RADARBANYUWANGI.ID - Hilangnya prosesi utuh dalam paju gandrung menimbulkan kekhawatiran bagi sejumlah seniman di Banyuwangi. Salah satunya dari Komunitas Osing Pelestari Adat Tradisi (Kopat), organisasi masyarakat yang bergerak di bidang pelestarian budaya dan adat tradisi di Banyuwangi.
Mereka menyelenggarakan lomba gending repenan gandrung yang setiap tahun untuk menguri-uri tradisi repenan dalam rangkaian paju gandrung dan menjaring generasi pelantun gending gandrung.
Pada tahun ini, lomba gending repenan telah dilaksanakan pada Minggu (17/8) lalu di Warung Kemarang, Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah. Menariknya, lomba repenan kali ini terbagi dalam tiga kategori, yaitu anak-anak, wanita dewasa, dan pria dewasa.
Hal ini dilakukan agar pelestarian gandrung bisa menyentuh semua kalangan, sekaligus memberi ruang bagi generasi penerus maupun pelaku seni yang lebih senior untuk tampil.
Gelaran lomba repenan dalam rangkaian kegiatan seni budaya di Banyuwangi mendapat apresiasi tinggi dari dewan juri. Mereka menilai lomba ini bukan sekadar ajang unjuk keterampilan, tetapi juga bentuk nyata upaya pelestarian kesenian tradisional gandrung, khususnya prosesi paju gandrung yang kini mulai jarang ditampilkan secara utuh.
Salah satu dewan juri, Joko Purwosusanto, mengatakan, lomba repenan menjadi ruang penting untuk mengingatkan generasi muda pada keaslian prosesi gandrung.
“Selain untuk melestarikan kesenian gandrung, lomba repenan, untuk mencari dan menghargai generasi penerus yang mau mempelajari, mengembangkan dan melestarikan adat tradisi ngerepen gandrung,” ungkap Joko.
Ada sejumlah kriteria penilaian. Artikulasi suara (25%), terdiri kualitas suara, lafal bahasa Oseng, dan artikulasi. Laik-laik (35%) meliputi improvisasi, cengkok/legato, vibrato, dan slendro. Berikutnya harmonisasi musik (20%), terdiri tempo, dinamika. Kriteria terakhir visual (20%), terdiri penampilan, penjiwaan, dan kostum.
Menurut Joko, meski ada perbedaan kemampuan dalam teknik vokal, terutama saat membawakan laik-laik, namun semangat peserta untuk melestarikan budaya patut diapresiasi.
”Cengkok laik-laik itu tidak mudah. Tapi, saya senang melihat anak-anak muda berani mencoba. Itu tandanya mereka mau belajar mendalami ciri khas gandrung yang sebenarnya,” imbuh Joko.
Wowok Meirianto, salah satu pembina peserta sekaligus anggota Kopat, menambahkan, lomba repenan bisa menjadi sarana edukasi bagi masyarakat. Tidak hanya penari gandrung, tetapi juga sinden, pemusik, hingga penonton diajak memahami kembali nilai filosofis di balik setiap tahap paju gandrung.
“Selama ini masyarakat banyak mengenal gandrung hanya dari jejer pembuka dan paju gandrung saja. Padahal ada enam tahapan, termasuk repenan, yang memiliki makna penting. Lomba ini bisa membuka kembali wawasan masyarakat,” kata Wowok.
Kegiatan seperti ini harus terus dilakukan agar seni tradisional Banyuwangi tidak kehilangan ruh aslinya.
“Kalau tidak diwariskan, yang hilang bukan hanya tariannya, tapi juga identitas dan filosofi kehidupan yang terkandung di dalamnya. Repenan adalah warisan, dan lewat lomba ini kita sedang berusaha menghidupkan kembali memori kolektif itu,” pungkas Wowok. (cw5-Dalila Adinda/aif)
Editor : Ali Sodiqin