Radarbanyuwangi.id – Hamil merupakan kodrat alami yang hanya dimiliki wanita. Kehamilan merupakan salah satu upaya untuk meneruskan garis keturunan melalui jenjang yang disebut dengan perkawinan.
Namu ada kalanya, beberapa pasangan suami istri ini harus menunggu untuk bisa memperoleh momongan. Tidak jarang juga beberapa diantaranya termasuk kategori yang sulit untuk mendapatkan kehamilan.
Kesulitan hamil atau biasa masyarakat menyebutnya disebut dengan istilah infertilitas. Infertilitas ini merupakan suatu kondisi tidak terjadinya kehamilan usai senggama yang dilakukan pasutri tanpa kontrasepsi selama 12 bulan.
Tak dinyata 15 persen pasutri mengalami masalah infertilitas. Ini bisa disebabkan dari faktor istri sebesar 35 persen dan suami 25 persen.
Sedangkan untuk keduanya mencapai mencapai 25 persen. Dan diluar itu dimana suami istri tidak ada kelainan atau unexplained sebesar 15 persen.
Kelainan pada pihak istri biasanya disebabkan oleh saluran tuba yang buntu, edometriosis atau kista coklat, ovarium polikistik, sel telur yang kurang, hingga kelainan hormon.
Sedangkan pada pihak suami kelainan yang dialami biasanya disebabkan oleh saluran sperma yang buntu, varikokel, infeksi aray bekas infeksi, hingga antibodi antisperma.
Selain itu faktor lain kelainan juga bisa karena adanya kelainan genetik, psikis, hingga gaya hidup yang mengganggu kesuburan.
Untuk mencari solusinya, tidak semua bisa diobati secara konvesional seperti penggunaan obat-obatan, pembedahan, hingga psikoterapi.
Ada beberapa keadaan yang membutuhkan penanganan khusus. Termasuk penggunaan teknologi seperti inseminasi dan bayi tabung.
Pada inseminasi, sperma dicuci dan dipilih yang terbaik. Syarat tambahan lainnya speerma tidak jelas dan saluran tuba tidak buntu.
Harapannya terhadinya fertilisasi natural alami bisa terjadi. Hanya saja persentase keberhasilan inseminasi ini hanya 15 persen setiap kali percobaan.
Sedangkan pada bayi tabung, fertilisasi dilakukan di laboratorium in vitro fertilisasi (IVF). Dimana embrio ditanam ke dalam rahim melalui alat khusus.
Keberhasilan per percobaan untuk bayi tabung lebih tinggi dibandingkan inseminasinya. Persentasinya mencapai 50 persen setiap kali percobaan.
“Semua tergantung usia pasien dan hambatan kehamilan yang menyertainya,” ujar dr Aucky Hinting Ph.d., Sp.And pendiri RSIA Ferina Surabaya. (*)
Editor : Niklaas Andries