RadarBanyuwangi.id - Penanggulangan tuberkulosis (TBC) menjadi prioritas program kesehatan nasional pemerintah.
Bahkan, pemerintah mengaturnya melalui peraturan presiden (Perpres) nomor 67 tahun 2021. Dengan demikian, penanggulangan TBC juga menjadi prioritas Pemkab Banyuwangi.
Sepanjang tahun 2024, ditemukan sebanyak 25.840 orang terduga (suspect) TBC atau setara 122 persen target penemuan.
Dengan intensifikasi penemuan kasus, diharapkan pengobatan TBC dapat lebih cepat cepat dilakukan.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyuwangi mencatat, sampai dengan Jumat (13/12), ditemukan sebanyak 25.840 terduga TBC di Banyuwangi.
Jumlah tersebut setara dengan 122 persen dari target penemuan terduga TBC yang sebanyak 21.238.
Sedangkan untuk kasus positif TBC, ditemukan sebanyak 2.974 kasus dari target sebanyak 3.933 kasus. Dari jumlah kasus tersebut, sebanyak 2.729 TBC sensitif obat (SO) memulai pengobatan dan 51 TBC resisten obat (RO) memulai pengobatan. Untuk kasus TBC SO, sebanyak 86 persen kasus sudah dapat disembuhkan.
Plt Kepala Dinkes Banyuwangi Amir Hidayat menuturkan, pihaknya memang memaksimalkan upaya penemuan kasus.
Hal tersebut bertujuan agar pengobatan dapat dilakukan sedini mungkin. Salah satu cara yang dipakai adalah dengan melakukan skrining, terutama terhadap orang-orang yang memiliki kontak erat dengan penderita TBC.
“Kalau ada yang sampai mengalami batuk selama dua pkan langsung dironsen untuk mengetahui tertular atau tidak,” tuturnya.
Penemuan kasus ini, kata Amir, merupakan salah satu bagian dari tagline TOSS (temukan, obati sampai sembuh).
Dalam pengobatan, pihaknya menggunakan metode directly observed treatment shortcourse (DOTS).
“Pengobatannya cukup lama, membutuhkan waktu sekitar 6 bulan dan tidak boleh terputus. Kalau terputus akan resisten,” ujarnya.
Jika TBC sudah resisten obat, imbuh Amir, waktu penyembuhannya memerlukan waktu yang lebih lama, yakni sekitar 2 tahun.
Namun demikian, menurut Amir saat ini RSUD Blambangan sudah dapat melayani pengobatan TBC yang resisten obat.
“Kalau dulu harus ke Jember, sekarang di RSUD Blambangan sudah bisa melayani pengobatan TBC resisten obat. Soalnya kalau sudah resisten, pengobatan membutuhkan waktu lebih lama dan obat lebih banyak,” imbuhnya.
Amir menegaskan bahwa penanggulangan TBC memerlukan kolaborasi lintas sektor. Terutama bagi penderita dari kalangan sosial-ekonomi menengah ke bawah.
“Misalnya karena kondisi rumah yang tidak sehat dipasangi genting kaca agar ultraviolet bisa masuk. Perlu lintas sektor,” pungkasnya. (cw1/aif)
Editor : Ali Sodiqin