentang pentingnya vaksinasi influenza dan pneumokokus sebagai perlindungan tambahan terhadap infeksi saluran pernapasan.
Dengan langkah edukasi dan pencegahan yang terus digencarkan, dia berharap masyarakat semakin peduli menjaga kesehatan diri dan lingkungan untuk melindungi keluarga dari ancaman ISPA.
“Jika langkah-langkah promotif dan preventif ini dilakukan bersama-sama, kita bisa menekan angka kasus ISPA di Banyuwangi,” tandasnya. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin