Setidaknya itu tergambar di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Licin. Selain karena faktor ekonomi, pasien penderita gangguan jiwa yang masuk ke puskesmas yang satu ini dipicu tekanan dari orang terdekat, termasuk keluarga.
Kepala Puskesmas Licin Nira Ista Dewi mengungkapkan, sejauh ini Puskesmas Licin kerap disebut rumah sakit jiwa karena melayani rawat inap dan pengobatan untuk orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). ”Puskesmas lain di Banyuwangi juga mampu memberikan pengobatan ODGJ, tapi hanya dengan cara rawat jalan saja,” ujarnya.
Nira menjelaskan, pasien yang menderita penyakit gangguan jiwa namun memiliki kondisi ekonomi yang masih dalam keadaan kurang stabil, dapat diantisipasi dengan cara membuatkan surat pernyataan miskin (SPM). ”Karena obat pasien gangguan jiwa cukup mahal. Pasien juga harus kontrol paling tidak dua minggu sekali agar tetap stabil. Jadi salah satu caranya ya dengan membuatkan SPM,” tuturnya.
Nira menyebutkan, laki-laki masih mendominasi pasien gangguan kejiwaan di Puskesmas Licin. Dari berbagai peristiwa yang melatarbelakangi pasien mengalami gangguan kejiwaan, perempuan dinilai lebih siap secara mental sejak dini untuk menghadapi berbagai persoalan biologis.
”Sejak dini perempuan sudah merasakan menstruasi, berlangsung hingga usia menopause. Belum lagi mengetahui harus menyiapkan mental untuk melahirkan. Dari hal tersebut wanita lebih siap secara mental mulai saat menghadapi menstruasi, hamil, hingga ngurus anak,” ungkap alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah Surabaya itu.
Namun, terlepas dari alasan biologis antara perempuan dan laki-laki, faktor ekonomi, tekanan psikologis, dan lingkungan juga menjadi faktor lain yang menyebabkan seseorang mengalami gangguan kejiwaan. ”Karena penyakit tidak bisa ditentukan kesembuhannya. Saya harap masyarakat lebih aware dengan kesehatan mentalnya,” tandas Nira. (cw5/sgt/c1)
Editor : Gerda Sukarno Prayudha