RADARBANYUWANGI.ID - Adrenalin, atau dikenal dengan istilah epinefrin adalah hormon yang diproduksi oleh kelenjar adrenal ketika tubuh menghadapi situasi stres, ketakutan atau bahaya.
Hormon ini memainkan peran penting dalam aktivasi respons "lawan atau lari", fight or flight yang bertujuan untuk menyelamatkan diri dari ancaman.
Ketika adrenalin dilepaskan ke aliran darah, sejumlah perubahan drastis terjadi dalam tubuh ialah:
Detak Jantung Meningkat
Disaat otak khususnya amigdala dan hipotalamus itu mendeteksi ancaman atau stres, maka yang terjadi adalah tubuh akan bereaksi melepas hormon adrenalin dan kortisol.
Hormon adrenalin inilah yang menjadi penyebab detak jantung berdetak lebih cepat, sehingga aliran darah oksigen dapat terpompa lebih banyak ke organ serta otot yang dibutuhkan untuk bertindah lebih cepat juga.
Saluran Udara Melebar
Adrenalin membuat saluran pernapasan atau bronkus melebar, sehingga tubuh juga dapat mengambil lebih banyak oksigen untuk memenuhi kebutuhan otot disaat harus bergerak cepat atau melawan ancaman yang datang.
Energi Dialihkan ke Otot
Hormon stres memicu pelepasan glukosa ke dalam darah, menyediakan energi instan yang dialirkan ke otot-otot utama, sehingga tubuh siap untuk beraksi secara fisik.
Dengan banyaknya oksigen dan energi, otot menjadi lebih kuat dan respon tubuh jadi lebih cepat. Itulah sebabnya seseorang bisa saja pingsan dengan cepat saat situasi darurat.
Sensasi Nyeri Ditekan
Dalam kondisi fight or flight, tubuh juga melepas endorfin, yakni hormon yang menekan sensasi nyeri.
Inilah yang membuat seseorang bisa tetap bergerak atau melarikan diri meskipun mengalami cedera, karena rasa sakit yang dirasakannya hanya diberhentikan sementara.
Sebab inilah, dalam banyak kasus kecelakaan, seperti kecelakaan sepeda motor, korban bisa bangkit dan bergerak meskipun mengalami luka yang serius.
Hormon adrenalin menunda rasa sakit dan memberi kekuatan instan untuk bertahan hidup atau meminta bantuan.
Respons tubuh ini bisa menyesatkan, korban akan merasa "baik-baik saja" padahal ada cedera internal serius.
Oleh karena itu, pemeriksaan media tetap penting, bahkan jika korban merasa tidak mengalami luka berat setelah kejadian. (*)
Editor : Agung Sedana