RADARBANYUWANGI.ID - Dewan Kesenian Blambangan (DKB) menilai pelaksanaan lomba repenan dalam rangkaian Festival Gandrung Sewu 2025 memiliki makna penting untuk mengembalikan roh pergelaran gandrung sebagaimana awal mula digelar oleh masyarakat. Menjadi gandrung bukan sekadar bisa menari dan menyanyi.
Ketua DKB Hasan Basri menyebut repenan adalah inti dari tradisi gandrung yang sarat interaksi antara seniman dengan masyarakat.
Repenan adalah ajang pamer skill sekaligus kepribadian. Menurut Hasan, sejak awal pergelaran gandrung tidak hanya sebatas tarian, namun terdiri dari rangkaian prosesi.
Mulai dari topengan yang geraknya mirip tari Jawa Timuran, dilanjutkan dengan jejeran berisi tembang-tembang klasik seperti Kodok Ngorek, Kembang Menur, Kembang Gadung, hingga Seblang Lukinto.
Setelah itu barulah masuk ke sesi repenan, yakni momentum interaktif antara gandrung dengan tamu undangan atau pemaju. Di sinilah letak keistimewaan gandrung. Repenan menjadi simbol hubungan horizontal antara seniman dengan masyarakat.
”Gandrung harus siap meladeni permintaan lagu, kadang diselingi pantun spontan, bahkan harus mampu menjaga etika sekaligus menunjukkan wibawa di depan tamu,” jelas Hasan Basri.
Ia menambahkan, repenan tidak sekadar hiburan, melainkan ruang bagi gandrung untuk unjuk kemampuan. Mulai dari penguasaan vokal, keluwesan tubuh, kepiawaian merangkai pantun, hingga kecakapan membaca situasi sosial.
Menurutnya, di masa lalu gandrung dituntut memiliki koleksi lagu yang sangat luas, bahkan hingga lagu Jawa, Madura, dan Banyuwangi klasik.
Namun, Hasan menyoroti tantangan gandrung masa kini justru terletak pada keterbatasan generasi muda dalam menguasai pakem tradisi, terutama dalam hal musik pengiring dan teknik repenan.
Karena itu, DKB bersama akademisi Prof. Novi Anoegrajekti, Ketua Himpunan Sarjana Kesusastran Indonesia, tengah menyiapkan program pelatihan khusus.
“Program pertama akan difokuskan untuk pengendang dan pemain biola. Saat ini hanya segelintir orang di Banyuwangi yang benar-benar menguasai teknik kendang untuk lagu-lagu klasik. Padahal setiap lagu punya karakter pukulan berbeda. Kalau itu hilang, ruh gandrung juga ikut hilang,” tegasnya.
DKB juga akan menggelar pelatihan khusus bagi pemaju gandrung. Para instruktur akan memberikan arahan tentang teknik menari yang elegan, sopan, tidak murahan, namun tetap menunjukkan kualitas olah tubuh dan wibawa.
“Menjadi gandrung bukan sekadar bisa menari dan menyanyi. Ada tuntutan etika, kharisma, serta kemampuan menempatkan diri. Repenan adalah ajang pamer skill sekaligus kepribadian. Itu yang ingin kita kembalikan, sebagaimana era 1950–1960-an,” pungkas Hasan. (cw5-Dalila Adinda/aif)
Editor : Ali Sodiqin