Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kisah Para Bidan Tangguh yang Bertugas di Kawasan Terluar Pesanggaran: Rajin Turun ke Lapangan, Jemput Bola ke Semua Bumil

Ayu Lestari • Kamis, 18 Juli 2024 | 05:12 WIB

LAYANI IBU HAMIL: Para bidan di wilayah terluar di Kecamatan Pesanggaran memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat.
LAYANI IBU HAMIL: Para bidan di wilayah terluar di Kecamatan Pesanggaran memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat.
Radarbanyuwangi.id - Menjadi bidan di fasilitas kesehatan daerah terluar yang memiliki akses sulit secara geografis memiliki tantangan tersendiri. Mulai kondisi geografis, infrastruktur, personel, dan banyak tantangan lainnya mengiringi tugas mereka.

Kondisi medan yang sulit bukan menjadi sesuatu yang dikeluhkan bidan, melainkan harus dihadapi dengan segala keterbatasan. Seperti para bidan yang bertugas di wilayah terluar Banyuwangi, salah satunya di Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran.

Para bidan tersebut punya kisah tersendiri dalam perjalanan melayani warga. Mereka melakukan pemeriksaan ibu hamil (bumil), lanjut usia, peningkatan gizi warga, sekaligus promosi kesehatan, dan lainnya. Banyak warga Desa Sarongan yang tinggal di kawasan hutan. Mereka menjemput bola dengan kendaraan operasional yang difasilitasi Pemkab Banyuwangi.

”Saya dan tim rutin melakukan pemeriksaan keliling, mengecek ibu hamil, mengukur status gizi balita, pos lansia, pemeriksaan golongan darah, kesehatan lingkungan, dan promosi kesehatan dijalankan hari itu juga,” tutur Misiyati, seorang bidan yang bertugas di Rumah Bersalin (RB) Sarongan yang jaraknya 2,5 jam dari pusat kota Banyuwangi.

Misiyati merupakan satu dari enam bidan yang bertugas di Rumah Bersalin Desa Sarongan. Rumah bersalin tersebut dioperasikan sejak 2022 oleh Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.

Menurut Misiyati, keberadaan rumah bersalin sangat bermanfaat karena memangkas perjalanan yang sangat panjang dibandingkan menuju Puskesmas Sumberagung yang berjarak 20 kilometer dari lokasi.

”Rumah bersalin sangat bermanfaat bagi petugas maupun warga. Warga menjadi lebih dekat, untuk petugas juga memudahkan karena semua layanan persalinan terpusat jadi satu,” ungkap Misiyati tentang rumah bersalin yang juga mendapatkan dukungan dari pemerintah Jepang tersebut.

Rumah bersalin tersebut didirikan untuk memfasilitasi penduduk yang ada di Desa Sarongan dan Kandangan, Kecamatan Pesanggaran.

Sedangkan Desa Sarongan merupakan salah satu wilayah terluar di Banyuwangi yang sebagian besar wilayahnya merupakan perkebunan. Penduduk banyak yang tinggal di tengah perkebunan.

Sebagai bidan yang bertugas di kawasan terluar, membuat Misiyati harus sering melakukan jemput bola dengan terjun ke kawasan penduduk untuk memberi layanan kesehatan.

Lama perjalanan dan kondisi geografis membuat para bidan ini harus sering keliling ke tempat-tempat pasien.

”Tiap pekan, setiap bidan pasti turun ke lapangan melakukan pemeriksaan ke warga. Selain layanan posyandu, mereka juga memberikan layanan stunting, pemeriksaan ibu hamil risiko tinggi, anak kurang gizi, dan lainnya,” jelas Misiyati.

Dia menyebut, salah satunya memberikan layanan kesehatan bagi ibu hamil yang sempat melahirkan di depan rumah bersalin dan viral beberapa waktu lalu.

Menurut Misiyati, ibu tersebut merupakan salah satu pasiennya. Yang bersangkutan merupakan pasien berisiko tinggi. Misiyati telah dua kali melakukan visitasi ke rumahnya untuk konseling dan pemeriksaan, dan telah melakukan cek darah, USG, dan lainnya.

”Hasil pemeriksaan sebelum melahirkan kondisi ibu dan bayinya baik. Waktu kelahiran bayi diperkirakan awal Agustus. Jadi persalinan maju, sehingga saat hendak melahirkan posisinya masih berada di rumah. Namun bersyukur ibu tersebut selamat, serta kondisi ibu dan anaknya sehat,” jelasnya.

Bagi Misiyati keberadaan rumah bersalin sangat bermanfaat bagi bidan dan tenaga medis lainnya yang memiliki wilayah kerja di daerah terluar.

”Pelayanan disentralkan ke rumah bersalin. Secara fasilitas lebih lengkap. Memiliki ruang rawat inap. Ada kendaraan operasional, ada mobil dan motor,” tutur Misiyati.

Demi menunjang pelayanan kesehatan di rumah bersalin, Pemkab Banyuwangi juga telah memberikan ambulans Triton serta motor KLX untuk digunakan akomodasi para petugas keliling. 

Bidan RB Sarongan lainnya, Mustotafidatuz Zuro menuturkan, tiap hari selain jam kerja mulai 07.00 hingga pukul 14.000, bidan juga dibagi dalam dua sif jaga, sore dan malam.

”Dibagi dua sif mulai pukul 14.00 hingga 20.00 malam, dan pukul 20.00 hingga 07.00 pagi,” kata bidan yang saat ini sudah diangkat menjadi PPPK tersebut.

Perempuan yang akrab disapa Fida itu mengakui, tenaga kesehatan di rumah bersalin melakukan banyak tugas. Selain bertugas di tempat, dia juga melakukan pemeriksaan keliling.

”Ya seringkali sudah jaga sore atau malam, kalau waktunya periksa poskesdes atau waktunya posyandu ya kami langsung berangkat,” pungkasnya. (aif/c1)

Editor : Niklaas Andries
#bidan #jemput bola #ibu hamil #bumil #pasien #KLX #jepang #gizi #Rumah Bersalin #Fasilitas Kesehatan #lanjut usia #kawasan terluar