Tidak hanya bertumpu pada instansi yang membidangi kesehatan, upaya pencegahan juga dilakukan lintas elemen, termasuk pihak sekolah dan pelajar.
Rabu (1/5) puluhan ruang kelas SD dan SMP di wilayah Kota Banyuwangi di-fogging oleh petugas dari Palang Merah Indonesia (PMI) Banyuwangi. Kebetulan, hari itu para siswa sekolah tengah libur.
Petugas dari PMI pun bisa leluasa melakukan pengasapan di ruang-ruang kelas dan kamar kecil sekolah. Beberapa sekolah yang menjadi sasaran fogging di antaranya SDN 4 Penganjuran dan SMPN 1 Banyuwangi.
Didampingi guru dan petugas Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), petugas PMI masuk ke ruang kelas hingga laboratorium untuk menyemprotkan insektisida. Di SMPN 1 Banyuwangi, ada sekitar 45 ruangan yang menjadi sasaran penyemprotan. Mulai kelas, perpustakaan, kantor, laboratorium, sampai kamar kecil siswa.
Hal yang sama juga dilakukan di SDN 4 Penganjuran. Ada sekitar 18 ruang kelas dan 14 kamar kecil yang disasar petugas fogging.
”Kami lakukan langkah antisipasi. Sebelum ada kasus. Apalagi, peningkatan kasus DBD sedang tinggi,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SDN 4 Penganjuran Dosi Yudha Priangga.
Dosi menuturkan, pihaknya juga telah melakukan sejumlah langkah pencegahan DBD. Mulai kegiatan Jumat bersih, piket kebersihan sebelum pembelajaran, dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
Pihaknya juga mengajukan permintaan fogging untuk memberantas nyamuk di sekitar lingkungan sekolah.
Dosi menyebut, tahun lalu ada siswanya yang meninggal dunia karena DBD. Karena tidak ingin ada kejadian serupa terulang, sekolah pun melakukan berbagai upaya pencegahan termasuk fogging.
”Kami sudah minta ke puskesmas untuk fogging. Tapi baru bisa dilakukan menunggu ada kasus dulu. Kami tidak ingin sampai ada kasus, karena itu kami minta fogging ke PMI,” imbuhnya.
Terkait kasus DBD, Dosi mengatakan saat ini belum ada temuan kasus di SDN 4 Penganjuran. Namun, sudah ada beberapa siswa yang dilaporkan mengalami demam dan sakit karena gejala tipes.
”Yang penting kita antisipasi dulu. Semua upaya kita lakukan karena tipes dan DBD ini gejalanya mirip-mirip, semoga tidak ada kasus lagi,” harapnya. (fre/sgt/c1)
Editor : Niklaas Andries