Berdasar data Dinas Kesehatan (Dinkes), selain kasus DBD, laporan terkait demam dengue (gejala demam) juga cukup tinggi bulan ini. Yakni, mencapai 100 kasus.
Namun, untuk memastikan apakah demam tersebut disebabkan nyamuk Aedes aegypti atau tidak perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium. ”Laporan demam yang menimpa anak bulan ini sebenarnya cukup banyak. Gejala panas tinggi selama lebih dari dua hari,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Amir Hidayat.
Amir menuturkan, dari beberapa gejala demam yang dilaporkan tersebut, ada yang kemudian berkelanjutan. Sempat turun suhu di hari ketiga dan keempat, lalu naik lagi di hari kelima hingga ketujuh. Setelah dites di laboratorium, dinyatakan positif DBD.
Jika tidak segera ditangani, imbuh Amir, pasien bisa mengalami syok dan pecah pembuluh darah. ”Memang harus diperiksa untuk mengetahui. Panas bisa disebabkan tipes atau DBD. Supaya penanganannya cepat dan tepat,” tegasnya.
Menurut Amir, anomali cuaca menjadi salah satu penyebab merebaknya DBD. Banyak tempat penampungan air hujan yang terisi, namun tidak segera dibersihkan sehingga menjadi sarang nyamuk.
Karena itu, Amir meminta setiap pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) rutin seminggu sekali. PSN juga dilakukan serentak dan menyeluruh di semua wilayah untuk memutus mata rantai penyebaran nyamuk penyebab DBD. ”Seminggu sekali sudah cukup, karena masa perkembangan nyamuknya selama satu minggu. Tapi ini harus terus dilakukan, termasuk oleh masyarakat,” pintanya
Kepala Seksi (Kasi) Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Banyuwangi Achmad Yunus Setiawan menambahkan, anomali cuaca yang terjadi membuat mutasi dan penyebaran nyamuk Aedes aegypti tidak bisa ditebak dalam musim tertentu. Sebab, hujan bisa terjadi sewaktu-waktu. ”Karena itu, untuk mengatasi DBD tidak hanya cukup dengan PSN. Kita juga gunakan Gerakan Serentak (Gertak) yang surat keputusan (SK)-nya sudah dikirimkan ke beberapa instansi. Ini yang perlu dilakukan,” kata dia.
Yunus mengatakan, dari sekian kasus DBD, mayoritas menyerang anak-anak. Hanya sebagian kecil yang menyerang orang dewasa. ”Disarankan untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan (faskes) jika ada demam yang mencurigakan. Masyarakat kita harap juga berperan aktif untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan DBD,” pungkasnya. (fre/sgt/c1)
Editor : Gerda Sukarno Prayudha