RADARBANYUWANGI.ID - Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyuwangi mencatat ada 2.136 orang terpapar HIV dan 641 orang lainnya sebagai penderita AIDS.
Selanjutnya, 167 orang meninggal dunia akibat virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia tersebut. Berbagai faktor ikut menjadi pendorong tingginya angka HIV/AIDS di Bumi Blambangan.
Berikut wawancara Jawa Pos Radar Banyuwangi dengan Plt Kepala Dinkes Banyuwangi Amir Hidayat.
Bagaimana kondisi perkembangan kasus HIV/AIDS terbaru di Banyuwangi?
Selama tahun 2025 hingga bulan Mei, ada 176 kasus HIV baru, 30 orang di antaranya menderita AIDS dan 10 orang meninggal dunia.
Siapa saja kelompok yang rentan terpapar HIV/AIDS?
Yang paling tinggi adalah pelanggan pekerja seks komersial (PSK). Ini fenomena baru. Biasanya lelaki suka lelaki (LSL) yang paling tinggi. Tapi sekarang pelanggan pekerja seks yang persentasenya 31,2 persen. Berikutnya LSL (23,7 persen), kemudian pasangan berisiko tinggi (16,1 persen), baru kemudian wanita pekerja seks 15,1 persen.
Apa upaya Dinkes menekan angka penularan HIV/AIDS?
Sudah ada petugas voluntary counselling and testing (VCT) di setiap puskesmas. Mereka kami sebar untuk melakukan edukasi dan testing kepada kelompok berisiko. Kami juga bekerja sama dengan NGO yang fokus menangani masalah HIV/AIDS. Tugas mereka menekan kasus dengan melakukan pencegahan dan sekaligus mendampingi jika ada pengobatan. Kami juga gencarkan program post exposure prophylaxis (PEP), yaitu perawatan darurat untuk mencegah HIV. Perawatan ini biasanya dilakukan setelah terjadinya tindakan-tindakan yang berisiko menyebabkan HIV.
Apa yang membuat kasus penularan HIV/AIDS sulit ditangani di Banyuwangi?
Perkembangan IT menjadi tantangan baru bagi kami. Peningkatan kasus HIV pada pelanggan pekerja seks sulit terdeteksi. Kemudian PSK-nya juga tidak mudah untuk ditertibkan karena mereka bekerja secara daring. Mobilitas mereka cukup tinggi. Ini yang membuat kami sulit menangani. PSK datang berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain.
Dari data yang ada, apakah sudah seluruhnya menggambarkan kondisi HIV/AIDS di Banyuwangi?
Sebenarnya belum seluruhnya. Ini seperti fenomena gunung es. Apalagi, untuk para pengguna jasa pekerja seks. Mereka ini mobile dan sulit terdeteksi. Bisa jadi data yang sudah ada ini belum seluruhnya. Berbeda dengan LSL yang ada komunitasnya. Mereka (LSL) memang terus tumbuh, tapi lebih mudah terdeteksi. Kami bisa memantau dari kelompok di medsos dan grup-grup. Artinya mereka lebih mudah dikontrol, yang sulit pengguna jasa PSK dan PSK-nya.
Seperti apa pola pengguna jasa PSK?
Mereka yang berisiko ini masuk dalam kategori ekonomi sosial menengah ke atas. Rata-rata melakukan transaksi (seksual) di hotel dan homestay. Jadi, sulit terdeteksi. Sedangkan untuk yang pengguna jasa PSK yang menengah ke bawah justru tidak masif. Yang masif yang menengah ke atas. Kami juga masih memantau eks lokalisasi. Orang-orang yang ada di sana terus kami dampingi untuk rutin periksa dan berobat.
Ke depannya, apa yang akan dilakukan Dinkes untuk mencegah semakin luasnya penyebaran HIV/AIDS?
Kami akan bekerja sama dengan PHRI (Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia). Kebanyakan pengguna jasa seks transaksinya di hotel. Kami titipkan pesan ini ke mereka supaya lebih proaktif melakukan pencegahan HIV/AIDS. Kami juga akan memperkuat sosialisasi di kampus, SMA/SMK, termasuk yang berisiko juga. Jadi, sudah kami siapkan untuk berkomunikasi dengan Kacabdin untuk melakukan edukasi menyeluruh dengan melibatkan berbagai pihak. Kampanye penggunaan kondom akan kami aktifkan lagi. Kemudian program PEP (perencanaan, evaluasi program, dan pelaporan) kami masifkan lagi.
Bagaimana dengan pengobatan pada pasien HIV/AIDS di Banyuwangi?
Kami menyediakan obat antiretroviral (ARV) secara gratis. Ada petugas di setiap puskesmas yang bertugas untuk melakukan skrining dan pengobatan. Mereka yang melakukan pengobatan, memiliki harapan hidup yang sama dengan orang sehat. Yang penting rutin melakukan terapi. (fre/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin