RadarBanyuwangi.id – Dinas Kesehatan Banyuwangi (Dinkes) Banyuwangi tak mau kecolongan terkait penyebaran penyakit infeksi akibat monkeypox virus (MPXV) atau cacar monyet.
Sejak Rabu (11/9), Dinkes menyebar imbauan dan peringatan tentang bahaya monkeypox ke sejumlah instansi di Banyuwangi.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi Amir Hidayat mengatakan, hingga saat ini belum ada temuan kasus cacar monyet di Banyuwangi.
Meski demikian, Dinkes tak ingin cacar monyet sampai menyebar ke Bumi Blambangan.
Terlebih, Amir menilai Banyuwangi merupakan wilayah dengan penduduk yang memiliki mobilitas tinggi.
”Beberapa kasus ditemukan di kota besar. Ini akibat mobilitas tinggi penduduknya, termasuk dari luar negeri. Di Banyuwangi mobilitas penduduknya cukup tinggi karena itu kami lakukan antisipasi,” tegasnya.
Menurut Amir, penularan virus monkeypox melalui hewan yang sudah terinfeksi, terutama monyet dan hewan pengerat seperti tikus.
Selain itu, cacar monyet sebagian besar juga ditularkan melalui kontak kulit ke kulit yang dekat dengan orang-orang yang memiliki lesi akibat virus.
Masa inkubasi virus (waktu dari infeksi sampai timbulnya gejala) monkeypox biasanya berkisar 6–16 hari, atau 5–21 hari.
Cara penularannya antara lain melalui kontak langsung karena cakaran dan gigitan hewan yang terinfeksi, memakan daging hewan liar yang sudah terinfeksi, dan menyentuh benda yang terkontaminasi.
Virus monkeypox bisa masuk ke dalam tubuh melalui luka yang terbuka, saluran pernapasan, maupun selaput lendir dari mata, hidung, atau mulut.
”Metode penularan dari manusia ke manusia lainnya melalui kontak langsung dengan cairan tubuh atau bahan lesi dan kontak tidak langsung dengan bahan lesi,” papar Amir.
Dinkes sudah menyebar surat edaran berisi pencegahan dan penyebaran virus cacar monyet, termasuk gejala-gejalanya.
”Kami lakukan beberapa langkah, mulai dari edukasi. Kami juga merekrut surveilans untuk mendeteksi dan menangani penyebaran virus cacar monyet di masyarakat,” jelas Amir.
Potensi penyebaran virus cacar monyet bisa terjadi di mana saja, terutama di instansi-instansi yang memiliki pegawai dengan interaksi yang cukup tinggi.
Flyer berisi pencegahan juga disebar agar masyarakat bisa membaca bahaya penyebaran virus monkeypox.
”Pencegahannya bisa dengan PHBS dan kewaspadaan jika ada orang dengan tanda-tanda tertular cacar monyet,” terang Amir.
Amir menambahkan, pencegahan sebenarnya bisa dilakukan dengan penggunaan vaksin.
Namun, harga vaksin monkeypox masih cenderung mahal. Harga per dosisnya Rp 3,5 juta.
”Kemenkes sudah mengimpor sekitar 1.000 vaksin. Untuk sementara diprioritaskan bagi nakes dan kelompok masyarakat LGBT. Banyuwangi belum mengajukan karena belum ada kasus monkeypox sampai sekarang,” tandasnya. (fre/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin