RadarBanyuwangi.id – Inovasi terus mewarnai berbagai sektor di jajaran Pemkab Banyuwangi.
Tidak terkecuali di sektor kesehatan. Kali ini, inovasi tersebut menyasar ribuan pos pelayanan terpadu (posyandu) yang tersebar di seantero Bumi Blambangan.
Layanan posyandu yang selama ini terbatas pada ibu, anak, dan warga lanjut usia (lansia), kini semakin komplet dengan tambahan layanan untuk remaja.
Artinya, posyandu di Banyuwangi kini memberikan pelayanan untuk semua usia.
Bupati Ipuk Fiestiandani meresmikan langsung program ”Posyandu Terintegrasi” tersebut.
Prosesi launching dilakukan di Pendapa Sabha Swagata Blambangan dalam rangkaian kegiatan ”Ayo ke Posyandu, Merdeka dari Stunting” pekan lalu (29/8).
Bupati Ipuk menuturkan, sebenarnya layanan untuk semua jenjang usia sudah dilakukan oleh sejumlah posyandu di kabupaten the Sunrise of Java.
”Namun, dengan diresmikan ini, semua posyandu harus melakukan layanan tersebut. Sekali buka di satu lokasi, posyandu bisa melayani semua usia. Ini adalah bagian dari upaya menyukseskan program kesehatan nasional untuk meningkatkan kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Posyandu Terintegrasi adalah program pelayanan kesehatan seluruh siklus hidup. Terdiri atas empat kategori, yakni ibu hamil dan menyusui, bayi dan balita, usia sekolah dan remaja, serta usia produktif dan usia lanjut.
”Jadi, sekarang posyandu juga melayani kesehatan remaja dan usia produktif. Karena dua kategori usia ini juga penting untuk dijaga kesehatannya,” tutur istri Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) Abdullah Azwar Anas tersebut.
Ipuk menyebut, remaja cenderung punya kebiasaan makan yang kurang baik. Hal itu bisa menyebabkan malnutrisi dan bisa berpengaruh pada konsentrasi belajar hingga menyebabkan stunting alias tengkes.
”Sedangkan untuk usia produktif, layanan yang diberikan di posyandu berupa pemeriksaan penyakit tidak menular seperti hipertensi dan gula darah. Sebab dua penyakit tersebut merupakan awal dari munculnya penyakit-penyakit lain yang lebih berat. Ini yang ingin kita cegah dengan pemeriksaan dan edukasi baik remaja dan usia produktif yang datang ke posyandu,” terang Ipuk.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyuwangi Amir Hidayat menambahkan, Posyandu Terintegrasi akan dilaksanakan oleh 2.310 posyandu se-Banyuwangi. Program ini melibatkan 13 ribu kader yang telah dibekali dengan 25 kompetensi dasar berdasar empat kategori siklus kehidupan.
Misalnya untuk kompetensi pelayanan tentang ibu hamil dan menyusui, para kader diajarkan memantau status gizi dan tekanan darah, dan masih banyak lainnya.
Kompetensi terkait bayi dan balita di antaranya edukasi pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif, Makanan Pendamping (MP) ASI, melakukan penimbangan, dan pengukuran tinggi badan.
”Berikutnya, kompetensi terkait usia sekolah dan remaja meliputi edukasi Isi Piringku yaitu komposisi makanan pokok yang harus dikonsumsi setiap hari, agar terpenuhi nutrisi harian,” kata Amir.
Selain itu, juga edukasi pencegahan anemia bagi remaja putri, hingga edukasi bahaya merokok dan obat-obatan terlarang.
Sedangkan kompetensi terkait usia produktif dan lansia, yakni melakukan skrining hipertensi dan diabetes, skrining TBC dan kepatuhan pengobatannya, edukasi Keluarga Berencana (KB), hingga skrining lanjut usia.
”Dengan bekal kompetensi tersebut, para kader diharapkan mampu melakukan pelayanan secara optimal kepada semua siklus hidup yang datang ke posyandu. Dengan layanan yang lebih lengkap ini, harapannya kunjungan warga ke posyandu semakin meningkat. Sehingga berimbas pada peningkatan taraf kesehatan warga,” pungkas Amir. (sgt/bay/c1)
Editor : Ali Sodiqin